KETIK, SURABAYA – Nuansa kemerdekaan begitu kental terasa di Kantor DPD Partai Golkar Kota Surabaya. Sejak awal Agustus 2025, gedung yang terletak di Jalan Adhityawarman itu dihiasi berbagai ornamen merah putih.

Bendera, umbul-umbul, hingga spanduk bertema perjuangan terpampang gagah, seolah menjadi ajakan bagi masyarakat untuk kembali menghayati semangat kemerdekaan.

Ketua DPD Partai Golkar Surabaya, Arif Fathoni, mengatakan bahwa pemasangan ornamen tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi wujud nyata dari rasa syukur dan penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan bangsa.

“Bulan Agustus adalah bulan yang sakral bagi bangsa Indonesia. Ini bulan ketika kita lepas dari kolonialisme asing setelah perjuangan yang begitu panjang dan berdarah-darah. Para pendahulu kita mengorbankan nyawa, tenaga, dan air mata untuk kemerdekaan ini,” ujar Fathoni pada Minggu 3 Agustus 2025 di Surabaya.

Ia menjelaskan, pengibaran bendera Merah Putih dan semarak atribut kemerdekaan menjadi simbol bahwa bangsa ini masih menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan dan kedaulatan.

“Pemasangan bendera Merah Putih merupakan ungkapan rasa syukur kita karena kita telah menjadi negara yang berdaulat. Ini juga pesan tegas bahwa bangsa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan,” lanjut Wakil Ketua DPRD Surabaya tersebut.

Soroti Soal Bendera One Piece

Adanya tren pengibaran bendera bajak laut One Piece yang dikabarkan di bawah bendera merah putih, Fathoni mengungkap bahwa fenomena ini sangat memprihatinkan.

“Itu jelas memilukan. Kesadaran berbangsa seolah memudar. Kreativitas di negara demokratis memang sah-sah saja, tapi jangan sampai merongrong kewibawaan simbol-simbol negara. Merah Putih adalah identitas dan kehormatan kita sebagai bangsa,” tegas Politisi yang baru saja meraih penghargaan tokoh politik inspiratif.

Fathoni pun mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memaknai bulan kemerdekaan secara lebih mendalam dan menjaga semangat nasionalisme tetap hidup.

“Kalau kantor partai saja bisa pasang ornamen lengkap, apalagi rumah-rumah warga. Ini bukan soal dekorasi semata, tapi soal penghormatan terhadap sejarah dan semangat untuk menjaga masa depan bangsa,” pungkasnya. (*)

Baca Juga:
Tak Cukup Teriak di Jalanan, Suryadi Pilih Masuk Sistem untuk Perjuangkan Aspirasi Warga Kota Malang
Baca Juga:
Penemuan Jenazah di Bawah Jembatan Tol Wonocolo Surabaya, Tim 112 Segera Evakuasi