KETIK, JAKARTA – Ada kabar cukup mengejutkan buat dunia pendidikan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mulai pasang ancang-ancang serius untuk membereskan masalah lulusan kuliah yang enggak nyambung dengan dunia kerja.
Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, memberikan sinyal bakal ada aksi "bersih-bersih". Pemerintah berencana untuk memilah, memilih, bahkan menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dianggap sudah enggak relevan lagi dengan kebutuhan industri masa depan.
Dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026 di Bali, Kamis, 23 April 2026, Badri blak-blakan menyebut langkah ini sebagai strategi memangkas angka pengangguran terdidik yang masih tinggi. Data kementerian menunjukkan bahwa setiap tahunnya, kampus-kampus di Indonesia meluluskan hingga 1,9 juta sarjana dan diploma, namun banyak di antaranya kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kompetensi yang tidak sesuai.
Sebagai contoh konkret, Badri menyoroti surplus lulusan di bidang kependidikan. Menurutnya, setiap tahun terdapat sekitar 490.000 lulusan keguruan, sementara kebutuhan pasar hanya berkisar di angka 20.000 orang. Ketimpangan yang masif ini menjadi salah satu alasan utama perlunya evaluasi mendalam terhadap jumlah dan relevansi prodi yang dibuka oleh kampus.
Meskipun demikian, Kemendiktisaintek menegaskan kalau penutupan prodi sebenarnya adalah jalan paling terakhir. Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan standar mutu dan kontribusi terhadap pembangunan nasional.
Baca Juga:
Kemendiktisaintek: 60 Kampus dan 18 Ribu Lebih Mahasiswa Jadi Korban Bencana SumateraBadri pun meminta para rektor untuk memiliki "kerelaan hati" dalam melakukan kajian mandiri dan menyesuaikan kurikulum agar lulusannya benar-benar terserap oleh industri.(*)