KETIK, YOGYAKARTA
– Suasana Gedung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) tampak hidup. Bus edukasi milik PT AIA FINANCIAL (AIA), perusahaan asuransi jiwa terkemuka di Indonesia, datang membawa misi khusus: mengikis jarak pemahaman finansial di kalangan anak muda.
Kehadiran bus AIA SILABUS ini punya dasar kuat. Merujuk Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK bersama LPS dan BPS pada 11 Agustus lalu, indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa baru mencapai 62,72 persen. Angka itu tertinggal dari rata-rata nasional yang menyentuh 69,57 persen.
Namun di sisi lain, saat pemahaman literasi rendah, tingkat inklusi keuangan kelompok ini justru melambung di angka 92,76 persen. Artinya, akses produk digital sudah di tangan, tetapi pemahaman risikonya masih tipis. Selisih hampir 30 poin ini kerap menjadi perangkap finansial bagi anak muda.
"Di AIA, kami percaya bahwa kesehatan finansial merupakan bagian penting dari hidup yang lebih sehat, lebih lama, lebih baik," ujar Head of Corporate Communication AIA, Lia Merdekawaty, dalam keterangannya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Lia menilai mahasiswa sebagai motor penggerak ekonomi masa depan. Karena itu, intervensi dini mutlak diperlukan. Tujuannya agar mereka tidak sekadar jago memakai aplikasi keuangan, tetapi juga paham cara mengatur anggaran, mengenali risiko, dan berproteksi sejak bangku kuliah.
Sebagai langkah nyata, AIA mengajak mahasiswa langsung menjadi Duta Literasi. Melalui program ini, peserta didorong membagikan ilmu keuangan kepada teman, keluarga, serta komunitas terdekat.
Antusiasme peserta langsung terasa saat sesi diskusi interaktif dimulai. Menghadirkan Certified Financial Planner sekaligus kreator konten keuangan, Olivia Louise, suasana ruang acara mendadak cair lewat bedah kasus gaya hidup digital anak muda.
"Banyak mahasiswa merasa perencanaan keuangan baru diperlukan ketika sudah memiliki penghasilan tetap," kata Olivia.
Menurutnya, mitos keliru itu harus dipangkas. Pengelolaan uang yang sehat tidak perlu menunggu dompet tebal atau gaji pertama.
"Padahal kebiasaan finansial bisa dibangun sejak sekarang, berapa pun uang yang dimiliki. Mulai dari mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga menyisihkan dana secara konsisten," tegas Olivia lagi.
Untuk mencairkan suasana, panitia meramu acara dengan pendekatan santai. Ada lokakarya, kuis, permainan bertema finansial, hingga ditutup penampilan musik dari Meiska yang sukses memikat pengunjung.
Langkah jemput bola ini menjadi pengingat penting. Derasnya arus digitalisasi finansial wajib diimbangi literasi matang agar generasi muda tidak salah melangkah. Kegiatan bus edukasi AIA Silabus di UGM sendiri berlangsung Minggu, 23 Agustus 2026. (*)