KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan Satya Lencana Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) yang diserahkan oleh Ketua Dewan Pembina ISMI sekaligus pendiri Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Tun Dr. H. Rahmat Shah, di Medan, pada Selasa, 29 September 2026.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprah dan kontribusi Gubernur Khofifah dalam berbagai bidang yang dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat.
Gubernur Khofifah menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas penghargaannya sekaligus memanfaatkan kunjungannya untuk bersilaturahmi dan mempelajari pengelolaan museum yang didirikan Tun Rahmat Shah.
Pertemuan tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, khususnya dalam pengembangan dan pengayaan koleksi serta materi edukasi Museum Mpu Tantular di Sidoarjo, Jawa Timur.
Khofifah juga membahas sejumlah koleksi satwa yang diawetkan milik Tun Rahmat Shah dititipkan untuk mendukung pengayaan materi edukasi di Museum Mpu Tantular.
Baca Juga:
HUT Ke-81 Jawa Timur, Khofifah Beri Keringanan Pajak Kendaraan Selama Dua Bulan“Kami juga menawarkan kerja sama, mungkin satwa milik Pak Rahmat Shah bisa dititipkan di Jawa Timur dan kami juga menyiapkan ruangan khusus yang diatasnamakan beliau,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menambah koleksi Museum Mpu Tantular, tetapi juga memperkuat fungsi museum sebagai ruang edukasi bagi masyarakat. Museum dinilai dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, budaya, lingkungan, hingga pentingnya menjaga kelestarian alam kepada generasi muda.
Khofifah juga melihat pengalaman Rahmat International Wildlife Museum and Gallery dalam menata dan menyajikan koleksi dapat menjadi referensi dalam pengembangan Museum Mpu Tantular.
“Luar biasa kedalaman keilmuannya. Kita ingin membangun koneksitas kesejarahan untuk membangun peradaban dan kearifan. Museum Mpu Tantular Pemprov Jatim di Sidoarjo yang rencananya kita ingin kembangkan, perspektif kita bisa punya penguasaan dan pengayaan dari sini,” ungkapnya.
Baca Juga:
Waspada Terjebak Macet! Ada Demo Buruh Hari Ini di SurabayaSaat berkeliling museum, Khofifah melihat koleksi satwa yang diawetkan dan ditata berdasarkan habitatnya. Museum tersebut memiliki lebih dari 2.600 jenis satwa dan sekitar 5.600 spesimen dari berbagai wilayah dunia.
Koleksinya antara lain menampilkan African Big Five, Bear Room, Cats of the World, Pheasants of the World, Night Safari, berbagai jenis serangga, hingga satwa khas Indonesia seperti harimau Sumatra dan komodo. Museum itu juga memiliki koleksi kerangka satwa.
Khofifah mengaku memiliki ketertarikan terhadap museum sejak lama. Menurutnya, museum dapat menjadi pintu untuk memahami latar belakang budaya, sejarah, dan peradaban suatu daerah maupun negara.
“Saya termasuk pencinta museum. Saya juga mengikuti bagaimana kita bisa menemukenali cultural background sebuah negara melalui museum,” ujarnya.
Ia menilai kekayaan koleksi Rahmat International Wildlife Museum and Gallery menjadi sumber pembelajaran tentang satwa, lingkungan, dan konservasi. Khofifah juga mengapresiasi kepedulian Tun Rahmat Shah dalam mengembangkan museum dan membagikan pengetahuannya kepada masyarakat.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina ISMI sekaligus pendiri Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Tun Dr. H. Rahmat Shah, menyampaikan rasa hormat dan apresiasi atas kunjungan Gubernur Khofifah ke Rahmat International Wildlife Museum and Gallery.
Ia menjelaskan, museumnya memiliki sekitar 2.600 jenis satwa yang diawetkan dari berbagai belahan dunia yang dikoleksi dan ditata sebagai sarana edukasi sekaligus untuk menumbuhkan kepedulian terhadap konservasi.
Tun Rahmat Shah menambahkan, sebagian pengetahuannya mengenai pengelolaan satwa dan kegiatan berburu konservasi diperoleh dari pengalaman di sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman. Kegiatan yang dimaksud memiliki aturan dan tata cara yang harus dipatuhi dengan tetap memperhatikan aspek konservasi.
“Sebagian saya belajar berburu di Kanada, Amerika, Jerman dan negara lainnya. Tapi tentu dengan rules yang harus kita patuhi,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya pernah dipercaya sebagai pemburu konservasi dan menerima sejumlah penghargaan atas kiprahnya di bidang tersebut. Pengalaman yang dimiliki ini dapat menjadi bagian dari upaya memahami satwa dan lingkungan sekaligus membangun kepedulian terhadap keberlangsungan alam.
“Ini untuk menjadi contoh bahwa banyak orang hebat memulai dari nol. Yang penting tidak melanggar undang-undang negara dan agama. Insyaallah, kita akan berhasil,” katanya.
Tun Rahmat Shah juga menekankan pentingnya kolaborasi dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Semangat tersebut menjadi bagian dari kiprahnya di ISMI yang mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari dunia pendidikan hingga kepala daerah.
“Berbuat kebaikan, sekecil apa pun, pasti ada manfaatnya. Kita tanam padi, nanti yang tumbuh bukan hanya satu, tetapi ada banyak manfaat yang bisa kita rasakan,” pungkasnya.(*)