KETIK, MALANG – Di zaman pesatnya perkembangan teknologi digital serta perubahan lanskap kerja, Rektor Universitas Negeri Malang (UM) menekankan lulusan kritis dan kreatif yang dibutuhkan oleh setiap perusahaan kerja.

Dengan berkembangnya teknologi hingga pandangan dunia kerja, saat ini perguruan tingi berupaya untuk bisa memiliki relevansi yang kuat dengan peluang kerja untuk memberikan jalan bagi setiap lulusan. Universitas Negeri Malang (UM) turut bersinergi dalam menciptakan lulusan yang kritis dan inovatif.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa di era disrupsi, instansi pendidikan harus dapat melahirkan lulusan yang kritis, reflektif, tangguh yang selalu memiliki pandangan terbuka kepada perkembangan zaman. 

Menurutnya, tantangan pendidikan di era saat ini adalah pada proses membentuk manusia agar mampu memahami kehidupan dengan berpikir kritis dan terus belajar dalam menghadapi perubahan dunia.

“Pendidikan itu bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan satu bidang. Bekerja memang penting karena melalui pekerjaan manusia bisa beraktualisasi, tetapi manusia belajar juga untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia,” tegas Prof. Hariyono.

Baca Juga:
Solidaritas Tanpa Batas! IMPALA UB Gelar UB Loop Run 50K, Alumni Turun Gunung

Perkembangan masyarakat modern membuat sekolah hingga perguruan tinggi berupaya untuk mendorong dalam memenuhi kebutuhan dunia kerja.

Namun, hal ini membuat instansi pendidikan untuk lebih mengarahkan para mahasiswa yang tak hanya menjadi pekerja, tetapi juga menumbuhkan rasa inisiatif dalam menyelesaikan masalah secara kritis dan inovatif.

Sehingga, nilai kemanusiaan akan terus melekat ketika berada di dunia kerja dan menjadi pihak-pihak yang bisa mengubah sistem kerja menjadi lebih kreatif.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial UM itu menyebut mahasiswa akan ditempatkan sebagai "sekrup pembangunan" jika pendidikan hanya mencetak pekerja.

Baca Juga:
Bukan Sekadar Ritual!” Dosen UM Bongkar Dampak Dahsyat Kurban bagi Solidaritas dan Ekonomi Rakyat

Hal ini juga menuai banyak kritikan dari berbagai pihak. Padahal, pendidikan Indonesia memiliki filosofi lebih dalam yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia secara holistik.

“Belajar bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk memperkuat eksistensi manusia, bagaimana kita belajar agar kapasitas belajar terus berkembang,” ujar Rektor UM.

Dalam hal ini, pendidikan filsafat hingga sejarah masih memiliki peran penting dalam membangun cara berpikir dan peradaban manusia. 

Dalam menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang cukup cepat dan sulit untuk diprediksi, UM mulai menggeser orientasi pembelajaran. Kampus yang dulunya dikenal dengan IKIP Malang tersebut kini lebih menekankan pada peningkatan kemampuan belajar.

Prof. Hariyono menyampaikan pendekatan tersebut direalisasikan melalui konsep transformasi dari The Learning University menjadi tagline Excellent in Learning Innovation yang terus dikembangkan oleh UM.

“Kita tidak lagi hanya fokus pada apa yang dipelajari, tetapi bagaimana seseorang belajar untuk terus belajar atau how learn to learn,” tuturnya.

Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi sangat penting karena ilmu dan keterampilan yang dipelajari hari ini belum tentu relevan beberapa tahun mendatang.

“Apa yang dipelajari sekarang bisa jadi sudah berubah ketika mahasiswa lulus nanti karena itu, yang paling penting adalah kapasitas belajar,” tambah Prof. Hariyono.

Dalam menangani tantangan tersebut, UM mulai mendorong pembelajaran lintas disiplin dan kolaborasi keilmuan. Dengan upaya ini, perkembangan ilmu tidak hanya dibangun dengan satu bidang saja, namun akan menciptakan kreativitas dengan kolaborasi antar keilmuan.

“Pendekatan multidisiplin menjadi penting karena kehidupan tidak bisa dipahami hanya dari satu perspektif ilmu,” ungkapnya.

Selain itu, Prof. Hariyono juga menegaskan pentingnya budaya refleksi dan otokritik di lingkungan pendidikan tinggi untuk mengevaluasi setiap kekurangan atau kesalahan yang membawa kualitas lebih baik lagi. Menurutnya, insan akademik harus berani mengakui kesalahan dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

“Orang terdidik itu harus kritis terhadap lingkungan di luar dirinya, tetapi juga harus kritis terhadap dirinya sendiri, kesadaran reflektif tidak hanya menuntut penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga keberanian moral,” pungkasnya.

Dalam perkembangan keilmuan, Prof. Hariyono menambahkan jika kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak karena ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan zaman. Salah satu contohnya adalah perubahan teori dari masa Ptolemeus hingga Copernicus yang menjadi bukti bahwa ilmu selalu melakukan revolusi.

“Kebenaran ilmiah sangat mungkin berubah seiring perkembangan zaman dan perspektif baru,” ujar Prof. Hariyono.

Dalam praktiknya, UM kini mengembangkan kurikulum berbasis kehidupan yang menempatkan pengalaman nyata sebagai bagian penting dalam proses belajar. Prof. Hariyono mengatakan jika pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan teori di ruang kelas, tetapi juga harus melibatkan pengalaman hidup.

Sesuai dengan falsafah Jawa "ilmu ngono kelakone kanthi laku" yang memiliki makna ilmu hanya bisa diperoleh melalui praktik dan keterlibatan langsung.

Bagi Prof. Hariyono, tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini bukan hanya menciptakan lulusan yang bisa cepat bekerja, tetapi membentuk manusia yang bisa belajar sepanjang hayat, responsif terhadap perubahan, dan tetap memiliki nilai kemanusiaan di tengah perkembangan zaman.(*)