KETIK, JAKARTA – Masyarakat Jawa kembali akan memasuki Malam 1 Suro yang tahun ini bertepatan dengan malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah pada Selasa, 16 Juni 2026.

Hingga kini, Malam Satu Suro masih menjadi salah satu momentum budaya yang sarat makna, tradisi, dan nilai spiritual di tengah masyarakat Jawa.

Tidak sedikit masyarakat yang mengaitkan Malam Satu Suro dengan berbagai cerita mistis dan hal-hal gaib.

Namun di balik berbagai mitos yang berkembang, para budayawan menilai malam tersebut sejatinya merupakan momentum refleksi diri, introspeksi, dan pelestarian tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Kesakralan Bulan Suro

Baca Juga:
Ajak Warga Jaga Kamtibmas, Plt Wali Kota Madiun Ingin Perayaan 1 Suro Berdampak Positif bagi Pelaku UMKM

Sejarawan dan budayawan Muhammad Solikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa menjelaskan bahwa kesakralan Bulan Suro tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya keraton yang selama berabad-abad menjadi pusat kehidupan masyarakat Jawa.

Menurut Solikhin, masyarakat Jawa memiliki sistem budaya yang bersifat kosmologis, yakni menempatkan keraton sebagai pusat kehidupan sosial, budaya, dan spiritual. Karena itu, berbagai tradisi dan ritual yang dilakukan keraton akhirnya diikuti oleh masyarakat luas.

"Kebiasaan keraton yang menggelar berbagai ritual pada momentum tertentu, termasuk Malam Satu Suro, kemudian menjadi tradisi yang diyakini dan dilestarikan masyarakat hingga sekarang," tulis Solikhin.

Pandangan serupa juga dijelaskan antropolog Clifford Geertz dalam buku Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Menurut Geertz, masyarakat Jawa tradisional sangat menjunjung harmoni kehidupan dan berusaha menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga:
Sambut Suran Agung 2026, Madiun Siagakan 673 Personel dan Ajak Warga Jaga Kondusivitas

Karena itu, berbagai ritual dan selamatan dilakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon keselamatan serta menghindari berbagai gangguan dalam kehidupan.

Tradisi yang Masih Lestari

Hingga kini, terdapat sejumlah tradisi yang masih dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut Malam Satu Suro.

  1. Lek-Lekan atau Begadang Semalam Suntuk

Tradisi yang paling banyak dijumpai adalah lek-lekan atau begadang. Pada malam pergantian tahun Jawa, warga biasanya berkumpul di rumah, pos ronda, balai desa, maupun tempat-tempat tertentu untuk berjaga hingga dini hari.

Selain menjadi sarana mempererat hubungan sosial, lek-lekan juga dipercaya sebagai simbol kesiapan menyambut tahun baru dengan harapan memperoleh keselamatan dan keberkahan.

Di sejumlah daerah, kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama, makan bersama, hingga diskusi budaya.

  1. Tirakatan dan Muhasabah

Tirakatan menjadi tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari Malam Satu Suro. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan berdoa, berdzikir, membaca wirid, atau menyendiri untuk melakukan introspeksi diri.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, malam tersebut dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama satu tahun terakhir sekaligus memanjatkan harapan dan doa di tahun yang baru.

Tradisi tirakatan saat ini juga banyak diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, doa bersama, dan istighotsah.

  1. Jamasan Pusaka

Tradisi lain yang masih bertahan adalah jamasan pusaka atau pencucian benda-benda pusaka peninggalan leluhur seperti keris, tombak, dan berbagai benda bersejarah lainnya.

Tradisi ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya membersihkan benda pusaka secara fisik, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, budaya, dan jasa para leluhur.

Biasanya pusaka dimandikan menggunakan air yang telah disiapkan secara khusus sesuai adat masing-masing daerah.

  1. Kirab Kebo Bule

Di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta, Malam Satu Suro identik dengan tradisi Kirab Kebo Bule.

Kirab merupakan arak-arakan kerbau albino milik keraton yang berjalan mengelilingi kawasan keraton diiringi para abdi dalem.

Tradisi ini memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan masa pemerintahan Pakubuwono II saat mencari lokasi pembangunan Keraton Surakarta.

Menurut catatan sejarah, kerbau-kerbau tersebut dilepas dan diikuti hingga berhenti di lokasi yang kini menjadi kawasan Keraton Kasunanan Surakarta.

  1. Mubeng Benteng

Sementara itu, di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dikenal tradisi Mubeng Benteng.

Tradisi ini dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara, makan, maupun minum.

Mubeng Benteng dimaknai sebagai simbol pengendalian diri, kesabaran, dan refleksi atas perjalanan hidup seseorang.

Peserta biasanya berjalan dalam suasana hening sebagai bentuk perenungan terhadap segala perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

Makna dari Tradisi

Di tengah berkembangnya berbagai cerita mistis yang selalu muncul menjelang Malam Satu Suro, para budayawan menilai masyarakat perlu memahami makna sebenarnya dari tradisi tersebut.

Malam Satu Suro bukan hanya soal larangan keluar rumah, cerita gaib, atau berbagai pantangan yang berkembang di masyarakat.

Lebih dari itu, momentum ini mengandung pesan penting tentang introspeksi diri, menjaga hubungan sosial, memperkuat spiritualitas, serta melestarikan warisan budaya bangsa.

Di sejumlah daerah, termasuk di Jawa Timur, Malam Satu Suro kini juga diperingati melalui kegiatan keagamaan seperti doa bersama, istighotsah, pengajian, hingga santunan sosial yang melibatkan masyarakat luas.(*)