KETIK, SURABAYA – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., mengapresiasi langkah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang menempatkan penataan sumber daya manusia (SDM) dan organisasi sebagai salah satu prioritas setelah terpilih memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.
Menurut Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, penguatan internal menjadi bagian penting dalam memastikan organisasi sebesar Nahdlatul Ulama mampu menjalankan program secara efektif sekaligus memberikan manfaat yang semakin luas kepada masyarakat.
Ning Lia memandang penataan SDM merupakan langkah fundamental karena keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya program yang dirancang, tetapi juga kesiapan orang-orang yang menjalankannya.
“Penataan sumber daya manusia menjadi fondasi yang sangat penting. Organisasi sebesar NU tentu membutuhkan SDM yang kuat, memiliki kapasitas, integritas, dan mampu bekerja bersama untuk menjalankan khidmat organisasi,” kata Ning Lia, pada Selasa, 1 September 2026.
Menurutnya, konsolidasi organisasi juga diperlukan agar setiap unsur dapat bergerak secara selaras. Dengan tata kelola yang semakin baik, PBNU diharapkan mampu menerjemahkan agenda besar organisasi menjadi program yang menyentuh kebutuhan warga Nahdliyin dan masyarakat secara luas.
Baca Juga:
Ning Lia Kunjungi Korban MBG di Sidoarjo, Beri Mental Healing“Ketika organisasinya tertata dan SDM-nya semakin kuat, saya kira pelaksanaan program juga akan semakin efektif. Yang paling penting, manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh umat dan masyarakat,” ujar Ning Lia.
Setelah proses penataan organisasi dan SDM berjalan, kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 diharapkan dapat semakin mengoptimalkan berbagai bidang strategis, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Bagi Ning Lia, ketiga sektor tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. NU dengan jaringan pesantren, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, serta basis warga yang luas memiliki modal sosial yang besar untuk ikut memperkuat pembangunan di sektor tersebut.
Pada bidang ekonomi, penguatan kapasitas dan kemandirian warga menjadi salah satu ruang yang potensial untuk terus dikembangkan.
Baca Juga:
UNESA Tampilkan Seni Reog di Apel Hari Pramuka ke-65 Kwarda Jatim, Angkat Kisah Klono SewandonoJaringan NU yang tersebar hingga tingkat akar rumput dapat menjadi kekuatan besar dalam mendorong pemberdayaan ekonomi, pengembangan usaha masyarakat, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha berbasis komunitas.
“NU memiliki kekuatan yang luar biasa karena dekat dengan masyarakat. Potensi ini tentu dapat terus dikembangkan agar pemberdayaan ekonomi juga semakin kuat dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga,” tutur Lia.
Ning Lia juga menilai pendidikan tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun kualitas generasi mendatang.
Dengan jaringan pesantren dan lembaga pendidikan yang luas, NU memiliki posisi strategis dalam melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter, nilai keagamaan, dan kepedulian sosial.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kita ingin generasi muda memiliki ilmu dan kompetensi yang baik, tetapi pada saat yang sama tetap mempunyai karakter, kepedulian, serta nilai-nilai yang kuat,” katanya.
Selain ekonomi dan pendidikan, perhatian terhadap sektor kesehatan dinilai tidak kalah penting. Penguatan pelayanan dan literasi kesehatan dapat menjadi bagian dari kontribusi sosial NU kepada masyarakat.
Menurut Ning Lia, organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam membantu memperluas edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan, terutama melalui jaringan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga.
“Kesehatan menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan harus terus diperkuat, baik melalui edukasi, pencegahan maupun berbagai bentuk pelayanan sosial yang dapat dijangkau masyarakat,” ujar Lia.
Ning Lia berharap kepemimpinan Gus Kikin dapat membawa PBNU semakin solid secara kelembagaan sekaligus mampu menjawab berbagai tantangan masyarakat dalam lima tahun mendatang.
Menurutnya, penataan organisasi tidak semestinya berhenti sebagai agenda administratif. Konsolidasi internal justru perlu menjadi fondasi agar program-program besar NU dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata.
“Yang kita harapkan tentu PBNU semakin solid, semakin kuat dalam khidmat, dan program-programnya semakin dirasakan masyarakat. Penataan internal adalah fondasi, sedangkan tujuan besarnya tetap bagaimana organisasi memberikan kemaslahatan seluas-luasnya,” pungkas Lia.
Dengan basis sosial yang luas dan jaringan organisasi hingga akar rumput, PBNU periode 2026–2031 memiliki ruang besar untuk memperkuat perannya dalam pembangunan masyarakat. Penataan SDM dan organisasi menjadi langkah awal sebelum berbagai agenda di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta pelayanan umat dijalankan secara lebih optimal.(*)