KETIK, ACEH BARAT DAYA – Tradisi menghormati waktu Magrib yang selama ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh Barat Daya (Abdya) dinilai mulai mengalami pergeseran. Di daerah yang dikenal sebagai bagian dari Serambi Mekkah, sejumlah aktivitas perdagangan masih berlangsung meski azan Magrib telah berkumandang.

Fenomena tersebut memunculkan keprihatinan sebagian masyarakat. Sejumlah pedagang terlihat tetap membuka usaha, mulai dari gerobak makanan, warung nasi hingga toko kelontong, bahkan sebagian masih melayani pembeli hingga waktu salat Magrib selesai.

Kondisi itu terlihat di sejumlah titik di kawasan pusat Kota Blangpidie, Selasa (4/8/2026). Pemandangan tersebut dinilai berbeda dengan budaya dan adat masyarakat Aceh yang selama ini dikenal menghentikan aktivitas sejenak untuk menghormati waktu salat Magrib.

Salah seorang warga Abdya, Khairijal, menilai kebiasaan tersebut berpotensi mengikis nilai-nilai budaya dan keistimewaan Aceh yang berlandaskan Syariat Islam.

"Jika kondisi ini terus dibiarkan, lambat laun budaya menghormati waktu Magrib bisa memudar. Padahal, itu merupakan salah satu identitas masyarakat Aceh yang harus dijaga bersama," ujarnya.

Baca Juga:
Ingat! Satpol PP-WH Abdya Bakal Tindak Pedagang yang Tetap Berjualan Saat Magrib

Menurutnya, penghormatan terhadap waktu Magrib bukan sekadar persoalan aktivitas ekonomi, melainkan juga bagian dari etika sosial dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun di Aceh.

Karena itu, Khairijal meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat Daya bersama Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH), Dinas Syariat Islam, serta Majelis Adat Aceh (MAA) dan pihak terkait untuk memberikan perhatian serius terhadap fenomena tersebut.

"Jika dibiarkan fenomena ini terus berlanjut, dikhawatirkan daerah kita akan sama dengan daerah-daerah yang tidak berlandaskan Syariat Islam," sebutnya.

Ia berharap instansi terkait dapat melakukan pembinaan, sosialisasi, serta penertiban secara humanis agar nilai-nilai Syariat Islam dan budaya lokal tetap terjaga tanpa mengabaikan pendekatan yang persuasif kepada masyarakat.

Baca Juga:
Sawah di Susoh Tergenang Luapan Drainase, Bupati Abdya Turunkan Alat Berat

"Keistimewaan Aceh bukan hanya tertulis dalam aturan, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga adab ketika azan Magrib berkumandang merupakan tanggung jawab bersama agar identitas daerah ini tetap terpelihara," tutup Khairijal terkait fenomena pudarnya budaya Magrib di Abdya. (*)