KETIK, MALANG – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, penjual sapi kurban, Paimo Blantik di Kota Malang masih dihantui dengan wabah penyakit PMK dan Lato-Lato, hingga selalu melakukan pengecekan kesehatan secara berkala terhadap puluhan hewan kurban yang dijual untuk memastikan seluruh sapi dalam kondisi sehat, bebas dari penyakit menular, serta layak dikurbankan.
Upaya tersebut dilakukan mulai dari pemantauan nafsu makan, kenyamanan kandang, hingga pemeriksaan fisik hewan kurban sebagai bentuk komitmen memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada masyarakat saat memberi hewan kurban.
Hari Raya Iduladha menjadi salah satu momen yang paling ditunggu oleh masyarakat Malang. Saat ini tengah banyak para peternak sapi ataupun kambing yang mulai menunjukkan keberadaannya di pinggir-pinggir jalan raya.
Mereka menawarkan hasil ternak yang telah ia rawat untuk menjadi hewan kurban di tahun ini. Salah satunya adalah Paimo, seorang peternak yang telah berjualan hewan kurban, khususnya sapi sejak tahun 1973.
Sebagai seorang peternak, tentunya Hari Raya Iduladha menjadi salah satu momentum untuk menawarkan puluhan sapi. Namun, di tahun ini, Luvia selaku pegawai dari Paimo mengungkapkan jika ada penurunan jumlah sapi yang ditawarkan.
Baca Juga:
Geger! Pedagang Ayam di Danau Jonge Kota Malang Dibacok Pria Misterius, Diduga Persaingan UsahaHal ini disebabkan harga sapi yang melonjak naik, sehingga ada pengurangan jumlah yang dijual. Luvia mengatakan Di tahun-tahun sebelumnya, ia biasa menyiapkan 75 ekor sapi dengan 125 kambing, sementara tahun ini Paimo Blantik menyiapkan 52 ekor sapi dan 84 ekor kambing.
Paimo Blantik telah menyiapkan beberapa jenis sapi untuk ditawarkan kepada pembeli, seperti Limousin dan peranakan Sumbawa dengan Australia. Namun, tahun ini sudah tidak menyediakan sapi Madura.
Luvia juga mengatakan jika stok sapi bagus yang semakin sedikit di tahun ini paling murah Rp24juta dengan kualitas sapi yang benar-benar bagus. Sementara, pembeli banyak yang mencari di harga Rp21juta, Rp22juta, dan Rp23juta.
Paimo Blantik sendiri telah menyiapkan sapi dengan berat 400 kilogram hingga 700 kilogram dengan harga Rp24juta hingga Rp35juta. Hal ini menjadi tantangan yang ia hadapi di tahun ini.
Baca Juga:
Aston Malang Hadirkan Saturday Brunch, Tawarkan Pengalaman Bersantap Spesial Setiap Sabtu"Kendala pertama itu sebetulnya ketersediaan stok. Jadi biasanya itu stok-stok yang misalkan harga Rp20 juta, Rp21 juta. Itu dipasaran kan rebutan. Jadi kita kesulitan cari barang yang bagus dengan harga yang murah karena biasanya barang-barang bagusnya harganya naik. Yang tersedia cuma sisa yang kurang sehat itu tadi, kan kita tidak mungkin menyediakan barang kurang sehat," ujar Luvia.
"Biasanya di harga Rp20 jutaan itu dapat ukurannya 400 kilogram. Tahun ini hanya dapat 350 kilogram seperti itu. Jadi ada penurunan. Kualitasnya juga agak kurang bagus ya dibanding yang tahun kemarin," imbuhnya.
Tak hanya itu, wabah PMK dan Lato-lato juga selalu menghantui para peternak. Pada Paimo Blantik, kesehatan hewan kurban menjadi nomor satu dan pastinya ada jaminan untuk itu. Luvia menuturkan jika ia memiliki dokter hewan khusus yang setiap harinya memeriksa keadaan hewan-hewan kurban.
Dalam menjual hewan kurban, tentunya kepercayaan pelanggan menjadi yang nomer satu. Ia mengatakan jika hewan kurban dipastikan tetap sehat sampai hari mereka disembelih dan ada jaminan untuk itu karena pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan secara berkala.
"Kami masih dihantui penyakit PMK sama Lato-Lato. Kami mengatasinya, pertama itu memilih sapinya yang bagus. Kita pastikan dulu sapinya bagus. Yang kedua kami ada dokter sendiri. Kami ada dokter hewan," tutur wanita usia 37 tahun tersebut.
"Jadi kami sudah bekerja sama dengan dokter hewannya. Jadi ada dokter yang datang ke tempat kami secara berkala. Jadi melakukan pemeriksaan seperti ini. Semalam dilakukan pemeriksaan. Jadi dipastikan hewan yang kami jual betul-betul hewan yang sehat," tambahnya.
Setiap tahun, Luvia berharap agar harga sapi bisa turun dan pelanggan bisa dapat harga yang bagus dengan ukuran sapi yang besar dan wabah penyakit bisa menghilang karena harga dan penyakit yang menjadi tantangan setipa tahun bagi para peternak.
"Harapannya, kalau kita setiap tahun sama. Harganya sapinya di harapan bisa turun. Jadi pembeli juga bisa dapat harga yang bagus. Terus sapinya juga yang gede-gede. Maunya seperti itu. Lalu harapannya juga semoga nggak ada penyakit lagi karena tiap tahun dihantui PMK sama lato-lato kan kita," ucap Luvia penuh harapan.(*)