KETIK, JAKARTA – Beberapa waktu lalu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami rangkaian erupsi sejak awal September 2026. Paparan abu vulkanik umumnya dapat menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, mulai dari iritasi dan batuk hingga sesak napas. Namun, masyarakat perlu lebih waspada ketika keluhan berkembang menjadi gejala yang menunjukkan gangguan pernapasan serius.

Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Ahmad Fikri Syadzali, Sp.P., menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat memicu iritasi dan inflamasi pada saluran pernapasan. Material abu yang masuk ke saluran napas juga dapat meningkatkan produksi mukus dan menyebabkan bronkokonstriksi.

“Material ini bisa mempengaruhi saluran napas. Ketika material ini kontak dengan mukosa saluran napas, dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, batuk, peningkatan produksi mukus, dan bronkokonstriksi,” jelasnya. 

Pada paparan jangka pendek, sejumlah keluhan dapat muncul setelah seseorang menghirup abu vulkanik. Gejala tersebut antara lain batuk, tenggorokan gatal atau perih, hidung berair atau tersumbat, produksi dahak meningkat, sesak napas, dan napas berbunyi atau mengi.

Tidak semua keluhan tersebut menunjukkan kondisi yang sama. Masyarakat perlu memperhatikan perubahan gejala, terutama jika gangguan pernapasan semakin berat atau tidak membaik.

Baca Juga:
Abu Vulkanik Bisa Masuk hingga Alveolus, Dokter Spesialis Ungkap Dampaknya bagi Paru-paru

Salah satu tanda bahaya yang perlu diwaspadai adalah sesak napas berat atau sesak yang semakin progresif. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian medis karena menunjukkan gangguan pernapasan yang lebih serius.

Masyarakat juga perlu memantau saturasi oksigen setelah mengalami paparan, terutama jika memiliki alat pengukur saturasi. Penurunan saturasi, khususnya apabila berada di bawah 92 persen, menjadi salah satu tanda yang perlu diwaspadai.

Tanda bahaya lainnya adalah sianosis. Kondisi tersebut dapat terlihat dari perubahan warna kulit dan bibir menjadi kebiruan.

“Apabila sudah mengalami tanda-tanda tersebut, perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan cepat dalam hal ini penting untuk mencegah kondisi pernapasan semakin buruk,” pungkas Ahmad.

Baca Juga:
Dinkes Lebak: ISPA Keluhan Terbanyak Akibat Paparan Abu Vulkanik GAK, Kelompok Rentan Diminta Waspada

Risiko gangguan akibat abu vulkanik dapat berbeda pada setiap orang. Ukuran partikel, komposisi material, konsentrasi abu, serta lamanya paparan turut memengaruhi dampak terhadap saluran pernapasan.

Partikel PM10 dapat masuk melewati saluran pernapasan atas hingga bronkus, sedangkan PM2,5 dapat mencapai bronkiolus dan alveolus. Semakin kecil partikelnya, semakin dalam material tersebut dapat masuk ke paru-paru dan semakin sulit dikeluarkan.

“Semakin kecil partikelnya semakin dalam penetrasinya. Hal ini juga menyebabkan semakin sulit untuk dikeluarkan,” tuturnya.

Risiko juga lebih besar pada kelompok tertentu, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit respirasi atau kardiovaskular. Kelompok tersebut perlu mendapat perhatian lebih ketika berada di wilayah yang mengalami hujan abu.

“Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit respirasi atau kardiovaskular sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih,” ujarnya.

Selain mengenali tanda bahaya, masyarakat perlu mencegah paparan sejak awal. Ketika hujan abu berlangsung, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95.

Masyarakat juga perlu menggunakan kacamata pelindung, menghindari berkendara ketika hujan abu berlangsung berat, serta menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah. Tubuh dan pakaian juga perlu dibersihkan setelah terpapar, sementara makanan dan air harus tetap terlindungi dari kontaminasi abu vulkanik.

Dengan mengenali dampak abu vulkanik terhadap paru-paru, masyarakat dapat lebih memahami mengapa perlindungan pernapasan diperlukan selama hujan abu. Langkah pencegahan seperti membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, dan menjaga rumah tetap terlindung juga penting untuk mengurangi jumlah abu yang terhirup. (*)