KETIK, SLEMAN – Deru knalpot bising yang kerap memecah sunyi malam serta meresahkan pengguna jalan di kawasan Ring Road Utara Yogyakarta perlahan mulai dicarikan solusi oleh pemerintah setempat. Pemerintah Kabupaten Sleman bersama para pemangku kepentingan terkait tidak tinggal diam menghadapi maraknya aksi balap liar yang kerap mengancam keselamatan para pengguna jalan. Sebagai jawaban atas persoalan sosial tersebut, sebuah terobosan bertajuk Kejuaraan Drag Bike Super Street Legal Bupati Sleman Cup "The Brutal Drag Bike Showdown" yang diselenggarakan oleh Genima Creative bersama Sanggar Pawon Group siap digelar secara resmi pada 15 Agustus 2026 mendatang.

Uniknya, ajang ini tidak menggunakan sirkuit permanen yang steril dari aktivitas warga, melainkan memanfaatkan ruas jalan Sumber-Kwayuhan, Kalurahan Sendangmulyo, Kapanewon Minggir, tepat di samping Lapangan Tiban.

Mengusung konsep inovatif bertajuk Street but Legal, ruas jalan raya tersebut disulap menjadi lintasan pacu resmi berkat kerja sama lintas sektoral antara jajaran kepolisian, Ikatan Motor Indonesia (IMI) DIY, Pemkal Sendangmulyo, UBR Holobis Kuntul Baris, serta dukungan dari lintas OPD Pemkab Sleman yakni Dinas PUPKP, Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, dan Bagian Hukum Setda Sleman. Rencananya, perhelatan yang di prediksi akan menyita perhatian publik ini akan dibuka secara langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya.
 

Merangkul Hasrat Generasi Muda

Panitia penyelenggara, Ardian Yulianto menjelaskan bahwa konsep tersebut sengaja dipilih agar anak-anak muda yang gemar memacu kecepatan memiliki ruang yang aman, terarah, dan sah secara hukum. Selama ini, hobi otomotif sering kali disalurkan di tempat yang salah karena minimnya fasilitas pendukung yang memadai di tingkat lokal, sehingga jalan raya kerap menjadi pelarian yang membahayakan.

 

Panitia, narasumber, dan pemangku kepentingan berpose bersama menunjukkan kaos resmi usai menggelar konferensi pers persiapan Kejuaraan Drag Bike Super Street Legal Bupati Sleman Cup "The Brutal Drag Bike Showdown" 2026. (Foto: Fajar R/Ketik.com)



"Kenapa kami namai Super Street Legal? Karena kami memang menggunakan street atau jalan umum. Tapi dengan konsep ini kami sebisa mungkin jalan umum menjadi arena yang legal melalui kerja sama dengan berbagai stakeholder," ujar Ardian saat memberikan keterangan dalam konferensi pers di Mosu Coffee, Lempongsari, Ngaglik, Sleman, pada Senin sore, 3 Agustus 2026.

Kejuaraan ini akan mempertandingkan sebanyak 24 kelas balap yang tidak semuanya mengandalkan kecepatan penuh semata. Ada kategori menggunakan sistem bracket, di mana peserta dituntut untuk mencatat waktu tempuh paling tepat sesuai regulasi dari IMI, bukan sekadar menjadi yang paling cepat mencapai garis finis. Selain itu, panitia menyiapkan kelas khusus X Rider yang diperuntukkan bagi para mantan pembalap berusia minimal 35 tahun dengan syarat bobot badan minimal 70 kilogram demi menjaga keseruan kompetisi.

Tidak hanya itu, ajang ini juga menyediakan penghargaan prestisius yang jarang ditemui pada kompetisi serupa, seperti Trofi Bupati Sleman bagi pembalap dengan catatan waktu tercepat atau Fastest of The Day, serta penghargaan Best Reaction Time bagi peserta yang mempunyai respons start terbaik di lintasan.

Baca Juga:
Sleman Borong Prestasi! Sabet Predikat Terbaik I Reka Cipta Bakti Nugraha DIY 2026

Suara Profesional dan Realitas Lapangan

Dukungan penuh terhadap event positif ini turut disuarakan oleh pembalap motor Indonesia Doni Tata Pradita. Selama menjalani karier profesional di dunia balap internasional maupun nasional, Doni Tata mengaku tidak pernah sekali pun melakukan aksi balap liar karena menyadari betul bahwa jalan raya bukanlah tempat yang aman untuk memacu kendaraan berkecepatan tinggi.

"Saya sebagai pembalap profesional dari kecil sampai sekarang tidak pernah balap liar atau kebut-kebutan di jalan. Jalan bukan tempat untuk memacu adrenalin karena membahayakan pengguna jalan lainnya," tegas Doni Tata dengan penuh penekanan moral.

Ia berharap kejuaraan ini mampu menjadi wadah peralihan yang efektif bagi generasi muda agar beralih dari jalanan umum ke arena kompetisi resmi yang aman, sekaligus meminimalisir potensi kecelakaan lalu lintas yang kerap menghantui wilayah Yogyakarta.


Penasihat kegiatan Untung Basuki Rahmat (UBR) menyebut fenomena balap liar memang lebih dominan terjadi di jalan raya ketimbang sirkuit tertutup. Oleh karena itu, penyediaan arena yang legal ini adalah langkah preventif yang paling masuk akal dan solutif.

"Anak-anak kalau balapan itu enggak mungkin di sirkuit, tetapi di street. Maka kami buat street, tapi legal. Semoga ini bisa menjadi inspirasi kegiatan kepemudaan di Kabupaten Sleman," tutur Untung yang juga anggota Komisi C DPRD Sleman ini.

Ia bahkan mengungkapkan optimisme tinggi agar event otomotif ini dapat berkembang secara berkelanjutan menjadi agenda tahunan berskala regional Daerah Istimewa Yogyakarta yang mampu menggerakkan sektor pariwisata, perhotelan, hingga ekonomi kerakyatan secara menyeluruh.

Menggerakkan Roda Ekonomi Kerakyatan

Perhelatan ini juga dimaksudkan untuk mendongkrak perekonomian warga sekitar lokasi acara. Semula, pihak panitia hanya menargetkan kehadiran 50 stan UMKM lokal untuk meramaikan lokasi kegiatan. Namun, tingginya antusiasme para pelaku usaha di tingkat kalurahan, jumlah pendaftar melonjak drastis hingga mencapai sekitar 80 pelaku usaha kreatif. Untuk memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat setempat tanpa perantara, seluruh pengelolaan area parkir dan zona UMKM diserahkan secara penuh kepada Pemerintah Kalurahan Sendangmulyo.

 

Baca Juga:
"Sang Petarung Hukum" Kajari Sleman Bambang Yunianto Bergeser ke Kejagung

Sekda Sleman Abu Bakar, menjabat erat tangan Doni Tata Pradita. Momen ini menunjukkan bahwa sinergi antara Pemkab Sleman dan pembalap profesional merupakan wujud nyata komitmen bersama dalam merangkul generasi muda, menghadirkan fasilitas balap resmi yang aman, serta menekan angka balap liar di wilayah Sleman. (Foto: Fajar R/Ketik.com)



Sementara itu, Ketua Harian IMI DIY, Aziz Yurianto yang akrab dipanggil Aziz Yuri, mengungkapkan bahwa minimnya ketersediaan sirkuit permanen di wilayah Yogyakarta selama ini kerap menjadi kendala pelik bagi para atlet untuk berlatih secara rutin, hingga memaksa mereka harus pergi ke luar kota seperti Boyolali. Pihaknya menyambut sangat baik ajang ini sebagai sarana strategis penjaringan bibit pembalap unggul.

"IMI merupakan rumah bagi para pecinta otomotif. Kami mendukung penuh kegiatan ini agar mampu mencetak bibit-bibit pembalap unggul seperti Ega Pratama dan pembalap berprestasi lainnya," ungkap Aziz Yuri.

Ia juga menambahkan bahwa IMI DIY akan terus mendorong terwujudnya pembangunan sirkuit permanen di Yogyakarta agar pembinaan atlet masa depan dapat berjalan secara maksimal tanpa hambatan infrastruktur.

Aspek Keselamatan dan Evaluasi Teknis Lintasan

Dari jajaran eksekutif pemerintah daerah, Sekretaris Daerah Sleman, Abu Bakar menyambut positif kegiatan ini karena dinilai mampu menciptakan efek berantai bagi perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata olahraga (sport tourism) yang terintegrasi dengan potensi budaya lokal.
Kendati demikian, mengingat lokasi balap menggunakan fasilitas jalan raya terbuka sepanjang 200 meter di Jalan Sumber Kwayuhan, Kalurahan Sendangmulyo, Minggir, faktor keselamatan mutlak menjadi perhatian utama Pemkab Sleman bersama jajaran TNI, Kepolisian, dan IMI DIY. Evaluasi menyeluruh dilakukan secara ketat demi meminimalisir segala bentuk risiko yang tidak diinginkan selama kejuaraan berlangsung.

"Penyelenggaraan di jalan umum membutuhkan pengamanan dan kenyamanan yang berbeda dari sirkuit permanen. Kami mengoreksi dan mengevaluasi ketebalan polesan aspal agar tidak bergelombang pada kecepatan tinggi, pencahayaan, hingga pengamanan ketat demi keselamatan pembalap dan penonton," pungkas Abu Bakar.

Melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi otomotif, legislatif, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, Kejuaraan Drag Bike Bupati Sleman Cup 2026 yang dijadwalkan dibuka langsung oleh Bupati Harda Kiswaya ini diharapkan tidak hanya menjadi panggung adu kecepatan yang sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga tonggak sejarah dalam menyelamatkan generasi muda dari bahaya balap liar di jalanan umum. (*)