KETIK, PEMALANG – Puluhan relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pemalang mengikuti gladi kotor simulasi penanganan bencana alam di Lapangan Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Minggu, 17 Mei 2026.
Kegiatan yang digelar Kementerian Sosial RI tersebut menjadi bagian penguatan kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat di wilayah rawan bencana.
Ketua Tagana Kabupaten Pemalang, Ria Kurniawan mengatakan simulasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari pelatihan penanganan bencana yang sebelumnya diberikan oleh Kementerian Sosial dan BPBD.
“Hari ini kegiatannya adalah pembelajaran yang dilanjutkan dengan simulasi mengenai langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan apabila nanti terjadi bencana,” kata Ria.
Menurutnya, berbagai materi pelatihan yang diberikan, mulai dari direktori SOP, mapping potensi bencana hingga langkah mitigasi, dinilai sangat membantu relawan dalam memahami karakteristik ancaman bencana di wilayah Kecamatan Pulosari.
Baca Juga:
Kemensos Gelar Pelatihan KSB dan Tagana Masuk Sekolah di Pulosari PemalangIa menyebut, pendekatan penanganan bencana berbasis masyarakat menjadi langkah strategis karena warga dinilai menjadi pihak pertama yang menghadapi situasi darurat saat bencana terjadi.
Dalam kegiatan tersebut, Tagana juga merekrut sebanyak 60 anggota baru yang dijadwalkan dikukuhkan oleh Bupati Pemalang di Pendopo Kabupaten Pemalang pada Senin ini.
Ria turut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Sosial Republik Indonesia yang dinilai cepat merespons kebutuhan penguatan mitigasi bencana di Kabupaten Pemalang.
Ia menjelaskan, sejumlah Kampung Siaga Bencana (KSB) yang telah terbentuk di Kabupaten Pemalang berada di Kecamatan Watukumpul, Ulujami dan Pulosari.
Baca Juga:
Kemensos Bentuk Kampung Siaga Bencana di Penakir Pemalang, Warga Dilatih MitigasiKhusus wilayah Pulosari, kata dia, memiliki potensi bencana yang cukup kompleks. Selain ancaman erupsi gunung, wilayah tersebut juga berpotensi mengalami banjir bandang, kekeringan hingga puting beliung.
“Setelah dilakukan assessment ternyata di Pulosari sangat komplet. Ada erupsi, banjir bandang, kekeringan dan puting beliung,” jelasnya.
Melalui simulasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami langkah penanganan darurat saat terjadi bencana, mulai dari proses evakuasi hingga penanganan pengungsi.
Menurut Ria, masyarakat setempat sebenarnya telah memiliki kearifan lokal dalam melakukan evakuasi mandiri menggunakan peralatan sederhana.
Ke depan, pihaknya juga akan memperkuat jalur evakuasi dan penentuan titik kumpul aman bagi warga.
“Masyarakat diharapkan sudah terlatih karena berbasis masyarakat. Mereka bisa melakukan langkah-langkah sampai evakuasi, shelter hingga pendampingan psikososial,” pungkasnya.(*)