KETIK, SURABAYA – Sekolah Rakyat (SR) permanen di Jawa Timur sudah berdiri, tepatnya di kawasan Kejawan Surabaya. Kendati demikian, sejumlah pekerjaan rumah (PR) seperti tenaga guru definitif. Hal ini dikarenakan proses rekrutmen masih berlangsung.
Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Jatim, Restu Novi Widiani menjelaskan proses rekrutmen dimulai pada akhir September hingga awal Oktober 2026.
"Saat ini masih proses rekrutmen. Guru dan tenaga kependidikan baru diperkirakan mulai direktur akhir September atau awal Oktober," jelasnya, Selasa, 28 Juli 2026.
Sambil menantikan pembukaan rekrutmen, tenaga SR diisi oleh tenaga pengajar dari guru tamu. Restu mengungkapkan, guru-guru tersebut dipinjam dari pemerintah daerah (Pemda) dan dinas pendidikan (Dindik).
Guru tamu itu berasal dari sekolah-sekolah di bawah pemerintah kabupaten/kota dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Dinas Pendidikan Jatim untuk meminjam guru yang lokasinya berdekatan dengan SR.
Baca Juga:
Lahan 5,2 Hektare Disiapkan untuk Sekolah Rakyat Tulungagung, Kementerian PU Lakukan Peninjauan"Kami sudah berkoordinasi dengan BKD dan Dinas Pendidikan Provinsi. Kami mencari guru SMA yang lokasinya paling dekat dengan sekolah agar sementara bisa mengajar sebagai guru tamu," tuturnya.
Sementara itu, persoalan teknis guru definitif SR, seperti pembiayaan rekrutmen akan menjadi kewenangan Kementerian Sosial (Kemensos). Sedangkan guru yang saat ini dipinjamkan masih menerima gaji sesuai skema Pemprov Jatim.
"Untuk guru baru nanti masih dalam pembahasan karena sekarang memang masa transisi," jelasnya.
Di sisi lain, Pemprov Jatim juga memperkuat pendidikan karakter melalui guru ngaji di seluruh Sekolah Rakyat. Setiap sekolah mendapat dua guru ngaji yang mengajar dua kali dalam sepekan.
Baca Juga:
Sekolah Rakyat Didukung, Hibah Tanah Ditolak! Sikap Tegas F-PDIP DPRD Kabupaten Malang "Honor guru ngaji sebesar Rp500 ribu per orang per bulan. Bersumber dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Dinsos Jatim," katanya.
Restu menambahkan, kebutuhan tenaga pendamping keagamaan masih akan dievaluasi seiring bertambahnya jumlah siswa di SR permanen yang tahun ini jauh lebih banyak dibanding masa perintisan.
"Kami juga bekerja sama dengan organisasi keagamaan agar ada dukungan bersama. Menurut saya, Sekolah Rakyat ini merupakan tanggung jawab bersama," katanya. (*)