KETIK, KEDIRI – Nanas varietas Queen Simplex asal Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, kembali berhasil menembus pasar internasional. Kali ini, mahasiswa magang Program Studi Agribisnis PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri turut terlibat langsung dalam proses persiapan ekspor komoditas unggulan tersebut menuju Uni Emirat Arab (UEA).

Kegiatan berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Ngancar bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai tahapan penanganan pascapanen hingga proses yang harus dipenuhi agar produk pertanian lokal dapat memenuhi standar ekspor.

Kecamatan Ngancar dikenal sebagai salah satu sentra produksi nanas terbesar di Jawa Timur. Berada di kawasan lereng Gunung Kelud yang memiliki tanah vulkanik subur, wilayah ini menghasilkan nanas berkualitas tinggi, salah satunya varietas Queen Simplex yang memiliki rasa manis, aroma khas, dan ukuran buah yang relatif seragam.

Bagi masyarakat setempat, nanas menjadi komoditas penting yang menopang perekonomian daerah. Ribuan hektare lahan di Ngancar ditanami nanas dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak petani. Karena itu, keberhasilan ekspor ke pasar internasional menjadi peluang strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus kesejahteraan petani.

Nanas varietas Queen Simplex yang baru diturunkan dari truk pengangkut. (Foto: Larashati Yanesti Puri/Mahasiswa PSDKU UB Kediri)

Baca Juga:
Mahasiswa UB Kediri Pelajari Strategi Pelindo Tingkatkan Efisiensi Pelayanan Terminal Penumpang

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa magang terlibat pada berbagai tahapan penanganan pascapanen. Proses dimulai dengan penurunan buah dari kendaraan pengangkut yang dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kerusakan fisik yang dapat memengaruhi kualitas buah.

Selanjutnya, buah disortir berdasarkan ukuran dan kondisi fisik. Hanya nanas yang memenuhi standar mutu ekspor yang diproses lebih lanjut, sementara buah yang tidak sesuai spesifikasi dipisahkan. Tahap sortasi ini menjadi salah satu proses penting karena pasar internasional menerapkan standar kualitas yang ketat.

Setelah disortir, buah dibersihkan menggunakan kuas dan kompresor udara untuk menghilangkan debu serta sisa kelopak pada bagian bawah buah. Proses pembersihan dilakukan guna menjaga kebersihan dan meningkatkan penampilan produk sebelum dikirim ke negara tujuan.

Tahap berikutnya adalah pelapisan buah menggunakan edible coating berbahan dasar Chitasil konsentrat yang dicampur dengan air bersih. Pelapisan dilakukan secara merata pada seluruh permukaan buah menggunakan kuas.

Baca Juga:
Mahasiswa UB Kediri Turun ke Pasar, Bantu Promosikan UMKM Tradisional lewat Media Sosial

Teknologi edible coating berfungsi menjaga kesegaran buah dengan mengurangi penguapan air dan memperlambat proses penurunan kualitas selama distribusi. Langkah ini dinilai penting mengingat perjalanan ekspor menuju Uni Emirat Arab membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Setelah pelapisan selesai, buah dikeringkan menggunakan blower dan kipas angin hingga lapisan pelindung menempel sempurna. Buah yang telah kering kemudian diberi label sebagai identitas produk sekaligus tanda bahwa buah telah melalui proses pengendalian mutu.

Tahapan selanjutnya adalah pengemasan menggunakan kardus khusus ekspor. Buah disusun dengan posisi mahkota saling berlawanan untuk meminimalkan risiko benturan selama proses pengangkutan.

Sebelum diberangkatkan, nanas disimpan terlebih dahulu di dalam cold storage dengan suhu sekitar 8 hingga 12 derajat celsius guna menjaga kesegaran dan memperlambat proses pematangan. Saat jadwal pengiriman tiba, buah dipindahkan ke dalam kontainer berpendingin (refrigerated container) untuk selanjutnya dikirim ke Uni Emirat Arab.

Selain mempelajari proses ekspor, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya penerapan standar kebersihan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Selama kegiatan berlangsung, seluruh peserta diwajibkan menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, celemek, penutup kepala, dan sepatu kerja guna menjaga higienitas produk serta keselamatan kerja.

Melalui program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman praktis di lapangan, tetapi juga memahami bagaimana kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, lembaga pendukung, dan generasi muda berperan penting dalam meningkatkan daya saing sektor pertanian.

Keberhasilan ekspor nanas Queen Simplex asal Ngancar ke Uni Emirat Arab menjadi bukti bahwa komoditas pertanian lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global apabila didukung oleh kualitas produk yang baik dan penanganan pascapanen yang sesuai standar. Diharapkan, keberhasilan ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi petani serta masyarakat Kabupaten Kediri.(*)