KETIK, JAKARTA – Sulit tidur atau sering terbangun pada malam hari tidak selalu menunjukkan tubuh kekurangan magnesium. Kondisi tersebut dapat muncul akibat berbagai faktor yang memengaruhi kerja otak, sistem saraf, kebiasaan sehari-hari, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yunita Aryani, MSi, MH, menjelaskan bahwa magnesium memang berperan dalam sejumlah proses yang berkaitan dengan tidur. Namun, masyarakat tidak bisa menjadikan gangguan tidur sebagai tanda pasti bahwa asupan magnesium tubuh tidak mencukupi.

Salah satu kondisi yang dapat mengganggu proses tidur adalah hyperarousal. Dalam kondisi ini, tubuh sudah merasa lelah, tetapi otak dan sistem saraf tetap aktif sehingga mekanisme untuk memasuki tidur tidak bekerja secara optimal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa seseorang dapat mengalami kesulitan tidur meskipun penyebabnya bukan kekurangan magnesium.

 

Baca Juga:
Beras Fortifikasi Itu Apa? Fakta Kandungan Vitamin dan Mineral di Dalamnya

Banyak Faktor Bisa Mengganggu Tidur

Dr Yunita menjelaskan bahwa gangguan tidur dapat dipicu oleh berbagai faktor. Stres, kecemasan, dan overthinking dapat membuat pikiran tetap aktif ketika tubuh seharusnya mulai beristirahat.

Kebiasaan menggunakan gawai hingga larut malam juga dapat mengganggu waktu tidur. Begitu pula jadwal tidur yang berubah-ubah dan kondisi kamar dengan cahaya terlalu terang.

Pola konsumsi juga perlu diperhatikan. Kopi, teh pekat, minuman energi, dan nikotin dapat memengaruhi kualitas tidur sehingga seseorang lebih sulit beristirahat atau mudah terbangun.

Baca Juga:
Benarkah Magnesium Bisa Bikin Tidur Lebih Berkualitas? Ini Fakta Ilmiahnya

Selain faktor kebiasaan, kondisi medis tertentu juga dapat berperan. Faktor hormonal, penyakit tertentu, penggunaan obat-obatan, serta gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea dan restless legs syndrome dapat memengaruhi kualitas tidur.

Dengan banyaknya kemungkinan penyebab tersebut, seseorang sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa gangguan tidur terjadi karena kekurangan magnesium.

 

Magnesium Memang Berperan, tetapi Bukan Satu-satunya Faktor

Dr Yunita mengatakan magnesium membantu mengatur aktivitas saraf, relaksasi otot, serta ritme tidur-bangun. Mineral tersebut juga mendukung kerja GABA, pengaturan kalsium dan kalium, serta jalur yang berkaitan dengan ritme sirkadian dan melatonin.

“Magnesium membantu mengatur aktivitas saraf, relaksasi otot, serta ritme tidur-bangun. Tetapi magnesium bukan satu-satunya mineral yang mendukung kualitas tidur,” ujar dr Yunita.

Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara asupan magnesium yang lebih tinggi dan kualitas tidur yang lebih baik. Namun, temuan tersebut belum membuktikan bahwa konsumsi magnesium secara langsung menyebabkan kualitas tidur membaik.

Karena itu, penggunaan suplemen magnesium tidak seharusnya menjadi satu-satunya langkah ketika seseorang mengalami gangguan tidur. Masyarakat juga perlu memperhatikan pola tidur, aktivitas fisik, asupan makanan, serta faktor lain yang mungkin menjadi penyebab.

Upaya memperbaiki tidur pada akhirnya perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Pendekatan yang lebih menyeluruh dapat membantu seseorang bukan hanya mendapatkan waktu tidur yang lebih baik, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup. (*)