KETIK, JAKARTA – Mantan Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pesan agar setiap orang, terutama mereka yang memiliki kekuasaan dan jabatan, tidak menggunakan kewenangannya untuk menjatuhkan atau menyakiti orang lain.
Pesan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Dalam kesempatan itu, Jokowi mengaku dirinya juga kerap menerima berbagai kritik, hinaan, hingga cacian. Namun, ia menilai perbedaan sikap dalam politik merupakan hal yang biasa.
"Banyak fitnah, banyak hinaan, banyak cacian yang sampai ke saya. Ya memang ada yang senang, ada yang tidak senang. Sudah biasa dalam politik," ujar Jokowi.
Meski demikian, Jokowi mengajak masyarakat untuk tetap mengedepankan perkataan dan tindakan yang baik. Menurutnya, jika seseorang mampu menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik, maka tidak perlu memilih cara yang buruk.
Baca Juga:
Jokowi Agendakan Blusukan ke Sejumlah Daerah, Ini Jadwal dan Kota Tujuan"Tapi ya jangan begitu. Kalau bisa berkata baik kenapa harus berkata yang jelek? Kalau bisa berbuat baik kenapa kita harus berbuat yang jelek," katanya.
Jokowi kemudian kembali mengingatkan tentang tiga prinsip yang sering ia sampaikan dalam berbagai kesempatan. Salah satunya adalah larangan bagi seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merendahkan maupun menjatuhkan orang lain.
"Meskipun kamu sakti jangan suka menjatuhkan atau membunuh. Tidak boleh," tegasnya.
Menurut Jokowi, kekuasaan yang besar tidak seharusnya digunakan untuk menyerang atau menekan pihak lain. Ia mencontohkan bahwa jabatan apa pun yang dimiliki seseorang hanyalah bersifat sementara.
Baca Juga:
Mengaku Sudah Fit, Jokowi Siap Kembali Blusukan Keliling Indonesia Hadiri Undangan Warga"Mentang-mentang kita punya kekuasaan yang besar kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang, itu hal yang tidak baik," ucapnya.
Jokowi juga mengingatkan para pemimpin di tingkat bawah agar tidak berlaku kasar kepada masyarakat yang dipimpinnya.
"Mentang-mentang jadi lurah terus ke rakyatnya bakbuk-bakbuk, sering berbicara kasar, itu tidak boleh. Karena jabatan itu hanya sementara," pungkas Jokowi. (*)