KETIK, PASURUAN – Perusahaan tembakau asal Korea Selatan, KT&G (Korea Tomorrow & Global) resmi mengoperasikan dua pabrik rokok di Indonesia, tepatnya di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Kehadiran fasilitas baru tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri pendukung dan aktivitas logistik di kawasan PIER.
Ekspansi tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas produksi KT&G di Indonesia. Sekaligus menopang kebutuhan pasar global dengan investasi sekitar US$453 juta atau setara Rp6,9 triliun.
Dengan beroperasinya dua pabrik baru tersebut, kapasitas produksi KT&G di Indonesia diperkirakan meningkat menjadi sekitar 35 miliar batang per tahun, dari sebelumnya sekitar 14 miliar batang.
Tak hanya itu, ekspansi KT&G di PIER juga memberikan dampak sumber daya manusia. Hingga saat ini, KT&G telah menyerap 459 pekerja lokal untuk dipekerjakan. Pembangunan pabrik ini diperkirakan mampu menciptakan sekitar 1.130 lapangan pekerjaan.
Baca Juga:
UMK Jatim 2027 Belum Ditetapkan, Pemprov Tunggu Arahan Pemerintah PusatPeresmian pabrik dihadiri oleh CEO KT&G Bang Kyung Man, Duta Besar Korea Selatan Indonesia Yoon Soon Gu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, serta Wakil Bupati Pasuruan Shobih Asriri.
Jajaran Direksi PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) selaku pengelola kawasan PIER juga turut menghadiri peresmian ini, mulai dari Direktur Utama Alif Abadi, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Jefri Ikhwan Maarif, hingga Direktur Operasi Yohanes Deddy Setiawan.
CEO KT&G Bang Kyung Man memperjelas bahwa peresmian dua pabrik baru tersebut merupakan bentuk pemenuhan komitmen perusahaan kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia.
“Hari ini kami menepati janji kami kepada pemerintah dan masyarakat dengan meresmikan pabrik kedua dan ketiga KT&G di PIER,” tutur Bang Kyun.
Baca Juga:
Kawal Pembangunan Daerah, Sekdaprov Jatim Dorong Sinergi Eksekutif-LegislatifMenurut Bang, keberadaan pabrik tidak semata-mata berkaitan dengan mesin, peralatan, maupun kapasitas produksi. Namun, juga harus memberikan ruang bagi manusia dan masyarakat untuk tumbuh bersama.
“Bagi kami, pabrik bukanlah soal peralatan, tetapi yang utama adalah manusia untuk berkembang bersama masyarakat Pasuruan,” lanjutnya.
Dengan total kapasitas produksi yang mencapai 35 miliar batang per tahun, fasilitas KT&G di Indonesia kini memiliki posisi strategis dalam jaringan bisnis global perusahaan. Pabrik di Indonesia akan menjadi salah satu pusat utama bisnis KT&G untuk menjangkau lebih dari 90 negara.(*)
Khusus dua pabrik baru di PIER, akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor dengan kapasitas produksi hingga 21 miliar batang per tahun. Peningkatan kapasitas ini tidak hanya memperbesar skala manufaktur KT&G di Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global perusahaan.
Perusahaan tembakau global asal Korea Selatan ini, beberapa produknya telah dipasarkan pada lebih dari 140 negara. Di Indonesia, perusahaan tersebut dikenal melalui merek ESSE dan JUARA.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan, Jawa Timur memiliki posisi penting dalam industri tembakau nasional. Menurutnya, kekuatan sektor tersebut menjadi salah satu modal bagi pengembangan industri berbasis tembakau di daerah. Potensi tersebut menjadi salah satu kekuatan yang dapat mendukung pengembangan industri tembakau sekaligus memperkuat ekosistem industri di Jawa Timur.
“Jawa Timur memang merupakan penghasil tembakau dan rokok terbesar di Indonesia, yakni lebih dari 51 persen secara nasional dengan kontribusi pajak sebesar 135 triliun per tahun,” tegas Adhy.
Sementara itu, Direktur Utama PT SIER Alif Abadi menegaskan, beroperasinya pabrik kedua dan ketiga KT&G di kawasan PIER menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Investasi tersebut juga menunjukkan investor percaya terhadap iklim investasi dan potensi pengembangan industri di Jawa Timur.
“Kami optimistis beroperasinya pabrik kedua dan ketiga KT&G ini akan memberikan dampak ekonomi yang positif, tidak hanya bagi kawasan industri, tetapi juga bagi Jawa Timur secara lebih luas. Investasi ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki iklim investasi yang semakin dipercaya oleh investor global,” ucap Alif.
Alif menambahkan, kehadiran fasilitas baru tersebut akan memberikan efek ganda bagi perekonomian, mulai dari penyerapan tenaga kerja, aktivitas industri pendukung, hingga peningkatan kebutuhan jasa logistik dan rantai pasok.
“Yang paling penting, investasi ini juga membuka peluang terciptanya lapangan pekerjaan baru dan menggerakkan berbagai sektor pendukung. Ini tentu menjadi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ekosistem industri di Jawa Timur,” pungkasnya. (*)