KETIK, JEMBER – Senyum Chayla Hoirun Nisa tak pernah lepas setiap kali namanya dipanggil untuk tampil. Di atas panggung, siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Jember itu mampu memainkan berbagai ekspresi, mulai dari bahagia, sedih, hingga marah. Kemampuan itulah yang mengantarkannya meraih Juara Harapan II cabang Seni Peran pada ajang lomba tingkat nasional.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga maupun sekolah. Di balik keberhasilan itu, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi dukungan keluarga dan proses latihan yang menyesuaikan karakter Chayla sebagai penyandang disabilitas down syndrome.
Ibunda Chayla, Nurijana, mengaku selalu berusaha membangkitkan semangat putrinya agar berani bermimpi tampil di tingkat nasional. Ia bahkan kerap memberikan motivasi sederhana agar Chayla terus percaya diri mengikuti setiap perlombaan.
"Saya kasih semangat. Ayo nanti kalau dapat juara, nanti bisa ke Jakarta, bisa jadi artis kayak gitu," ujarnya, saat ditemui Ketik.com di rumahnya, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Nurijana, putrinya memiliki karakter yang mandiri sejak kecil. Chayla juga dikenal disiplin dalam menjalani rutinitas, baik saat bersekolah maupun mengikuti kegiatan mengaji.
Baca Juga:
JFC 2026 Usung Tema HEAL, Presiden JFC Ajak Masyarakat Rawat Kemanusiaan dan Bumi"Anaknya sendiri sudah punya kewajiban. Misalkan sekolah itu dia mandiri. Kalau tidak sekolah dia marah. Kalau libur marah. Ngaji pun juga kayak gitu," katanya.
Baca Juga:
Artwear Carnival JFC 2026 Tuai Pujian, Penonton Terpukau dengan Kreativitas Kostum DesainerSebagai bentuk apresiasi, sang ibu juga kerap menjanjikan hadiah apabila Chayla berhasil meraih prestasi. Jawaban putrinya pun selalu mengundang senyum.
"Kamu kepingin apa sih. Aku kepingin beli mobil Pajero katanya gitu. Lah kemarin dia juga gitu. Kan dapat hadiah itu Rp 500 ribu, yang juara masuk 5 besar itu," ucap Nurijana sambil menirukan ucapan putrinya.
Meski berhasil mengharumkan nama Jember di tingkat nasional, Nurijana berharap prestasi yang diraih putrinya mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Menurutnya, penghargaan yang diterima Chayla sejauh ini hanya berasal dari penyelenggara lomba.
"Kalau untuk (lomba) Peran Seni ini, dari nasional dapat reward Rp 500 ribu. Dari Kabupaten nggk ada, dari Provinsi juga nggk ada," tuturnya.
Latihan Berangkat dari Kehidupan Sehari-hari
Pembina Seni Peran SLB Negeri Jember, Ahmad Jamil, menilai Chayla memiliki kemampuan beradaptasi yang baik. Karakter tersebut memudahkannya saat menjalani proses latihan.
"Sebenarnya anaknya memang gampang akrab dengan orang, terus sering meniru (raut muka) temannya kalau lagi marah, lagi sedih," kata Jamil.
Melihat karakter itu, Jamil memilih membangun materi akting dari pengalaman yang benar-benar dekat dengan kehidupan Chayla. Cara tersebut membuat siswinya lebih mudah memahami emosi yang harus diperagakan di atas panggung.
"Pada akhirnya saya arahkan temanya itu ya sesuai dengan kesehariannya dia atau keseharian temannya. Akhirnya kita ngambil tema-tema yang lebih dekat dengan dia gitu," ujarnya.
Saat memerankan ekspresi bahagia, misalnya, Chayla diminta membayangkan dirinya baru saja memenangkan sebuah perlombaan.
"Kalau yang bahagia itu. Jadi saya kasih tema dia juara lomba gitu. Hanya dia senang dapat piala gitu. Dia memperagakan itu di ceritanya," ungkap Jamil.
Untuk adegan sedih, ia mengajak Chayla mengingat momen ketika salah seorang teman sekelasnya pindah sekolah.
"Kalau yang sedih. Dia sedih karena salah satu teman kelasnya itu pindah sekolah gitu. Akhirnya dia bertanya-tanya karena sudah 3 hari tidak masuk. Dia nangis karena temannya tidak pernah kembali lagi gitu," katanya.
Sementara itu, ekspresi marah dibangun dari situasi sederhana yang akrab dengan keseharian para siswa, yakni saat lauk ayam pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam adegan diceritakan hilang karena dicuri teman.
"Sebenarnya hal sepele cuma ada hiperbolanya. Tiap hari kan kita dapat MBG. Cuman tiba-tiba pada waktu itu di adegannya MBGnya ayamnya hilang dicuri temannya. Akhirnya dia marah. Pas nanya ke temannya tidak ada yang jawab," tuturnya.
Jamil menegaskan, adegan tersebut tidak hanya bertujuan menampilkan ekspresi marah, tetapi juga menyampaikan nilai moral kepada penonton.
"Selain marah-marah, ada poin untuk kita itu dilarang mencuri gitu," tegasnya.
Bagi Chayla, panggung bukan sekadar tempat menunjukkan kemampuan akting. Prestasi yang diraihnya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, ia mampu membawa nama SLB Negeri Jember bersaing hingga tingkat nasional. (*)