KETIK, BONDOWOSO – Semangat Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Bondowoso tak sekadar dirayakan melalui kegiatan seremonial. Satuan Koordinator Rayon (Satkoryon) Banser Kecamatan Binakal bersama Pemerintah Desa Gadingsari menerjemahkan semangat pengabdian tersebut ke dalam aksi nyata melalui khitan massal modern dan santunan bagi janda sepuh, Rabu, 21 Oktober 2026, di Balai Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal, Bondowoso.

Mengusung tema “Bersama Santri, Membangun Negeri: Mewujudkan Kepedulian dan Kesehatan bagi Umat”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara unsur kepemudaan Nahdlatul Ulama, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan lembaga sosial untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Program kemanusiaan tersebut mendapat dukungan dari Klinik Al Fatih Bondowoso dan NU Care-LAZISNU. Kolaborasi ini menyatukan dua bentuk kepedulian sekaligus, yakni pelayanan kesehatan bagi anak-anak melalui khitan massal dan bantuan sosial bagi para janda lanjut usia yang membutuhkan perhatian.

Panitia pelaksana, Imam, mengapresiasi keterlibatan seluruh pihak yang turut menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menilai, terselenggaranya program ini tidak lepas dari semangat gotong royong, dukungan para donatur, serta kepedulian berbagai elemen masyarakat.

Menurutnya, kebersamaan yang telah terbangun perlu dijaga dan diperkuat agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan jangkauan penerima manfaat yang semakin luas.

Baca Juga:
94 KDKMP Lolos Verifikasi, Bondowoso Menanti Komando Pusat untuk Operasional

Di bidang kesehatan, Klinik Al Fatih Bondowoso mengambil peran melalui pelayanan khitan massal menggunakan metode modern. Kehadiran layanan ini menjadi upaya mendekatkan akses pelayanan medis kepada masyarakat, terutama keluarga yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak.

Manajer Klinik Al Fatih Bondowoso, Nurul Imam, menjelaskan bahwa khitan modern mengedepankan kenyamanan dan keamanan anak selama tindakan, dengan tetap memperhatikan standar prosedur pelayanan medis.

Keterlibatan klinik dalam kegiatan sosial tersebut sekaligus menegaskan komitmen untuk memperluas manfaat pelayanan kesehatan di luar layanan rutin fasilitas kesehatan.

Melalui program ini, masyarakat diharapkan memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengakses layanan khitan yang berkualitas. Sinergi dengan Banser dan pemerintah desa juga dinilai penting untuk menjangkau warga yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Baca Juga:
Kapolres Bondowoso Sidak SPBU, Pastikan Stok BBM Aman dan Cegah Penimbunan

Kasatkoryon Banser Binakal, Muhlas, menegaskan bahwa kehadiran Banser di tengah masyarakat tidak terbatas pada kegiatan keagamaan. Menurutnya, pengabdian juga harus diwujudkan melalui aksi kemanusiaan, kepedulian sosial, dan pelayanan bagi warga yang membutuhkan.

Komitmen tersebut sejalan dengan semangat Hari Santri Nasional yang mendorong lahirnya kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Kepala Desa Gadingsari, Abdul Halis, turut mengapresiasi kerja sama yang terjalin antara Banser, pemerintah desa, Klinik Al Fatih Bondowoso, dan NU Care-LAZISNU. Ia menyambut positif kegiatan yang menghadirkan manfaat langsung bagi warga, baik dari sisi kesehatan maupun kesejahteraan sosial.

Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi contoh bahwa persoalan masyarakat dapat ditangani secara lebih efektif ketika berbagai pihak bersedia bergotong royong dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Tak hanya berfokus pada kesehatan anak, kegiatan tersebut juga memberikan perhatian kepada kelompok lanjut usia melalui penyaluran santunan bagi para janda sepuh.

Bantuan ini menjadi bentuk solidaritas sosial sekaligus penghormatan kepada para lansia, khususnya mereka yang membutuhkan dukungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di tengah dinamika kehidupan masyarakat, perhatian terhadap kelompok rentan menjadi bagian penting dari semangat kemanusiaan yang diusung dalam peringatan Hari Santri Nasional.

Wakil Ketua NU Care-LAZISNU, Ahmad Juhadi, menyampaikan bahwa momentum HSN harus menjadi pengingat untuk memperkuat kepedulian, solidaritas, dan kedermawanan di lingkungan masyarakat.

Ia menilai, khitan massal merupakan wujud perhatian terhadap kesehatan anak, sementara santunan bagi janda sepuh mencerminkan kepedulian terhadap kesejahteraan lansia. Kedua program tersebut memperlihatkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan melalui tindakan yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.

Ahmad Juhadi juga menyampaikan terima kasih kepada para muzakki, munfiq, dan donatur yang telah mempercayakan penyaluran zakat, infak, serta sedekah melalui NU Care-LAZISNU.

Ia berharap kontribusi tersebut menjadi amal jariyah yang mendatangkan keberkahan sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Pelaksanaan khitan massal modern dan santunan janda sepuh di Desa Gadingsari menunjukkan bahwa peringatan Hari Santri Nasional dapat diisi dengan kegiatan yang melampaui seremoni. Semangat santri diterjemahkan melalui pelayanan kesehatan, kepedulian terhadap lansia, dan kerja bersama untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Kolaborasi Banser Binakal, Pemerintah Desa Gadingsari, Klinik Al Fatih Bondowoso, dan NU Care-LAZISNU menjadi bukti pentingnya keterlibatan berbagai unsur dalam menghadirkan program sosial yang menjawab kebutuhan warga.

Ke depan, kerja sama tersebut diharapkan terus berlanjut dan berkembang menjadi program kemanusiaan yang lebih luas, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan akses pelayanan kesehatan dan dukungan sosial.

Melalui semangat “Bersama Santri, Membangun Negeri”, Hari Santri Nasional 2026 di Bondowoso menghadirkan pesan bahwa pengabdian sejati bukan sekadar slogan. Pengabdian menemukan maknanya ketika kepedulian diwujudkan dalam tindakan, pelayanan diberikan dengan tulus, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan tidak dibiarkan berjalan sendiri.(*)