KETIK, SLEMAN – Ancaman panas ekstrem ternyata tidak hanya mengintai masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan suhu di dalam rumah justru dapat lebih tinggi dibandingkan suhu udara yang tercatat di luar bangunan. Kondisi ini meningkatkan risiko heat stress, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia.

Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Aditya Lia Ramadona, Ph.D., mengatakan paparan panas di dalam rumah masih sering luput dari perhatian. Padahal, masyarakat menganggap rumah sebagai tempat yang aman dari cuaca panas.

Ia mengungkapkan, hasil tesis mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, Anzalia Sabrina, menemukan bahwa suhu di dalam rumah responden lansia pada kawasan Program Kampung Iklim (ProKlim) di Daerah Istimewa Yogyakarta justru lebih tinggi dibandingkan suhu ambien yang dicatat stasiun BMKG.

Rata-rata suhu di dalam rumah mencapai sekitar 31 derajat Celsius. Bahkan, setiap kenaikan selisih suhu antara kondisi di dalam dan luar rumah sebesar satu derajat Celsius meningkatkan risiko heat stress pada lansia hingga sekitar 32 persen.

"Temuan ini menunjukkan bahwa menggunakan suhu luar sebagai satu-satunya indikator dapat meremehkan paparan panas yang sebenarnya dialami masyarakat," jelasnya.

Baca Juga:
Panas Ekstrem di Indonesia Perlu Direspons dengan Sistem Peringatan Dini, Bukan Sekadar Imbauan

Ramadona menilai hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa paparan panas tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi cuaca, tetapi juga karakteristik bangunan dan lingkungan tempat tinggal.

Karena itu, perlindungan terhadap masyarakat tidak cukup hanya mengimbau agar mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca panas. Kondisi rumah, terutama ventilasi dan sirkulasi udara, juga perlu menjadi perhatian dalam upaya mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.

 

Dampak Panas Lebih Besar pada Kelompok Rentan

Baca Juga:
Heat Stroke Mengintai saat Panas Ekstrem, Kenaikan Suhu Kecil Bisa Berdampak Fatal

Ramadona menjelaskan bahwa panas ekstrem memberikan dampak yang berbeda pada setiap kelompok masyarakat. Lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penyandang penyakit kronis merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.

Selain penelitian mengenai lansia, berbagai riset mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM juga menemukan hubungan antara kenaikan suhu dengan meningkatnya kunjungan pasien hipertensi, diabetes melitus tipe 2, hingga gangguan kecemasan ke fasilitas layanan kesehatan.

Salah satunya penelitian Annisa Kharismaningtyas yang menunjukkan adanya hubungan antara suhu maksimum dengan peningkatan kunjungan pasien hipertensi, meskipun pola dampaknya muncul secara bertahap atau memiliki efek tertunda.

Menurut Ramadona, berbagai bukti ilmiah tersebut menunjukkan bahwa dampak panas ekstrem merupakan hasil interaksi antara tingkat paparan, kerentanan individu, dan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Ia menilai perlindungan terhadap kelompok rentan perlu dilakukan secara lebih proaktif, mulai dari edukasi kesehatan, pemantauan kondisi masyarakat berisiko, peningkatan ventilasi rumah, hingga penyediaan ruang teduh di lingkungan permukiman.

 

Heat Stroke Masih Kurang Dipahami Masyarakat

Temuan mengenai tingginya suhu di dalam rumah semakin memperkuat pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya panas ekstrem. Hingga kini, banyak masyarakat masih menganggap cuaca panas sebagai kondisi yang biasa sehingga gejala heat stroke sering kali tidak dikenali sejak dini.

Padahal, heat stroke merupakan kondisi darurat medis ketika tubuh kehilangan kemampuan mengendalikan suhu sehingga dapat menyebabkan gangguan organ vital hingga kematian apabila tidak segera ditangani. (*)