KETIK, PACITAN – Meski kasus leptospirosis di Kabupaten Pacitan mulai menunjukkan tren terkendali, keresahan petani belum sepenuhnya sirna.
Mereka berharap pemerintah tidak hanya mengintensifkan sosialisasi pencegahan penyakit, tetapi juga melakukan pembasmian tikus secara serentak karena hama tersebut masih menjadi ancaman ganda, yakni menyebarkan leptospirosis sekaligus merusak tanaman padi.
Harapan itu disampaikan petani asal Kecamatan Nawangan, Mochamad Abdul Mannan (31).
Menurutnya, ledakan populasi tikus pada musim tanam sebelumnya membuat banyak petani mengalami kerugian besar akibat hasil panen yang merosot.
"Yang sebelumnya ini gencar banget sih, banyak banget. Sekitar dua bulan lalu, musim tanam sebelumnya," katanya kepada Ketik.com, Jumat, 3 Juli 2026.
Baca Juga:
Kala Letkol Arh Rudi Ariyanto Pindah Rumah 17 Kali Sebelum Pimpin Kodim PacitanMannan menjelaskan, tikus menyerang tanaman ketika padi mulai berisi.
Hama tersebut menggerogoti bagian pangkal batang hingga tanaman mati sebelum sempat dipanen.
"Merugikan banget. Pas padinya mulai matang, akarnya dimakan sampai akhirnya mati," ujarnya.
Serangan tikus, lanjut dia, hampir terjadi di seluruh areal persawahan yang berada di Dusun Dawuhan, Krajan, dan Bendar, Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan. Dampaknya, hasil panen petani turun cukup drastis.
Baca Juga:
Nestapa Warga Gunung Lanang Pacitan, Tiap Hari Lalui Jalan Rusak Bak Sungai Kering"Kalau sawah saya biasanya dapat sekitar 50 karung, kemarin tinggal sekitar 30-an karung. Hampir turun 40 persen," ungkapnya.
Selain mengancam produksi pertanian, keberadaan tikus juga menimbulkan kekhawatiran baru karena menjadi hewan pembawa bakteri penyebab leptospirosis.
Meski di lingkungannya saat ini belum ditemukan kasus baru, Mannan mengaku beberapa dusun di Kecamatan Nawangan sebelumnya pernah terdapat warga yang terpapar penyakit tersebut.
"Kalau daerah saya sekarang insyaallah tidak ada. Tapi sekitar Dusun Bendar pernah ada, termasuk beberapa tahun lalu di sekitar sini juga pernah ada yang terkena," katanya.
Hingga kini, petani masih mengandalkan cara sederhana untuk mengendalikan populasi tikus, yakni menggunakan racun Tamex yang dicampur gabah atau beras dan diletakkan di sekitar persawahan.
Namun menurut Mannan, upaya itu belum cukup efektif.
Ia mengaku belum pernah ada program khusus pengendalian tikus yang menyasar kelompok tani di wilayahnya.
"Kalau untuk penanganan tikus dari dinas pertanian belum ada," ujarnya.
Sebagai anggota Kelompok Tani Karya Bakti, ia mengatakan sosialisasi yang diterima selama ini lebih banyak dari sisi kesehatan terkait langkah pencegahan leptospirosis, seperti penggunaan alat pelindung diri dan menghindari kontak dengan air yang diduga tercemar urine tikus.
"Kalau sosialisasi dari Dinas Kesehatan sudah. Tapi kalau penanganan tikusnya belum ada," katanya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menginisiasi gerakan pembasmian tikus secara serentak di seluruh desa agar populasi hama dapat ditekan sebelum memasuki musim tanam berikutnya.
"Harapannya ada penanganan dari pemerintah sampai ke bawah supaya tikusnya bisa dikendalikan bersama," ucapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan petani asal Kecamatan Tulakan, Tupani.
Menurutnya, berbagai cara telah dilakukan untuk mengendalikan tikus, mulai dari memasang perangkap, memberikan racun hingga melakukan pengasapan.
Namun hasilnya belum maksimal.
"Sudah semua cara kami lakukan, tapi tikus tidak hilang. Kalau diracun, malah tikus dari tempat lain datang dan menyerang tanaman yang lain," ujarnya.
Sementara itu, Budi, petani asal Desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung, juga mengaku serangan tikus membuat hasil panennya anjlok.
Dari lahan yang biasanya menghasilkan sekitar 19 sak gabah, musim ini diperkirakan tidak sampai separuhnya.
"Sampai bikin malas bertani karena serangannya parah dan sulit dibasmi," katanya.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan mencatat sebanyak 147 kasus leptospirosis hingga awal Juni 2026.
Meski jumlah kasus meningkat dibanding tahun sebelumnya, sepanjang 2026 belum tercatat adanya korban meninggal dunia.(*)