KETIK, MALANG – Pengunjung Museum Brawijaya Malang akan disambut pelbagai koleksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) bersejarah. Salah satu yang paling mencolok adalah keberadaan sebuah kendaraan lapis baja amfibi berukuran besar yang dipajang di halaman museum.
Kendaraan tersebut adalah LVT-4 (Landing Vehicle Tracked) atau yang juga dikenal sebagai Water Buffalo, kendaraan tempur amfibi yang pernah digunakan pasukan Belanda dalam Agresi Militer Belanda I di Malang pada Juli 1947.
Dalam upaya merebut Kota Malang, tentara Belanda mengerahkan Brigade Marinir yang diperkuat kendaraan amfibi LVT-4. Pasukan Belanda kemudian mendapat perlawanan sengit dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur, khususnya Brigade 17 Detasemen I.
Pertempuran berlangsung di kawasan Jalan Salak, yang kini menjadi Jalan Pahlawan TRIP. Meski hanya memiliki persenjataan sederhana dan sangat terbatas, pasukan TRIP tetap memberikan perlawanan terhadap tentara Belanda yang didukung kendaraan lapis baja dan persenjataan modern.
Baca Juga:
Sama-sama dari Kalangan Pelajar, Ini Beda TRIP dan TGPPertempuran tersebut berakhir dengan gugurnya 35 anggota TRIP yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan TRIP.
Dalam berbagai catatan sejarah lokal, kendaraan amfibi ini menjadi salah satu momok bagi para pejuang. LVT-4 disebut-sebut sempat menabrak dan melindas sejumlah anggota TRIP yang tengah berkumpul saat pertempuran berlangsung.
Bukan Buatan Belanda
Meski identik dengan agresi militer Belanda di Indonesia, LVT-4 sebenarnya bukan kendaraan buatan Negeri Kincir Angin.
Baca Juga:
Ini Nama 35 Pahlawan TRIP yang Gugur dan Dimakamkan di Kompleks Monumen Pahlawan TRIP Kota MalangKendaraan ini diproduksi di Amerika Serikat selama Perang Dunia II. Nama resminya adalah LVT-4 Buffalo, sedangkan julukan Water Buffalo diberikan karena kelincahannya bergerak di darat maupun di perairan.
LVT-4 menjadi salah satu kendaraan amfibi andalan Sekutu, terutama di Front Pasifik. Kemampuannya melintasi pantai dangkal, rawa hingga terumbu karang membuat kendaraan ini sangat efektif digunakan dalam operasi pendaratan pasukan.
Setelah Perang Dunia II berakhir, sebagian armada LVT-4 diserahkan kepada negara-negara sekutu, termasuk Belanda. Kendaraan inilah yang kemudian dibawa ke Indonesia dan digunakan dalam operasi militer pada masa revolusi kemerdekaan.
Spesifikasi LVT-4 Buffalo
Berdasarkan data The Tank Museum, LVT-4 memiliki spesifikasi sebagai berikut:
Nama: LVT-4 Buffalo (Landing Vehicle Tracked)
Negara pembuat: Amerika Serikat
Pengguna: Amerika Serikat dan negara-negara Sekutu, termasuk Belanda
Tahun produksi: Perang Dunia II
Jumlah produksi: sekitar 18.616 unit
Awak: 3 orang
Berat: 16,5 ton
Kecepatan di darat: sekitar 20 mph (32 km/jam)
Kecepatan di air: sekitar 7,5 mph (12 km/jam)
Ketebalan baja: hingga 13 mm