KETIK, MALANG – Empat mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mendapatkan pengalaman internasional dengan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussels, Belgia.
Pada Senin, 26 Oktober 2026, mereka disambut langsung oleh Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa, Andy Rachmianto.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam program International Student Mobility and Academic Sharing (I-SMASH) Eropa 2026. Tidak hanya memperluas wawasan akademik, mahasiswa juga berkesempatan mengenal dinamika geopolitik Eropa dan hubungan diplomatik Indonesia dengan Uni Eropa secara langsung.
Bertempat di kantor KBRI Brussels, pertemuan berlangsung dalam suasana hangat. Dubes Andy didampingi Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler, Chandra H. Gandasubrata, serta Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya, Emir Faisal.
Dalam kesempatan itu, Andy mengapresiasi inisiatif Fakultas Humaniora UIN Malang yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di luar negeri. Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan lingkungan akademik, masyarakat, dan budaya yang berbeda dapat memperluas cara pandang mahasiswa.
Baca Juga:
Dari Sumpah Pemuda Menuju Indonesia Emas: Saatnya Mahasiswa Berani Melampaui Diri SendiriIa juga berharap program I-SMASH terus dikembangkan melalui berbagai bentuk kolaborasi internasional, seperti program sandwich di universitas mitra, magang internasional, hingga penelitian bersama. KBRI Brussels menyatakan dukungannya terhadap pengembangan program mobilitas mahasiswa tersebut.
Selain itu, Andy mendorong mahasiswa untuk mempertimbangkan Belgia dan negara-negara Uni Eropa sebagai tujuan studi lanjut. Sejumlah peluang beasiswa yang dapat dijajaki antara lain Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama, LPDP dari Kementerian Keuangan, Erasmus Mundus, dan VLIR-UOS.
Hubungan Belgia dengan Fakultas Humaniora UIN Malang juga terjalin melalui Miftahul Huda, salah satu dosen yang menjadi sivitas akademika pertama dari lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang meraih gelar doktor dari perguruan tinggi di Belgia. Ia memperoleh gelar PhD bidang linguistik dan sastra dari Universiteit Antwerpen pada pertengahan 2025.
Baca Juga:
Keren! UIN Malang Duduki Peringkat Ketiga PTKIN di Indonesia Kategori Innovation Rank SCImagi Institutions Rankings 2025Pertemuan tersebut tidak hanya membahas peluang pendidikan, tetapi juga dinamika politik Eropa. Andy menjelaskan peran Uni Eropa dalam merumuskan kebijakan bersama bagi 27 negara anggotanya, perubahan peta politik global, serta gelombang demonstrasi di sejumlah kota, termasuk Paris, Brussels, dan Milan.
Paparan tersebut memantik rasa ingin tahu mahasiswa untuk mengenal pusat pengambilan kebijakan Uni Eropa secara langsung. Seusai pertemuan, mereka menyempatkan diri mengunjungi kawasan perkantoran Uni Eropa di Brussels, termasuk gedung Berlaymont yang menjadi markas Komisi Eropa (European Commission).
Kunjungan ini memberikan pengalaman berbeda bagi mahasiswa karena mereka dapat melihat langsung salah satu pusat diplomasi dan pengambilan kebijakan Eropa yang selama ini lebih banyak dikenal melalui pemberitaan media.
Program I-SMASH Eropa 2026 berlangsung selama dua pekan, mulai 21 Oktober hingga 4 November 2026. Program ini mencakup lima negara, yakni Belgia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Luksemburg, dengan menggabungkan kegiatan akademik, interaksi lintas budaya, serta eksplorasi kehidupan masyarakat setempat.
Dalam rangkaian kegiatan akademik, peserta dijadwalkan mengikuti sesi berbagi pengetahuan bersama akademisi dan peneliti di Universiteit Antwerpen dan KU Leuven, kunjungan perpustakaan, serta diskusi bersama diaspora Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Mahasiswa juga berkesempatan mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan bersama komunitas muslim Indonesia di Eropa Barat.
Pengalaman tersebut dilengkapi dengan kunjungan ke berbagai situs sejarah dan kebudayaan, mulai dari Menara Eiffel, Museum Louvre, dan Arc de Triomphe di Paris, hingga Atomium dan Katedral St. Michael dan St. Gudula di Brussels. Peserta juga menjelajahi kawasan bersejarah di Belgia, Belanda, Jerman, dan Luksemburg, termasuk situs warisan dunia UNESCO.
Melalui I-SMASH Eropa 2026, mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Malang tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di luar negeri, tetapi juga kesempatan memahami perbedaan budaya, memperluas jejaring internasional, dan melihat langsung praktik diplomasi serta kehidupan masyarakat Eropa.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal berharga yang dapat dibagikan kepada mahasiswa lain setelah kembali ke Indonesia.(*)