KETIK, SLEMAN – Kesadaran masyarakat Sleman dalam menjaga kelestarian lingkungan terus meningkat melalui aksi-aksi kreatif yang inspiratif.
Salah satu inovasi yang patut diapresiasi adalah pemanfaatan kembali (reuse) besek bambu bekas wadah daging kurban yang disulap menjadi media tanam sayuran, atau yang kini mulai dikenal dengan istilah "Besek phonik."
Langkah cerdas yang terekam dalam file video beredar di medsos ini mendapat respons positif dan apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Sleman.
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Administrasi Umum (Asekda) Sleman, Makwan, Sabtu 13 Juni 2026, menyatakan rasa bangganya atas inisiatif mandiri warga yang jeli melihat potensi dari limbah organik tersebut.
"Kami sangat mengapresiasi kreativitas warga yang memanfaatkan besek bekas daging kurban ini menjadi gerakan 'Besek-phonik'. Alih-alih dibuang dan menjadi sampah, besek bambu ini justru dialihfungsikan menjadi media tanam sayuran seperti bawang merah (brambang). Ini adalah contoh nyata penerapan prinsip green chemistry dan zero waste di tingkat rumah tangga," ujar Makwan saat memberikan keterangan.
Menurut Makwan, penggunaan besek sebagai media tanam memiliki keunggulan tersendiri karena sifatnya yang ramah lingkungan dan biodegradable (mudah terurai).
Berbeda dengan pot plastik, anyaman bambu pada besek memungkinkan sirkulasi udara dan drainase air pada tanah berjalan dengan sangat baik, sehingga mendukung pertumbuhan akar tanaman secara optimal.
Untuk mendapatkan hasil panen brambang yang maksimal menggunakan metode Besek-phonik ini, pengelolaan hara dan lingkungan tumbuh sebenarnya cukup sederhana namun harus presisi.
Baca Juga:
Plt Kepala Kantah Sleman Andi Reza dan Ujian Bersih-Bersih Pascademo BPN SlemanPada awal penanaman, tanah terlebih dahulu dibekali nutrisi melalui pemupukan dasar yang menggunakan kombinasi pupuk kandang dan NPK Mutiara.
Selanjutnya, tanaman membutuhkan pasokan nutrisi berkala yang diberikan melalui tiga tahap pupuk susulan menggunakan NPK Mutiara, yaitu pada saat tanaman menginjak usia 10 hingga 15 Hari Setelah Tanam (HST), dilanjutkan pada usia 20 hingga 25 HST, dan fase terakhir pada usia 30 hingga 35 HST.
Memasuki fase generatif atau saat tanaman mulai bersiap membentuk umbi, pertumbuhan perlu dipacu dengan menambahkan unsur mikro berupa Kalium dan Magnesium agar hasil panen brambang lebih berbobot dan berkualitas.
Di luar manajemen pemupukan tersebut, kunci utama dari keberhasilan budidaya hilir ini terletak pada konsistensi menjaga kelembaban tanah.
Kondisi tanah di dalam besek harus dipastikan tidak terlalu kering, namun juga jangan sampai terlalu becek atau menggenang agar umbi bawang merah terhindar dari risiko pembusukan.
Lebih lanjut, Makwan berharap gerakan kreatif seperti ini dapat ditiru secara luas oleh masyarakat Sleman lainnya.
Baca Juga:
Efek Demo Staf Notaris/PPAT, Kepala Kantah Sleman Dipindah, Aktivis JCW Gelar Aksi TeatrikalPemanfaatan pekarangan rumah dengan media besek bekas tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan keluarga secara mandiri.
"Jika setiap rumah tangga mampu mengelola limbah organiknya seperti ini, kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari tumpukan sampah, tetapi juga bisa memanen kebutuhan dapur sendiri secara mandiri dan organik. Semoga ini menjadi virus kebaikan yang terus menular di Kabupaten Sleman," pungkasnya. (*)