KETIK, TRENGGALEK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Trenggalek terus melakukan inovasi dalam rangka mendukung Program Desa Percontohan Sanitasi Kabupaten.
Salah satunya dengan melakukan kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pengelolaan Sampah Residu Rumah Tangga, khususnya popok bayi.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh kader Bank Sampah, DLH, Puskesmas Pucanganak, dan Pemerintah Desa Gading, berlangsung di TPS3R, Desa Gading, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Rabu 12 Agustus 2026.
Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris DLH Trenggalek, Ariyoga Widyasetyo Wahono, mengatakan, materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut berupa edukasi mengenai sampah residu popok bayi dan praktik pemanfaatan popok bayi bekas melalui proses penguraian penguraian/fermentasi untuk mengurangi timbulan sampah dan memanfaatkan sebagai media tanam.
"Kami menegaskan jika sampah popok bayi menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan lingkungan hidup dan membutuhkan waktu yang lama untuk terurai secara alami. Sehingga, perlu pemanfaatan agar timbulan sampah popok bisa dikurangi," ucapnya.
Baca Juga:
Cegah Risiko Kontaminasi, 50 Ahli Gizi hingga Pramusaji RSUD dr. Darsono Pacitan DilatihAri sapaan dia menuturkan, berdasarkan materi latihan, larutan biang/pengurai yang digunakan antara lain, air kelapa atau air leri sebanyak 2 liter, 1/2 liter mol, 1 sachet terasi, dan 20 gram gula pasir.
"Bahan tersebut dicampur kemudian didiamkan selama 24 jam untuk mengaktifkan larutan sebelum digunakan," ujarnya.
Sedangkan tahapan praktiknya, lanjut Ari, adalah menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, membuat larutan biang/pengurai dadi air kelapa atau air leri, EM4, mol, terasi, dan gula pasir.
Mendiamkan larutan selama 24 jam untuk mengaktifkan larutan, menyiapkan popok bayi bekas dan mengambil bagian gel penyerpaan, kemudian memasukan dalam wadah atau timba, serta menuangkan larutan dalam gel popok bayi dan mengaduk secara merata.
Baca Juga:
DPRK Abdya Dukung Kabid DLH, Zulkarnaini: Solusi Sampah Bukan Saling Menyalahkan"Termasuk menutup rapat wadah kemudian dilakukan proses fermentasi selama 2 jam dan hasilnya bisa digunakan sebagai media tanam," tandasnya.
Ia berharap, kegiatan sosialisasi dan praktik ini bisa bermanfaat, di mana masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah residu popok bayi serta keterampilan dalam melakukan pengelolaan melalui proses fermentasi.
"Ini juga salah satu langkah mengurangi timbulan sampah popok bayi di Desa Gading dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga lebih bertanggungjawab," tutupnya (*)