KETIK, PASURUAN – Mahasiswa peserta KKN Kolaboratif Aspikom Korwil Jawa Timur 2026 mendapatkan pengalaman langsung mempelajari tradisi lisan masyarakat Hindu Tengger melalui ritual Purnama di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. 

Salah satu hal yang menjadi perhatian mahasiswa adalah penggunaan mantra warisan leluhur yang masih dipertahankan dan menjadi pembeda dengan praktik keagamaan Hindu di Bali.

Kegiatan yang diikuti mahasiswa dari STIKOSA-AWS, Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Universitas Yudharta Pasuruan, Universitas Trunojoyo Madura, dan Universitas Darussalam Gontor itu berlangsung pada Rabu malam, 29 Juli 2026.

Melalui observasi lapangan, para mahasiswa tidak hanya mengikuti prosesi ritual Purnama, tetapi juga mempelajari makna setiap tahapan upacara beserta nilai-nilai budaya yang menyertainya.

Dalam tradisi Hindu Tengger, prosesi ritual dipimpin oleh Dukun Adat atau Pemangku Adat yang membacakan mantra-mantra warisan leluhur. 

Baca Juga:
Cegah Stunting dari Hulu, Mahasiswa MMD UB Edukasi Orang Tua di Blitar Pentingnya Pengasuhan Seimbang

Mantra tersebut menjadi bagian penting dalam setiap upacara karena tidak hanya berfungsi sebagai doa, tetapi juga sebagai warisan budaya lisan yang menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan para leluhur.

Pemangku Adat masyarakat Hindu Tengger Desa Ngadiwono, Mas Budiono, mengatakan setiap mantra memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan jenis ritual yang dilaksanakan.

"Setiap mantra memiliki makna dan tujuan tersendiri sesuai dengan jenis upacara yang dilaksanakan. Tradisi ini menjadi cara masyarakat Tengger menjaga hubungan spiritual dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta," ujar Mas Budiono, Jumat, 7 Agustus 2026.

Keunikan lainnya terletak pada penggunaan kitab mantra yang berasal dari Romo Maming. Kitab tersebut telah diterjemahkan dari bahasa Bali ke dalam bahasa Jawa dan hingga kini mas

Baca Juga:
Mahasiswa KKN FBiPK UB Bangun Insinerator untuk Dukung Pengelolaan Sampah di UB Forest

ih digunakan masyarakat Hindu Tengger sebagai pedoman dalam pelaksanaan ritual keagamaan. Tradisi ini menjadi ciri khas yang membedakan praktik ritual masyarakat Tengger dengan umat Hindu di Bali.

Sementara itu, Kepala Dusun (Kasun) Desa Ngadiwono, Eka, menilai kehadiran mahasiswa KKN menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Tengger kepada generasi muda.

"Tradisi ini merupakan bagian dari identitas masyarakat Tengger yang terus dilestarikan. Kami berharap generasi muda, termasuk mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN, dapat memahami sekaligus ikut mengenalkan kekayaan budaya ini kepada masyarakat yang lebih luas," ungkapnya.

Selain mempelajari ritual Purnama, mahasiswa juga mendapat penjelasan mengenai rangkaian upacara Tilem yang akan dilaksanakan 15 hari setelah Purnama. 

Meski sama-sama dimaknai sebagai momentum meningkatkan spiritualitas, masyarakat Hindu Tengger dan Bali memiliki perbedaan dalam tata cara pelaksanaan ritual, penggunaan mantra, serta perangkat upacara yang digunakan.

Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa KKN memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang keberagaman praktik keagamaan di Indonesia sekaligus pentingnya menjaga tradisi lisan sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.(*)