KETIK, BATU – Desain toga yang dinilai mirip kostum Bantengan, calon wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berharap pihak kampus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap toga baru yang mulai diberlakukan pada Wisuda ke-122 karena dinilai tidak sesuai dengan desain awal.

Alih-alih memberikan kesan elegan saat prosesi wisuda, hasil akhir toga justru menuai kritik. Kombinasi warna hitam, merah terang, dan kuning yang digunakan dianggap berbeda jauh dengan desain awal yang menampilkan perpaduan hitam, merah marun, dan abu-abu.

Perbedaan tersebut memicu berbagai komentar di media sosial, bahkan banyak yang menyebut tampilannya menyerupai kostum kesenian bantengan atau “mberot”.

Salah seorang calon wisudawan UMM yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa setelah menerima toga baru tersebut.

Desain awal toga UMM yang ada di edaran calon wisudawan. (Foto: tangkapan layar)

Baca Juga:
Bukan Tuai Pujian, Warganet Sebut Toga Baru UMM Malah Mirip Bantengan

Menurutnya, warna pada toga yang diterima jauh berbeda dengan konsep desain yang sebelumnya ditampilkan kepada mahasiswa.

“Saya kecewa karena hasilnya jauh berbeda dari desain awal. Awalnya warna yang ditampilkan marun dan abu-abu, tetapi yang diterima justru merah terang dan kuning menyala,” ujarnya, Sabtu, 4 Juli 2026.

Ia menilai anggapan warganet yang menyebut toga baru menyerupai kostum bantengan bukan sekadar candaan.

“Kalau melihat hasil jadinya, memang benar seperti yang ramai di TikTok. Tampilannya malah mirip kostum bantengan,” katanya.

Baca Juga:
Marak Siswa Ditahan karena Tunggakan, Guru Besar UMM: Dampaknya Bisa Merusak Psikologis

Selain perubahan desain, calon wisudawan juga menyoroti kebijakan baru mengenai kepemilikan toga.

Jika pada wisuda sebelumnya toga menggunakan sistem sewa dengan uang deposit yang dikembalikan setelah perlengkapan dikembalikan dalam kondisi baik, kini wisudawan diwajibkan membeli toga seharga Rp225 ribu.

“Dulu sistemnya menyewa. Mahasiswa membayar deposit Rp500 ribu, uangnya dikembalikan kalau toga dan seluruh aksesorinya dikembalikan tanpa kerusakan. Sekarang kebijakannya berubah menjadi wajib membeli toga seharga Rp225 ribu,” jelasnya.

Meski menerima perubahan sistem tersebut, ia berharap kualitas produk yang diterima benar-benar sesuai dengan konsep yang telah dipublikasikan. Menurutnya, kampus perlu memperketat proses pengawasan sebelum toga diproduksi secara massal.

“Karena hasil toganya tidak sesuai dengan desain awal, saya berharap ke depan ada quality control yang lebih baik. Kalau bisa, toga untuk wisudawan berikutnya benar-benar sesuai dengan desain yang diperlihatkan dan menggunakan bahan yang kualitasnya lebih baik,” harapnya.

Kritik serupa juga ramai bermunculan di media sosial. Salah satu warganet mengaku kecewa karena telah mempersiapkan penampilan wisuda, namun desain toga justru dianggap mengurangi nilai estetika.

“Kesell duh, padahal udah mengusahakan kebaya se-aesthetic mungkin, kenapa toganya malah kaya bantengan,” tulis akun @ar***.

Sejumlah warganet juga mempertanyakan perbedaan antara desain awal dengan produk yang diterima wisudawan. Mereka menilai masalah utama terletak pada pemilihan warna dan bahan kain yang digunakan.

Akun @ra*** menyoroti munculnya warna kuning pada toga yang menurutnya tidak terdapat dalam desain awal. “Masalahnya di desain gada warna kuningnya.”

Sementara itu, akun @l*** menilai konsep desain sebenarnya sudah cukup baik, tetapi hasil akhirnya berubah karena pemilihan material.

“Desain e udah bagus tapi karena bahan kainnya ga sih jadi hasil e gitu (Desainnya Sudah Bagus, tapi karena bahan kainnya gak sih, jadi hasilnya gitu),” komentarnya.

Bahkan, ada pula warganet yang secara terbuka meminta pihak kampus melakukan revisi terhadap desain toga tersebut.

“Ga hanya skripsi aja yang bisa direvisi, ini juga harus direvisi warnanya please,” tulis akun @an***.

Sebelumnya, melalui edaran dari Biro Kemahasiswaan dan Alumni, UMM menjelaskan pergantian toga dilakukan karena perlengkapan wisuda yang selama ini digunakan sudah banyak yang tidak layak, sehingga dibuat desain baru yang menjadi milik masing-masing wisudawan agar lebih nyaman digunakan.

Dalam kebijakan tersebut, toga lengkap dijual seharga Rp225 ribu. Sementara mahasiswa yang sebelumnya telah membayar deposit sebesar Rp500 ribu akan menerima pengembalian dana sebesar Rp275 ribu melalui Biro Keuangan.