KETIK, PACITAN – Di bawah rindangnya pepohonan di depan Pasar Minulyo Pacitan, puluhan bendera Merah Putih dan umbul-umbul berjajar rapi, berkibar mengikuti hembusan angin siang. 

Di tengah lautan warna merah dan putih itu, seorang pria paruh baya tampak sibuk melayani calon pembeli yang sesekali berhenti di tepi jalan.

Pria itu adalah Jajat Gorden (61), perantau asal Garut, Jawa Barat, yang telah menetap di Kabupaten Pacitan selama 26 tahun terakhir. 

Warga mengenalnya sebagai penjual gorden di dalam Pasar Minulyo. 

Namun, setiap memasuki bulan Juli hingga Agustus, Jajat selalu memiliki rutinitas yang berbeda.

Baca Juga:
Ditandai Pelepasan Ratusan Tukik, Gelar Peralatan Jatim 2026 di Pancer Door Pacitan Dibuka

Ia menjual bendera dan umbul-umbul untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.

"Kalau sehari-hari saya jualan gorden di Pasar Minulyo. Kalau sudah musim Agustusan seperti ini, ya jualan bendera sama umbul-umbul," kata Jajat saat ditemui Ketik.com di lapaknya, Selasa, 21 Juli 2026.

Jajat mengaku seluruh barang dagangannya didatangkan langsung dari kampung halamannya di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. 

Ia bahkan menjadi orang pertama yang berangkat ke Pacitan untuk membuka lapak, sebelum anggota keluarganya menyusul beberapa hari kemudian.

Baca Juga:
Kemarau Mulai Berdampak di Pacitan, 0,1 Hektare Sawah di Cangkring Terancam Puso

"Produknya langsung dari pabriknya. Saya duluan datang ke sini, nanti tanggal 25 Juli saudara dan rombongan baru menyusul," ujarnya.

Meski sudah membuka lapak sejak pertengahan Juli, suasana penjualan masih belum terlalu ramai. 

Dalam sehari, Jajat terkadang hanya berhasil menjual satu atau dua bendera.

"Masih sepi. Paling satu atau dua yang beli. Ya lumayan buat jajan cucu," ucapnya sambil tersenyum.

Namun, pengalaman puluhan tahun membuatnya hafal betul siklus penjualan setiap musim kemerdekaan. 

Menurutnya, puncak pembelian biasanya dimulai menjelang akhir Juli.

"Biasanya mulai tanggal 27 Juli sudah ramai. Paling ramai itu tanggal 1 sampai 15 Agustus," katanya.

Umbul-umbul HUT RI yang di jajakan oleh Jajat di depan Pasar Minulyo Pacitan, berharap dilarisi pengendara yang melintas.

Selama bertahun-tahun, Jajat tetap memilih membuka lapak di lokasi yang sama, tepat di depan Pasar Minulyo. 

Baginya, tempat tersebut bukan sekadar lokasi berdagang, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di Pacitan.

"Kalau saya di sini terus setiap tahun. Ada yang jualan di Punung dan lainnya, tapi saya tetap di depan Pasar Minulyo," tuturnya.

Ia juga melihat perubahan tren masyarakat dalam memilih pernak-pernik kemerdekaan. 

Jika dahulu umbul-umbul berukuran kecil lebih diminati, kini justru ukuran besar yang paling banyak dicari.

Harga yang ditawarkan pun cukup beragam. 

Bendera ukuran 1,5 meter dijual Rp30 ribu hingga Rp35 ribu, ukuran 1,2 meter Rp20 ribu sampai Rp25 ribu, sedangkan ukuran 90 sentimeter dibanderol Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. 

Untuk umbul-umbul berukuran besar, harganya mencapai Rp65 ribu per buah.

"Kalau dulu yang kecil-kecil paling laris. Sekarang yang besar buat dipasang di depan rumah atau kantor yang lebih banyak dicari," jelasnya.

Momentum Agustusan pun menjadi berkah tersendiri bagi Jajat. 

Jika dalam kesehariannya ia mengandalkan penjualan gorden, maka musim kemerdekaan menjadi tambahan penghasilan yang cukup menjanjikan.

"Kalau satu musim Agustusan, ya bisa dapat untung sekitar Rp5 juta sampai Rp6 juta," ungkapnya.

Nominal tersebut mungkin tidak seberapa bagi sebagian orang. 

Namun, bagi Jajat, hasil itu menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus bukti bahwa semangat kemerdekaan selalu membawa rezeki.

Setelah lebih dari seperempat abad menetap di Pacitan, Jajat mengaku telah menganggap daerah ini sebagai rumah keduanya. 

Setiap tahun, ia menjadi saksi bagaimana semangat nasionalisme tumbuh melalui kibaran Merah Putih yang dipasang di depan rumah, kantor, hingga jalan-jalan desa.(*)