KETIK, BOGOR – Sensasi merinding tidak hanya muncul saat seseorang merasa takut, tetapi juga dapat terjadi ketika mengalami emosi yang kuat seperti haru, kagum, atau tersentuh oleh musik tertentu.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yeni Quinta Mondiani, menjelaskan bahwa respons ini berkaitan erat dengan cara otak memproses emosi.

Menurutnya, amigdala berperan sebagai pusat pengolahan emosi yang akan mengaktifkan sistem alarm tubuh ketika seseorang mengalami rangsangan emosional yang kuat.

Selain itu, tubuh juga dapat melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berhubungan dengan rasa senang dan penghargaan, sehingga memunculkan sensasi merinding pada kondisi tertentu seperti mendengarkan musik yang menyentuh.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa seseorang lebih mudah merinding saat sedang cemas atau berada dalam tekanan psikologis. Otak sering kali tidak membedakan ancaman fisik dengan tekanan emosional seperti stres atau kecemasan.

Baca Juga:
Merinding di Tempat Tertentu Bukan Tanda Gaib, Ini Cara Otak Memproses Lingkungan

“Pada orang yang memiliki riwayat kecemasan atau trauma, respons ini dapat muncul lebih mudah karena sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif,” ujarnya, Minggu, 21 Juni 2026. 

Dengan demikian, merinding bukan hanya respons terhadap rasa takut, tetapi juga bagian dari reaksi emosional kompleks yang diproses oleh otak manusia. (*)

Baca Juga:
Fatty Liver Bisa Muncul Sejak Anak-anak, Pakar IPB Dorong Pencegahan Sejak Dini