KETIK, MALANG – Presiden Prabowo Subianto datang untuk menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) secara langsung di rapat paripurna DPR RI. Kehadirannya dinilai sebagai upaya meyakinkan Parlemen bahwa pemerintah telah berupaya memperbaiki kondisi ekonomi nasional.
Pakar Ekonom Universitas Brawijaya (UB), Wildan Syafitri, menjelaskan, banyak masalah ekonomi yang harus dihadapi pemerintah. Khususnya krisis global yang diakibatkan oleh dampak perang dunia.
Ditambah lagi dengan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang kini ramai dikhawatirkan oleh masyarakat.
"Memang penting sekali bagi presiden, saya kira, untuk meyakinkan pada parlemen. Dukungan parlemen itu sangat penting, dan dukungan partai itu untuk meyakinkan bahwa pemerintah berupaya agar tidak terjadi masalah yang lebih buruk akibat dari penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar ini," ujarnya, Rabu, 20 Mei 2026.
Tak hanya terhadap Parlemen, Presiden Prabowo juga ingin kembali menggalang dukungan masyarakat. Melalui pidatonya yang menggebu-gebu dan dipenuhi optimisme, Prabowo ingin masyarakat ikut optimis dengan ekonomi nasional.
Baca Juga:
Prabowo Rayu Pasar di Paripurna DPR, Ekonom UB: Kebijakannya Masih Jauh dari Angan"Mungkin dengan sikap-sikap ekspektasi yang positif itu mendorong perekonomian akan bertambah kuat. Dukungan dari parlemen tetap penting biasanya. Sudah ada niat baik dan Presiden kan mau memberikan informasi bahwa pemerintah sudah berusaha keras. Nah, pastinya ya diharapkan akan terjadi sentimen positif," jelasnya.
Menurut Wildan, sentimen positif dari masyarakat dan parlemen sangat penting untuk menjaga psikologis pasar dan investor. Namun ia juga menekankan, niat baik saja tak cukup. Pemerintah harus menunjukkan keseriusannya dalam hal-hal yang lebih konkret, salah satunya pemberantasan korupsi.
"Kalau investor mau ke sini atau tidak itu kan sebenarnya faktornya banyak. Kalau jangka pendeknya mungkin terkait upaya pemerintah untuk memperbaiki kinerja, misalnya mengurangi korupsi. Tapi kalau jangka panjang ya mempermudah orang untuk bisnis, dan sebagainya," ujarnya.
Pemerintah harus memperhatikan sikap-sikap kritis yang disampaikan oleh para pakar dan juga perilaku investor. Memburuknya situasi ekonomi juga akan berdampak pada situasi politik yang kurang menguntungkan.
Baca Juga:
Nggak Biasanya, Prabowo Pilih Sampaikan Sendiri Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok Kebijakan Fiskal di DPR Hari Ini"Jadi, kalau ekonomi memburuk ya, beberapa tanda ekonomi misalnya menurun, nah itu kan bisa jadi amunisi bagi kelompok politik. Jika itu meresonansi dan berdampak besar, juga akan berdampak buruk pada ekspektasi masyarakat," pungkasnya. (*)