KETIK, MALANG – Career Development Center (CDC) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Seminar Series #2 bertajuk “Beyond Borders: Berani Berkarier dan Studi di Dunia Internasional” pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk berbagi pengalaman dan wawasan tentang peluang berkarier maupun melanjutkan studi di luar negeri.
Seminar ini menghadirkan Dony Cahyono, M.A., lulusan magister dari London, dan Ribut Wahyudi, M.Ed., Ph.D., dosen UIN Malang yang juga aktif sebagai penulis dan reviewer akademik internasional. Diskusi dipandu Ulfah Muhayani, MPP., Ph.D., dosen UIN Malang sekaligus Kepala Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang menempuh pendidikan magister dan doktoral di Australia.
Perjalanan menuju karier internasional tidak selalu dimulai dari ruang-ruang bergengsi di luar negeri. Langkah tersebut bisa berawal dari kegiatan debat di kampus, pengalaman mendampingi mahasiswa di Ma’had, hingga keberanian mencoba peluang yang belum tentu langsung membuahkan hasil.
Bagi Dony Cahyono, M.A., alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang kini berkiprah sebagai praktisi hubungan internasional serta diplomasi sains dan teknologi di tingkat ASEAN, pengalaman selama kuliah menjadi bekal penting untuk menapaki dunia profesional lintas negara.
Bekal Kampus dan Ketangguhan Diri
Baca Juga:
Miftahul Huda Dampingi 4 Mahasiswa UIN Malang Bertemu Dubes RI di Brussels, Perluas Wawasan Akademik hingga Geopolitik EropaBagi Dony, pengalaman kuliah bukan semata-mata tentang memperoleh gelar akademik. Kegiatan debat yang diikutinya melatih keberanian menyampaikan gagasan, berpikir kritis, dan membangun argumentasi.
Sementara itu, pengalamannya menjadi musyrif di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly turut membentuk kedisiplinan dan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi dunia internasional tidak terbentuk secara instan.
Kemampuan berkomunikasi, keberanian mengambil keputusan, dan daya tahan menghadapi tekanan dapat tumbuh melalui berbagai pengalaman selama menjadi mahasiswa. Bekal ini menjadi penting ketika seseorang harus bekerja dengan orang-orang dari latar belakang budaya dan profesional yang beragam.
Dalam seminar tersebut, Dony juga berbagi tentang dinamika dunia kerja internasional, termasuk suka dan dukanya. Berkarier di lingkungan global menuntut lebih dari sekadar kemampuan akademik. Seseorang perlu terus belajar, beradaptasi, membangun jejaring, dan bersedia keluar dari zona nyaman.
Baca Juga:
Siap Tambah Pengalaman di Kampus? Humas Muda Unisma Buka Rekrutmen 4 DivisiNamun, bagi Dony, ikhtiar dan strategi bukan satu-satunya hal yang perlu dijaga. Ia mengingatkan pentingnya kesungguhan berdoa kepada Allah serta memohon doa orang tua. Pesan ini menunjukkan bahwa perjuangan profesional, dalam pandangannya, berjalan beriringan dengan keyakinan spiritual dan dukungan keluarga.
Ribut Wahyudi membagikan pengalamannya memperoleh beasiswa magister dan doktoral di Australia. Ia menekankan pentingnya mempersiapkan kemampuan bahasa, aktif mencari informasi beasiswa, menyusun aplikasi dengan baik, serta menjaga konsistensi selama proses seleksi.
Kesempatan menempuh studi di luar negeri, berdasarkan pengalaman yang dibagikannya, membutuhkan persiapan serius sekaligus keberanian untuk mencoba.
Sejalan dengan Dony, Ribut juga menekankan pentingnya doa kepada Allah dan doa orang tua dalam perjalanan meraih cita-cita.
Sementara itu, Ulfah Muhayani turut berbagi pengalamannya memperoleh beasiswa luar negeri. Pengalaman ketiganya memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki jalur perjalanan berbeda. Namun, persiapan, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting dalam meraih peluang internasional.
Satu Langkah Menuju Peluang Global
Di akhir diskusi, Ulfah mengajak peserta untuk tidak memandang studi dan karier internasional sebagai sesuatu yang terlalu jauh untuk dijangkau. Langkah awal dapat dimulai dari hal sederhana, seperti meningkatkan kemampuan bahasa, mencari informasi beasiswa, memperluas jejaring, atau mengirimkan lamaran pekerjaan pertama.
“Perjalanan setiap orang tentu berbeda. Ada yang memulainya dengan memperbaiki kemampuan bahasa, mencari informasi beasiswa, membangun jejaring, atau mengirimkan lamaran pertama. Kita tidak harus memiliki semua jawabannya hari ini, tetapi kita bisa menentukan satu langkah yang akan dilakukan setelah meninggalkan ruangan ini,” ujarnya.
Kepala Pusat CDC UIN Malang, Dr. Ahmad Ghozi, M.A., mengatakan CDC akan terus berupaya menyediakan informasi dan membuka akses terhadap berbagai peluang bagi mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan. Upaya tersebut menjadi bagian dari pendampingan agar mahasiswa dapat mengenali potensi diri, mengembangkan kompetensi, dan mengambil keputusan karier secara lebih terarah.
Pengalaman yang dibagikan dalam seminar ini menunjukkan bahwa menembus batas negara bukan sekadar persoalan keberangkatan ke luar negeri. Ada proses panjang untuk membangun kemampuan, membentuk karakter, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan.
Kampus dapat menjadi tempat awal proses tersebut tumbuh, sementara pengalaman, ikhtiar, doa, dan dukungan orang tua menjadi bagian dari perjalanan selanjutnya.
Peluang global tidak selalu datang kepada mereka yang merasa paling siap. Peluang juga dapat terbuka bagi mereka yang bersedia belajar, berani mencoba, dan tekun mempersiapkan diri, selangkah demi selangkah. (*)