KETIK, MALANG – Melemahnya nilai tukar rupiah terus menjadi sorotan masyarakat, termasuk kalangan akademisi Universitas Negeri Malang. Berdasarkan data Bank Indonesia per 4 Juni 2026, nilai rupiah tercatat menyentuh Rp18.049 per dolar AS, sekaligus menjadi posisi terendah dalam lima tahun terakhir.

Fenomena ini juga ditandai dengan melemahnya rupiah terhadap mata uang negara-negara Asia Tenggara, seperti dolar Singapura dan ringgit Malaysia. Kondisi tersebut berdampak pada pola belanja masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga tingkat kepercayaan investor asing.

Menanggapi kondisi tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Puji Handayati, SE., MM., Ak., CA., CMA., mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh menguatnya dolar AS, tetapi juga berbagai faktor lain yang saling berkaitan.

Dalam fenomena ini, Prof. Puji Handayati mengacu pada teori permintaan dan penawaran valuta asing (Foreign Exchange Market Theory). Teori tersebut menjelaskan bahwa nilai tukar ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran mata uang asing di pasar.

“Ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara pasokan dolar di pasar domestik relatif terbatas, maka nilai dolar akan menguat dan rupiah akan terdepresiasi,” jelas Prof. Puji.

Baca Juga:
Kasus Bunuh Diri di Malang Meningkat, Akademisi UM Tekankan Pentingnya Dukungan Orang Terdekat

Jika disorot lebih dalam, melemahnya nilai rupiah juga buntut dari pergeseran dana investor pada aset berdenominasi global di tengah mencuatnya wacana geopolitik perang Israel - Iran dan perang Ukraina - Rusia, hingga kenaikan harga minyak dunia.

Prof. Puji juga menyampaikan perbedaan suku bunga antar negara tentunya akan berpengaruh pada aliran modal internasional. Hal ini ia sampaikan dengan Interest Rate Parity Theory (IRP).

“Ketika bank sentral AS mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi untuk mengendalikan inflasi, investor global cenderung memindahkan dana mereka ke instrumen keuangan AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dan risiko relatif rendah, ” tuturnya.

Mirisnya, lemahnya nilai tukar rupiah tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga pada mata uang regional dolar Singapura dan ringgit Malaysia.

Baca Juga:
Disdikbud Kota Malang Pastikan Zonasi SPMB Akurat 100 Persen

Pasalnya kedua negara tersebut telah menjadi pusat keuangan regional yang mampu menarik arus modal lebih besar dari ekspor komoditas dan manufaktur berteknologi tinggi. 

Akibatnya, investor berpeluang memindahkan modalnya ke negara-negara tersebut. Selain faktor ekonomi, pelemahan nilai rupiah juga dipengaruhi oleh komunikasi internasional dan kredibilitas kebijakan.

Prof. Puji juga menjelaskan berdasarkan Expectation Theory, ekspektasi pelaku pasar kerap lebih menentukan dibandingkan kondisi aktual yang terjadi.

“Apabila investor menilai bahwa pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui komunikasi yang jelas dan konsisten, maka kepercayaan pasar akan meningkat. Sebaliknya, ketidakpastian komunikasi kebijakan dapat memicu sentimen negatif yang mendorong pelemahan nilai tukar,” jelasnya.

Menariknya, melemahnya nilai tukar rupiah juga berimbas pada investor asing dan budaya belanja masyarakat, komoditas ekspor justru berdampak positif karena depresiasi rupiah dapat meningkatkan daya saing produk ekspor dengan harga lebih murah bagi pembeli luar negeri.

Pendapatan ekspor dalam mata uang dolar akan lebih bernilai tinggi apabila dikonversi pada mata uang rupiah. Dengan demikian, jika laju ekspor tidak sebanding dengan laju impor akan terjadi inflasi impor (imported inflation) yang menyebabkan kenaikan harga produk impor, biaya produksi akan meningkat, hingga mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara umum. 

Oleh sebab itu, melemahnya nilai rupiah perlu mendapatkan tanggapan serius bagi pemerintah dalam mencegah risiko lebih besar.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Risiko lainnya adalah meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun sektor swasta yang sebagian besar berdenominasi dolar AS," ungkap Prof. Puji.

Menanggapi fenomena tersebut, Prof. Puji menilai Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah yang efektif dalam waktu dekat untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah tersebut meliputi intervensi pasar, menekan volatilitas jangka pendek, serta mempertahankan kepercayaan pasar dengan menjaga fundamental ekonomi nasional.

Menurut Prof. Puji, pelemahan nilai tukar rupiah tidak selalu menjadi ancaman jika dilihat dari perspektif ekonomi makro.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat fundamental ekonomi. Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan literasi keuangan, mencintai produk dalam negeri, serta mendorong peningkatan ekspor.

Dengan demikian, pelemahan rupiah menjadi momentum penting yang perlu disikapi secara matang untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju sistem perekonomian yang lebih mandiri dan berkelanjutan. (*)