KETIK, JAKARTA – Masa jabatan Katie Zacharia sebagai juru bicara Gedung Putih berakhir setelah kurang dari sepekan.
Serangkaian kontroversi, mulai dari klaim profesi pengacara hingga komentar yang menyinggung China, membuat namanya menjadi sorotan di tengah pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dilansir AFP, Sabtu, seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Zacharia, 41, telah keluar dari posisi tersebut. Sebelumnya, Fox News melaporkan bahwa dia sedang dalam proses transisi keluar dari jabatannya.
Kabar tersebut mencuat setelah Trump memberikan sinyal bahwa Zacharia dapat mempertimbangkan kembali posisinya sebagai juru bicara Gedung Putih.
"Saya bilang, 'Katie, apakah ini untuk Anda?'" kata Trump kepada wartawan.
Baca Juga:
Singapura Buka Opsi Denda dan Tuntutan Hukum terhadap 7 Perusahaan RI soal Karhutla"Saya bilang, 'Katie, Anda tidak harus melakukan ini'... Saya berkata kepadanya, 'Sejujurnya, kalau saya jadi Anda, saya akan mempertimbangkannya kembali,'" lanjut Trump.
Salah satu kontroversi yang menyeret Zacharia berkaitan dengan klaimnya sebagai pengacara.
Dia diketahui merupakan lulusan Pepperdine University dengan gelar di bidang hukum dan pernah bekerja di sebuah firma hukum di Beijing.
Namun, Zacharia mengakui tidak menyelesaikan ujian profesi advokat di Amerika Serikat.
Baca Juga:
Revisi Daftar Pemilih Picu Protes di India, 200-an Orang dan Empat Jurnalis DitangkapDia mengatakan sempat mendaftar untuk mengikuti ujian tersebut, tetapi rencananya terganggu setelah pindah ke China bersama suaminya. Setelah kembali ke AS, dia tidak mengikuti ujian itu lagi.
Meski demikian, Zacharia bersikeras tetap dapat menyebut dirinya sebagai lawyer berdasarkan pendidikan dan pengalaman kerjanya di bidang hukum bisnis.
Persoalan tersebut memicu reaksi dari Campaign for Accountability, organisasi yang bergerak di bidang etika politik.
Organisasi itu mendesak California Bar Association menyelidiki penggunaan gelar profesi hukum oleh Zacharia.
Kontroversi lainnya muncul setelah Zacharia melontarkan komentar mengenai fasilitas toilet di China.
Dalam wawancara dengan influencer sayap kanan AS, Jack Posobiec, yang disiarkan pada Kamis, 15 Oktober 2026, dia mempertanyakan anggapan bahwa China akan menjadi negara adidaya berikutnya.
"Saya ingat betul saat itu, karena baru saja kembali dari China, saya berpikir, 'Bagaimana mungkin China menjadi negara berikutnya yang akan berjaya?' Mereka bahkan tidak memiliki toilet yang layak," ujar Zacharia.
Komentar tersebut menjadi sorotan karena Trump sebelumnya membanggakan hubungan yang sangat baik dengan Presiden China Xi Jinping.
Dalam pertemuan di Washington DC pada September lalu, kedua pemimpin membahas berbagai isu, mulai dari kecerdasan buatan dan perdagangan hingga konflik Iran.
Selain kontroversi tersebut, penampilan perdana Zacharia dalam konferensi pers Gedung Putih juga menuai kritik.
Konferensi pers pada Selasa, 13 Oktober 2026, berlangsung kurang dari 15 menit.
Dia membacakan daftar yang disebut sebagai pencapaian Trump dan hanya menjawab tiga pertanyaan dari wartawan.
Zacharia menggantikan Karoline Leavitt, yang dikenal agresif dalam menghadapi media selama menjalankan tugas sebagai juru bicara Gedung Putih.
Leavitt sebelumnya memberikan ruang lebih besar kepada media yang dianggap bersahabat dengan pemerintahan Trump, sekaligus bersikap keras terhadap media yang kritis.
Berbagai kontroversi tersebut membuat masa jabatan Zacharia berlangsung sangat singkat.(*)