KETIK, BATU – Komisi B DPRD Kota Batu bersama Perumdam Among Tirto Kota Batu, perwakilan kelompok tani, serta warga melakukan peninjauan langsung ke Sumber Genengan di Kelurahan Temas, Sabtu, 16 Mei 2026.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan rencana pemanfaatan sumber air bagi distribusi air bersih ke Desa Pendem, Mojorejo, dan Beji tidak mengganggu kebutuhan irigasi pertanian warga.

Direktur Perumdam Among Tirto, Achmad Yusuf, mengatakan kunjungan lapangan dilakukan untuk menjelaskan titik sumber air yang akan dimanfaatkan sekaligus memaparkan skema teknis yang disiapkan perusahaan daerah tersebut.

“Kami bersama Komisi B dan kelompok tani turun langsung ke lokasi sumber untuk menjelaskan titik mana yang akan dimanfaatkan serta skema teknis yang nantinya dijalankan Perumdam,” ujar Gendon, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, dalam pembahasan tersebut muncul sejumlah poin penting terkait kolaborasi lintas dinas guna menjaga keseimbangan kebutuhan air bersih dan pertanian.

Baca Juga:
Dugaan Jual Beli Lapak PKL Kota Batu Meresahkan, Pemkot Didesak Bertindak

“Ada beberapa hal yang menjadi perhatian bersama, salah satunya bagaimana kami bisa berkolaborasi dengan dinas terkait, khususnya Dinas PUPR dan Dinas Pertanian,” katanya.

Dalam waktu dekat, Perumdam disebut akan menyusun draft berita acara kesepakatan bersama sebagai dasar pelaksanaan teknis di lapangan.

Menurutnya, Dinas PUPR nantinya diharapkan membantu perbaikan pintu dam, sedangkan Dinas Pertanian akan dilibatkan dalam pembenahan jalur irigasi hingga pembangunan embung.

Selain itu, Perumdam juga akan melakukan uji laboratorium terhadap limpasan air sungai di depan MAN Kota Batu sebelum dimanfaatkan sebagai pengganti debit air yang digunakan untuk kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:
Beredar DED Gedung DPRD Kota Batu, Kadisperkim: Dibuat Sebelum Saya Bertugas

“Jika hasil uji laboratorium menunjukkan air tersebut aman dan tidak mengandung limbah berbahaya untuk pertanian, maka air itu akan dialirkan menggunakan pipa menuju jalur irigasi sebagai pengganti defisit debit yang kami ambil sekitar 4 liter per detik,” jelasnya.

Gendon menegaskan langkah awal yang akan dilakukan adalah uji coba teknis atau trial agar seluruh pihak dapat mengetahui dampak nyata di lapangan.

“Kami harus segera trial. Kalau hanya terus berdiskusi tanpa uji coba, persoalan ini tidak akan selesai,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Bagian Teknik Perumdam Among Tirto, Ikhwan Hadi. Ia menyebut pertemuan lapangan menghasilkan kesepahaman awal antara Perumdam dan kelompok tani terkait solusi pemanfaatan sumber air.

“Alhamdulillah, dengan hadirnya Komisi B dan pemerintah, mulai muncul kesepahaman mengenai solusi terbaik antara kebutuhan air masyarakat dan kepentingan pertanian,” ujarnya.

Ia memastikan debit air yang akan dimanfaatkan relatif kecil, yakni sekitar 4 hingga 5 liter per detik, sehingga diharapkan tidak berdampak signifikan terhadap kebutuhan petani.

“Debit yang kami ambil tidak lebih dari 4 sampai 5 liter per detik. Harapannya bisa menambah kekurangan debit air untuk masyarakat tanpa mengganggu kebutuhan pertanian,” katanya.

Menurut Ikhwan, tahap uji coba menjadi langkah penting untuk melihat langsung kondisi riil di lapangan.

“Lewat trial nanti petani bisa melihat sendiri apakah kekhawatiran yang selama ini muncul benar-benar terjadi atau tidak,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Batu, Asmadi, menyatakan peninjauan lapangan dilakukan setelah sebelumnya Perumdam menyampaikan rencana pemanfaatan Sumber Genengan dalam agenda hearing bersama DPRD.

“Awalnya kami khawatir pengambilan sumber air ini akan mengganggu pertanian. Namun setelah turun langsung ke lapangan, ternyata debit yang diambil hanya sekitar 4,7 liter per detik dan sumbernya bukan dari sumber induk,” terang Asmadi.

Ia menyebut para petani juga sudah melihat langsung lokasi sumber air yang ditemukan Perumdam dan mulai memahami skema yang direncanakan.

“Petani tadi juga menyaksikan langsung bahwa yang diambil bukan sumber utama, melainkan sumber baru yang ditemukan Perumdam,” katanya.

Asmadi menegaskan DPRD mendukung rencana distribusi air bersih tersebut karena menyangkut kebutuhan ribuan warga di wilayah Beji, Mojorejo, dan Pendem.

“Kami sangat mendukung karena ini untuk kebutuhan air minum sekitar 2.000 warga. Tetapi kami juga meminta jangan sampai jatah air pertanian dikurangi,” tegasnya.

Menurutnya, DPRD juga akan mendorong perhatian pemerintah terhadap kebutuhan petani yang selama ini merasa kurang diperhatikan, termasuk melalui pembahasan lanjutan bersama komisi terkait.

Di sisi lain, salah satu petani Glonggong Temas, Kusnan, mengaku mulai melihat adanya solusi yang memungkinkan kebutuhan petani dan masyarakat dapat berjalan beriringan.

“Setelah survei bersama Perumdam dan Komisi B, ada beberapa solusi yang kemungkinan bisa dilakukan agar tidak terjadi benturan dengan kelompok tani,” ujarnya.

Ia menjelaskan salah satu opsi yang muncul adalah penggantian pasokan air dari aliran di depan MAN Kota Batu atau pembangunan tandon dan bendungan kecil untuk mendukung irigasi.

“Volume air yang diambil juga relatif kecil, mungkin hanya menggunakan pipa ukuran dua dim,” katanya.

Kusnan menegaskan kelompok tani pada prinsipnya tidak menolak kebutuhan masyarakat terhadap air bersih selama ada komunikasi dan solusi yang adil.

“Kami juga memahami warga lain sangat membutuhkan air bersih. Yang penting semua pihak bisa duduk bersama agar persoalan air ini tidak menimbulkan gesekan antara petani dan Perumdam,” pungkasnya.(*)