KETIK, JOMBANG – Inovasi produk lokal tidak akan maksimal jika tidak diimbangi dengan strategi pemasaran yang mumpuni.
Menyadari hal tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 19 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur mengambil langkah taktis lanjutan bagi masyarakat Desa Wringinpitu, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.
Setelah sukses menggelar pelatihan pengolahan limbah bonggol jagung menjadi briket pada pertengahan Juli lalu, kali ini mahasiswa KKN UPN Jatim menyelenggarakan Sosialisasi Branding Produk Briket yang menggandeng ibu-ibu PKK desa setempat, Jumat, 31 Juli 2026.
Briket dari limbah agrikultur ini dinilai memiliki potensi ekonomi yang sangat besar karena selain ramah lingkungan, bahan bakunya juga melimpah di Wringinpitu.
Namun, potensi unggulan tersebut tentu akan sulit berkembang jika produk hanya dikemas seadanya dan dipasarkan secara tradisional dari mulut ke mulut.
Baca Juga:
Mahasiswa KKN UPN Veteran Jatim Kelompok 20 Edukasi Pentingnya Menabung Sejak Dini, Ajak Siswa Melukis CelenganBerangkat dari urgensi tersebut, kegiatan ini secara khusus dirancang untuk membekali warga dengan keterampilan membangun identitas produk.
Harapannya, briket lokal Wringinpitu tidak hanya berfokus pada kualitas produksi, tetapi juga memiliki nilai jual yang berlipat ganda serta peluang pemasaran yang jauh lebih luas berkat logo, desain kemasan, dan foto produk yang representatif.
Dalam pemaparannya, tim KKN UPN Jatim mengenalkan konsep branding sebagai nyawa yang membedakan sebuah produk di tengah kerasnya persaingan pasar.
Baca Juga:
Polemik Pembongkaran Aset Desa, Begini Penjelasan Pemdes Mojojejer JombangMahasiswa membedah elemen penting dalam pembuatan logo, mulai dari filosofi bentuk, psikologi warna, tipografi, hingga komposisi visual yang memunculkan kesan profesional sekaligus mudah diingat oleh konsumen.
Menariknya, warga tidak hanya dijejali rentetan teori belaka.
Mahasiswa KKN memberikan pendampingan praktik secara langsung agar ibu-ibu PKK dapat merancang sendiri identitas visual yang kelak akan dipasang pada produk briket kebanggaan desa mereka.
Langkah ini diharapkan mampu menumbuhkan kebanggaan dan rasa memiliki (sense of belonging) warga terhadap karya yang mereka ciptakan.
Pelatihan kemudian berlanjut pada sesi pengemasan dengan konsep do it yourself (DIY).
Menggunakan bahan-bahan yang hemat biaya, peserta diajak mengubah persepsi bahwa kemasan bukan sekadar pelindung barang.
Mahasiswa memandu warga mengkreasikan kemasan berkonsep ramah lingkungan yang dipadukan dengan stiker logo hasil desain mandiri.
Pendekatan ini dipilih agar biaya produksi tetap terjangkau namun mampu memberikan kesan eksklusif yang sanggup memikat hati konsumen.
Sebagai pamungkas, ibu-ibu PKK diajak melakukan praktik product photography bermodal kamera ponsel cerdas. Warga diberi kebebasan untuk menata properti pendukung (styling) lalu memotret briket yang sudah dikemas rapi.
Mahasiswa turut membagikan trik fotografi praktis, seperti pemanfaatan cahaya matahari alami (natural lighting), pemilihan latar belakang yang bersih, hingga eksplorasi sudut pengambilan gambar (angle) terbaik.
Pendampingan ini diberikan agar masyarakat memiliki stok foto yang estetik untuk kebutuhan promosi di media sosial maupun platform e-commerce.
Mustoinah, salah satu kader PKK Dusun Tegalsari yang menjadi peserta, mengaku sangat antusias dengan wawasan baru yang diterimanya.
Ia merasa ilmu tersebut tidak hanya berlaku untuk briket, tetapi juga sangat aplikatif untuk usaha pribadinya.
“Bagian yang paling menarik itu adalah pembuatan logonya, karena kebetulan saya juga jualan. Jadi dari sini saya bisa belajar banyak tentang bentuk logo, pemilihan warna, dan unsur estetikanya,” ungkap Mustoinah.
Melalui rangkaian pelatihan yang komprehensif ini, Kelompok 19 KKN UPN “Veteran” Jawa Timur berharap masyarakat Wringinpitu dapat tumbuh menjadi produsen yang mandiri, adaptif, dan melek digital.
Dengan identitas visual yang tajam, kemasan yang apik, serta foto produk yang menggugah, briket bonggol jagung lokal ini diharapkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas dan berdampak nyata pada peningkatan perekonomian warga.(*)