KETIK, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Peringatan tersebut disampaikan setelah fenomena El Niño masih terpantau aktif di Samudra Pasifik hingga awal Juli 2026 sehingga berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam keterangannya yang dikutip pada Jumat, 3 Juli 2026, BNPB menyebut hasil analisis indikator iklim global menunjukkan kondisi El Niño masih memengaruhi pola cuaca di Indonesia.

"Berdasarkan analisis indikator iklim global terkini, kondisi El Niño masih terpantau di Samudra Pasifik," demikian keterangan BNPB.

BNPB menjelaskan, keberadaan El Niño secara umum berdampak pada berkurangnya curah hujan sehingga meningkatkan potensi musim kering di berbagai daerah.

Baca Juga:
BPBD Jatim Gandeng BNPB, Gagas Program UMKM Tangguh Bencana

Kondisi tersebut membuat ancaman kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan perlu diantisipasi sejak dini.

Berdasarkan hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH), sebanyak 493 titik atau sekitar 11 persen wilayah pengamatan telah mengalami HTH kategori panjang. Sementara itu, sebanyak 84 titik atau sekitar 2 persen wilayah lainnya telah memasuki kategori sangat panjang.

Selain itu, suhu udara maksimum pada periode Sabtu, 28 Juni 2026 hingga Selasa, 1 Juli 2026 tercatat melebihi 35 derajat Celsius di sejumlah wilayah, di antaranya Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur.

Meski demikian, hujan masih terjadi di beberapa wilayah, terutama di Indonesia bagian utara dan sekitar garis khatulistiwa.

Baca Juga:
Ketua Harian APKASI Penguatan Fiskal Daerah Kunci Percepat Pembangunan Kabupaten

BNPB mencatat curah hujan tertinggi terjadi di Kepulauan Riau mencapai 81 milimeter per hari, disusul Kalimantan Barat sebesar 76 milimeter per hari, Papua Tengah 57 milimeter per hari, dan Sumatera Utara 54 milimeter per hari.

Menurut BNPB, hujan yang masih terjadi di sejumlah wilayah dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer, antara lain aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) di sebagian Papua, Gelombang Kelvin di wilayah Sumatra dan Kalimantan, serta Gelombang Rossby Ekuatorial yang meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.

Meski masih terdapat daerah yang diguyur hujan, BNPB menegaskan ancaman kekeringan tetap harus menjadi perhatian utama, terutama di wilayah yang telah memasuki musim kemarau.

Karena itu, pemerintah daerah diminta segera memetakan kawasan rawan kekeringan agar distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan lebih cepat apabila kondisi memburuk.

"BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah dan lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi ancaman kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," tulis BNPB.

BNPB juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan pokok, seperti air minum dan memasak, serta rutin memeriksa instalasi pipa untuk mencegah kebocoran yang dapat menyebabkan pemborosan air.

Selain itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan maupun membersihkan pekarangan dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan.

BNPB juga mengingatkan agar puntung rokok dipastikan benar-benar padam sebelum dibuang serta segera melaporkan kepada BPBD atau dinas pemadam kebakaran apabila menemukan titik asap maupun api agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.(*)