KETIK, BATU – Peternak ayam petelur di Kota Batu menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga telur di pasaran yang tidak diimbangi dengan penurunan biaya produksi.
Di sisi lain, harga pakan ternak justru kembali mengalami kenaikan, sehingga banyak peternak kesulitan menutup biaya operasional kandang.
Penasehat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto, mengatakan kondisi yang dihadapi peternak saat ini menjadi salah satu periode paling sulit dalam beberapa tahun terakhir.
Melimpahnya produksi telur tidak diiringi dengan meningkatnya permintaan pasar, sementara biaya produksi terus membengkak.
“Sangat berat nasib peternak saat ini. Harga jual telur justru anjlok, sementara biaya pengeluaran terus naik,” ujarnya, Rabu, 29 Juli 2026.
Baca Juga:
DLH Kota Batu Respons Cepat Keluhan Warga, Sampah Liar di Jalan Mustari Langsung DiangkutMenurut Ludi, harga pakan kembali mengalami kenaikan. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir kenaikan tersebut terjadi berulang kali sehingga semakin menambah beban peternak.
“Pakan juga naik. Ini sudah keempat kalinya harga pakan ternak naik,” katanya.
Ia menjelaskan, pada Mei lalu harga pakan telah mengalami kenaikan sebanyak tiga kali dalam kurun dua bulan. Setiap kenaikan mencapai sekitar Rp200 per kilogram sehingga total kenaikannya menjadi Rp600 per kilogram. Kini, harga pakan kembali mengalami kenaikan.
Ludi menilai kondisi tersebut dipicu oleh melimpahnya pasokan telur yang tidak diimbangi dengan tingginya permintaan pasar. Di sisi lain, harga bahan baku pakan seperti jagung dan konsentrat terus meningkat sehingga biaya produksi ikut membengkak.
Baca Juga:
Wali Kota Batu Cak Nur Dorong Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Kota Batu, Tak Sekadar Simpan Pinjam“Setiap hari kami terus merugi. Hitungannya rugi Rp2.000 per kilogram,” ungkapnya.
Menurutnya, kerugian yang terus berlangsung memaksa sebagian peternak mengambil berbagai cara agar usaha tetap bertahan.
“Bahkan banyak peternak terpaksa menggadaikan surat tanah dan aset lain demi bertahan hidup. Kondisi ini juga sejalan dengan ekonomi nasional yang sedang lesu sehingga daya beli masyarakat ikut melemah,” tuturnya.
Ia menambahkan, tekanan serupa juga dirasakan sektor pertanian lain, seperti anjloknya harga tomat di pasaran.
Bagi peternak ayam petelur, situasi tersebut semakin mempersempit ruang untuk bertahan karena harga telur rendah, biaya pakan terus naik, sementara harga jual ayam juga mengalami penurunan.
“Posisi peternak sungguh terjepit. Harga telur murah, harga pakan mahal, jika menjual ayam harganya turun drastis. Hari ini saja kerugian mencapai Rp600 ribu per hari. Dalam sebulan bisa menembus Rp18 juta. Kami terpaksa bertahan meski tidak tahu sampai kapan,” katanya.
Selama sekitar 10 tahun menjalankan usaha peternakan ayam petelur, Ludi mengaku baru tiga kali menghadapi situasi yang sangat berat, yakni saat pandemi Covid-19, ketika nilai tukar dolar melonjak, dan kondisi yang terjadi saat ini.
“Ibarat seleksi alam, siapa yang tidak kuat, dia akan tumbang. Kami pun terjebak dalam dilema. Jika pakan dikurangi, produksi telur menurun dan kualitas ternak rusak. Namun jika tetap dipertahankan, kerugian akan semakin besar,” pungkasnya.(*)