KETIK, PACITAN – Inovasi dari limbah kopi membawa dua siswa SMPN 1 Pacitan melaju ke tingkat nasional. 

Siswa bernama Pelangi Embun Kinanthi dan Kirana Pramudita Kamil berhasil masuk 20 besar nasional Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 kategori Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui penelitian biopot ramah lingkungan.

Menurut Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Pacitan, Nur Khopsun, penelitian yang dibawa Pelangi dan Kirana berangkat dari persoalan lingkungan yang mereka temui di Watumejo Mangrove Park Pacitan.

Gagasan itu muncul setelah keduanya melihat penggunaan polybag plastik dalam pembibitan mangrove saat berkunjung ke kawasan tersebut pada akhir 2025.

Dari kondisi tersebut, mereka kemudian mencoba mencari alternatif wadah pembibitan yang dapat mengurangi penggunaan plastik sekaligus memanfaatkan limbah yang tersedia di sekitar.

Baca Juga:
Berdoa Memohon Turunnya Hujan, Tahanan Rutan Pacitan Gelar Salat Istisqa

Biopot yang dikembangkan menggunakan ampas kopi sebagai salah satu bahan utama. 

"Kami melihat juga banyak coffee shop di Pacitan, artinya bahan pembuatannya sangat melimpah," ungkapnya, Kamis, 17 September 2026.

Material tersebut kemudian dikombinasikan dengan serat batang pisang, serat kelapa, beeswax, dan tepung tapioka.

"Penelitiannya dilakukan selama sekitar 10 bulan," ungkapnya.

Baca Juga:
Pelabuhan Disebut Paling Strategis dari Tiga Opsi Akses Pacitan ke Luar Daerah

Salah satu pengujian dilakukan dengan merendam biopot untuk melihat daya tahannya ketika digunakan dalam proses pembibitan mangrove.

Hasil pengujian menunjukkan biopot yang telah diberi lapisan mampu bertahan sekitar tiga minggu ketika terendam. 

Waktu tersebut dinilai cukup untuk memberikan kesempatan bagi bibit mangrove mengembangkan akar sebelum dipindahkan ke lingkungan penanaman.

Keunggulannya, biopot tersebut tidak menyisakan residu atau sampah plastik yang mencemari lingkungan.

"Jadi tidak ada lagi sisa sampah selesai menanam tumbuhan,” ujar Nur Khopsun.

Dalam proses pembuatan, Pelangi dan Kirana membentuk material adonannya secara manual. 

Pengeringan juga mengandalkan sinar matahari.

Selain menjadi alternatif pengganti polybag plastik untuk pembibitan, inovasi tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Kini, Pelangi dan Kirana bersiap menghadapi tahap final OPSI 2026. 

Keduanya dijadwalkan berangkat ke Jakarta pada 23 September 2026.

"Pada babak final, mereka akan mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari expo, presentasi, hingga challenge untuk memaparkan hasil penelitian biopot limbah kopi yang telah mereka kembangkan," ungkapnya.(*)