KETIK, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menyampaikan rencana besar pemerintah untuk merampingkan jumlah badan usaha milik negara (BUMN). Katanya, ia akan berencana menutup ratusan perusahaan yang dinilai tidak lagi produktif dan terus merugi.

Rencana ini disampaikan Prabowo dalam acara Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2026 di Kabupaten Bangkalan, Selasa 24 Juni 2026 kemarin.

Prabowo mengatakan, dirinya terkejut dengan besarnya jumlah BUMN yang mencapai lebih dari seribu entitas. Menurutnya, kondisi tersebut tidak efisien karena banyak perusahaan negara tidak memberikan kontribusi keuntungan, bahkan membebani keuangan negara.

"Sekarang kita sudah tutup kurang lebih 240 yang kita tutup. Nggak ada yang untung, rugi terus," katanya.

Ke depan, jumlah yang akan dikonsolidasikan atau ditutup diperkirakan bisa mencapai 700 hingga 800 perusahaan.

Prabowo menambahkan, langkah tersebut bukan sekadar penghematan, tetapi juga upaya membersihkan tata kelola BUMN agar lebih profesional dan bebas dari praktik yang merugikan negara.

Sementara itu, ia juga disebut tengah menjalankan agenda konsolidasi besar-besaran. Jumlah BUMN dan anak perusahaannya yang saat ini sekitar 1.100 unit, ditargetkan akan dipangkas menjadi sekitar 257 perusahaan.

"Sudah kita tutup, kita menghemat triliunan. Hanya dari nutup perusahaan-perusahaan yang nggak benar dan itu caranya para direksi itu nutupi korupsi mereka," pungkasnya. (*)

Baca Juga:
Ribuan Warga Gresik Turun Jalan, Dukung Program MBG Tetap Berlanjut
Baca Juga:
Kunjungan ke Gorontalo, Presiden Prabowo Kembali Klaim Swasembada Beras dan Jagung