KETIK, PACITAN – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 jenjang sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Pacitan sebagian besar sudah ditutup.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan, sedikitnya ada tiga sekolah yang kuotanya telah ludes dan jadi incaran wali murid di SPMB Pacitan.
SD Negeri Pacitan menjadi sekolah dengan jumlah pendaftar tertinggi.
Sekolah tersebut telah memenuhi kuota tiga rombongan belajar (rombel) atau sebanyak 84 siswa.
Selain itu, SDN Baleharjo juga hampir memenuhi pagu penerimaan.
Baca Juga:
Dua Ruas Jalan Strategis Pacitan Mulai Diperbaiki, PUPR Optimistis Dongkrak Mobilitas WargaHingga saat ini, sekolah tersebut hanya kekurangan tiga siswa untuk memenuhi kuota tiga rombel.
Sementara SDN Ploso juga masih menjadi salah satu sekolah favorit meski jumlah pendaftarnya belum memenuhi pagu yang telah ditetapkan.
Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Wahyono, menjelaskan bahwa ketiga sekolah tersebut merupakan satu-satunya SD yang menerapkan sistem pendaftaran secara daring pada SPMB tahun ini.
"Kalau SPMB tahun ini ada tiga sekolah dasar yang menggunakan daring, yaitu SD Pacitan, SD Baleharjo, dan SD Ploso," katanya, Kamis, 2 Juli 2026.
Baca Juga:
Duh! Gegara Jalan Rusak SDN 1 Sambong Pacitan Hanya Dapat Satu Murid BaruDi sisi lain, Wahyono mengungkapkan masih ada dua sekolah yang menghadapi tantangan besar dan masih harus berburu siswa baru.
Diantaranya, yakni SD Negeri 1 Sambong dan SD Negeri 1 Sedeng.
Hingga awal Juli 2026, kedua sekolah tersebut tercatat masing-masing baru menerima satu pendaftar.
"Untuk Pacitan yang minim ini adalah SD 1 Sambong dan SD 1 Sedeng. Sampai saat ini baru satu pendaftar di masing-masing sekolah," ujarnya.
Wahyono menjelaskan sekolah yang kuotanya telah terpenuhi tidak lagi menerima pendaftar baru.
Sebaliknya, sekolah yang belum memenuhi pagu masih diperbolehkan membuka pendaftaran hingga pertengahan tahun ajaran.
"Khusus sekolah yang belum memenuhi pagu, penerimaan masih tetap dibuka sampai pertengahan tahun ajaran sehingga masih ada kesempatan bagi masyarakat untuk mendaftar," ungkapnya.
Ditanya soal penyebab kesenjangan jumlah siswa, Wahyono menyebut, minimnya jumlah peserta didik bukan dipengaruhi kualitas sekolah, melainkan perubahan kondisi demografi di wilayah sekitar sekolah.
Ia menjelaskan jumlah pasangan usia subur yang terus menurun menyebabkan jumlah anak usia masuk sekolah dasar juga semakin sedikit.
"Faktor utamanya memang karena pasangan usia subur di sana sudah sangat sedikit. Akibatnya anak usia masuk SD juga semakin berkurang," jelasnya.
Meski demikian, Dinas Pendidikan memastikan sekolah yang kekurangan murid tidak otomatis akan ditutup ataupun digabung atau regrouping.
Pemerintah akan mempertimbangkan potensi jumlah anak usia sekolah pada tahun-tahun mendatang serta kondisi geografis masing-masing wilayah.
"Kalau siswanya memang minim tetapi jaraknya jauh dengan sekolah lain, tentu tidak serta-merta kami ajukan regrouping. Kalau dipaksakan digabung justru berpotensi menambah Anak Tidak Sekolah (ATS)," tegasnya.
Kendati begitu, Dindik tetap kembali menyiapkan regrouping tahap lanjutan setelah pelaksanaan regrouping tahun lalu dinilai berhasil.
Saat itu, sebanyak 16 sekolah digabung menjadi delapan sekolah dan kini telah beroperasi dengan baik.
"Wacana regrouping tahun 2025 sudah selesai. Sebanyak 16 sekolah menjadi delapan sekolah dan sekarang sudah operasional dengan baik," katanya.
Untuk tahun 2026, konsep regrouping kembali disiapkan dengan skema yang hampir sama.
Namun prosesnya masih dalam tahap pendataan serta koordinasi dengan berbagai pihak.(*)