KETIK, PACITAN – Peternak sapi di Kabupaten Pacitan perlu mengenali tanda-tanda birahi pada ternak untuk meningkatkan peluang keberhasilan inseminasi buatan (IB) dan mempercepat kebuntingan.

Deteksi birahi yang kurang tepat dapat menyebabkan waktu perkawinan terlewat.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan, Indrawati, menjelaskan salah satu tanda birahi yang paling mudah dikenali adalah sapi betina diam ketika dinaiki sapi lain.

“Salah satu tanda birahi yang paling dapat diandalkan adalah sapi betina diam ketika dinaiki sapi lain,” ungkap Indrawati kepada Ketik.com, Senin, 12 Oktober 2026.

Selain itu, sapi yang sedang birahi biasanya terlihat gelisah, menjilati atau mengendus bagian belakang sapi lain, serta mengalami perubahan pada organ reproduksi. 

Baca Juga:
Kemarau Malah Jadi Berkah, Harga Tembakau Petani Pacitan Tembus Rp55 Ribu per Kilogram

Vulva atau bagian luar organ reproduksi betina dapat membengkak dan memerah, disertai keluarnya lendir bening dan elastis.

Ekor terkadang terangkat, sedangkan bulu di pangkal ekor tampak kusut atau kotor akibat aktivitas saling menaiki antarsapi. 

Tanda birahi dapat berbeda pada setiap individu dan umumnya lebih jelas terlihat pada sapi dara dibandingkan sapi indukan.

Indrawati menjelaskan, siklus reproduksi sapi terdiri atas empat tahap, yakni proestrus, estrus atau masa birahi, metestrus, dan diestrus. 

Baca Juga:
Stadion Pacitan Jadi Lokasi Jamnas XIX RX-King, Kapolres Ayub ke Bikers: Tunjukkan Sikap Dewasa

Pemahaman terhadap siklus tersebut membantu peternak menentukan waktu perkawinan atau inseminasi secara lebih tepat.

Menurutnya, keberhasilan IB dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu ketepatan pengamatan tanda birahi, kecukupan nutrisi pakan, serta kondisi fisik dan kesehatan ternak.

Peternak juga dianjurkan rutin memantau birahi, memberikan vitamin sesuai kebutuhan, khususnya vitamin A, D, dan E (ADE), serta melakukan vaksinasi berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan hewan.

Inseminasi buatan bertujuan meningkatkan mutu genetik keturunan, mengurangi risiko penularan penyakit tertentu melalui perkawinan alami, serta membuat proses perkawinan lebih efisien dari sisi tenaga dan waktu.

“Dengan deteksi birahi yang baik, peluang keberhasilan kebuntingan bisa meningkat. Sehingga produktivitas usaha peternakan sapi dapat terjaga,” ungkapnya.(*)