KETIK, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa sinergi dan kolaborasi antarelite nasional menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah negara.

Menurutnya, sejarah membuktikan negara yang mampu maju adalah negara yang para elitnya dapat bekerja sama, sedangkan perpecahan di kalangan elite justru menjadi penyebab kegagalan pembangunan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat menerima jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pusat dan daerah serta pimpinan asosiasi dunia usaha di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2026.

Dalam arahannya, Prabowo menjelaskan bahwa pembangunan bangsa atau nation building merupakan proses panjang yang tidak bisa hanya bertumpu pada satu sektor. Menurutnya, pembangunan membutuhkan keterlibatan seluruh kekuatan bangsa, mulai dari aspek politik, ekonomi, budaya hingga agama.

"Masalah nation building, masalah pembangunan bangsa memang adalah proses yang sangat panjang, sangat berat. Dan dalam proses ini, sejarah peradaban manusia mengajarkan kepada kita bahwa ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, dari budaya, bahkan dari agama," ujar Prabowo.

Baca Juga:
Kabinet 48 Menteri vs 15 Menteri Bayangan, Siapa Mengawasi Siapa?

Presiden mengatakan pembangunan nasional hanya akan berhasil apabila seluruh sumber daya yang dimiliki bangsa dapat dihimpun dan diarahkan untuk kepentingan masyarakat.

Ia menilai kolaborasi antarelite menjadi syarat utama agar Indonesia mampu memanfaatkan potensi besar yang dimiliki, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

"Yang terutama yang kita belajar adalah memang perlunya suatu sinergitas antara elite, perlunya ada kerja sama, kolaborasi. Semua bangsa yang berhasil elitenya bisa kerja sama. Semua negara yang gagal elitenya ribut," tegasnya.

Menurut Prabowo, elite bangsa bukan hanya berasal dari kalangan politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup tokoh intelektual, pemuka agama, budayawan, pelaku seni, pengusaha, hingga kalangan pekerja.

Baca Juga:
Rekening Ganda hingga Dapur Fiktif, BGN Temukan 414 Anomali SPPG

Ia mengingatkan bahwa kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun golongan agar pembangunan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi situasi global yang semakin kompleks.

Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak menyikapi kondisi tersebut dengan rasa takut ataupun panik.

"Situasi global sangat rawan, tapi tidak ada gunanya kita panik, tidak ada gunanya kita ketakutan. Tapi juga membuat kita harus lebih sadar," katanya.

Prabowo menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia merupakan anugerah sekaligus tantangan karena berpotensi menarik kepentingan berbagai kekuatan dunia.

Ia mengingatkan bahwa praktik politik pecah belah atau divide et impera masih relevan dalam dinamika geopolitik saat ini.

"Devide et impera itu bukan tulisan di buku-buku sejarah, itu nyata. Devide et impera nyata," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden kembali menegaskan komitmen Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan tidak memihak kepada blok kekuatan mana pun.

"Kita sadar dan saya juga sudah kumandangkan dari awal saya dilantik, bahwa politik luar negeri Indonesia sekarang adalah ingin menjadi tetangga yang baik. The good neighbor. Our policy is the policy of the good neighbor," ucapnya.

Ia menambahkan Indonesia akan terus membangun hubungan persahabatan dengan seluruh negara melalui dialog dan kerja sama.

"Saya ke mana-mana saya tegaskan Indonesia, we are neutral. Kita hormati semua kekuatan," lanjutnya.

Di bidang ekonomi, Prabowo menyampaikan optimisme terhadap kondisi ketahanan pangan nasional. Menurutnya, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan dalam waktu relatif singkat sehingga memiliki modal penting menghadapi ketidakpastian global.

"Alhamdulillah kita sudah capai dalam waktu yang singkat ketahanan pangan, swasembada pangan," katanya.

Presiden menilai capaian tersebut membuat Indonesia lebih percaya diri dalam menghadapi dampak konflik global terhadap pasokan pangan maupun energi.

"Apapun terjadi, kita yakin, kita bisa jamin makan untuk bangsa Indonesia," ujarnya.(*)