Dalam realitas, kita sering mendengar sebuah kata dari para orang tua. Tentunya, sebagai orang tua, saya yakin, bahwa kalimat-kalimat yang terucap olehnya adalah buah kebajikan.  Karena saya terlahir dari suku Jawa, banyak petuah-petuah Jawa yang saya dapatkan seperti Berbudi Bowo Leksono, Sepi Ing Pamrih-Rame Ing Gawe, Memayu Hayuning Bawono dan tentunya masih banyak yang lain.

Kalimat-kalimat itu terdengar indah. Bukan sekadar ucapan-capan tanpa makna tetapi dapat menjadi pedoman dan pegangan hidup. Memang demikianlah, sebagai manusia, kita seharusnya hidup dengan arahan dan bimbingan “para senior” Dengan memahami dan menjalankan semua petuah-petuah bijak tersebut, kita akan menjalani hidup dengan “Adem Ayem Tentrem”

Dalam konteks saat ini, di mana relasi antar manusia bersifat sangat kompleks, tujuannya beragam.  Idealnya adalah relasi tersebut saling menguntungkan. Atau lebih terkenal dengan istilah simbiosis mutualisme. Relasi yang saling menguntungkan, tanpa satu pihak terugikan. Namun, ada sebuah kalimat yang terdengar indah, tetapi dalam prakteknya sulit dilakukan: berbuat baiklah tanpa mengharapkan balasan.

Dalam sebuah relasi antar manusia, sering kali kita jumpai bahwa manusia punya maksud tersembunyi. Kita sering menolong orang, tapi kemudian suatu hari kita berharap ditolongnya. Kita sering memberi, tapi berharap dikenang. Kita seing berkorban, tapi berharap pengorbanan itu dihargai. Semua yang baik-baik itu, ternyata tidak berhenti, namun ada kata sambungnya: “tapi”

Seakan-akan relasi tersebut bersyarat, sebuah relasi transaksional. Demikianlah yang terjadi terkini, bahwa kita sebagai manusia modern: kita ingin menjadi manusia dengan kebaikan, tetapi kebaikan itu Sebagian besar kita berikan dengan syarat. “Saya sebenarnya mau membantu, tapi dia dulu pernah menyakiti saya”, Saya ingin memaafkan, tapi dia belum minta maaf”, “Saya mau menolong, tapi bagaimana kalau nanti saya sendiri yang rugi?”

Baca Juga:
Pascaistikharah, Gus Kikin Pilih Sekjen PBNU yang Bersih dari Masalah Hukum

Kalau kita sadar, bahwa kita melakukan kebaikan karena memang kebaikan itu perlu dilakukan. Bukan karena keadaan harus terlebih dulu sesuai dengan keinginan kita. Kebaikan yang sejati, ia tidak membutuhkan validasi dari yang lain. Ia tidak butuh panggung, ia tidak butuh digembar-gemborkan. Ia tidak pula perlu difoto atau bahkan diumumkan ke publik. Bila semuanya dilakukan, kita perlu bertanya: apakah kebaikan yang dilakukan adalah kebaikan yang sebenar-benarnya atau sebuah penumpukan modal untuk citra diri?

Terdapat garis pemisah yang tipis antara menginspirasi dan memamerkan. Di zaman yang serba modern dan mutakhir ini, semua aktivitas yang dilakukan seseorang dapat direkam. Semua kegiatan dapat diumumkan ke ruang publik. Seorang yang berdonasi, namanya dimuat. Seseorang yang membantu korban bencana, rekamannya segera beredar. Sebetulnya, semuanya tidak dapat disalahkan, namun yang salah adalah ketika semua kebaikan tersebut adalah ujub dan penuh riya`.

Problema muncul ketika bentuk kebaikan yang dilakukan dijadikan alat untuk menagih balasan. “Saya dulu pernah membantu kamu”, Kebaikan yang dulu pernah dilakukan dengan tangan kanan, akan ditagih dengan tangan kiri. Kebaikan yang pernah dilakukan menjadi sebuah hutang moral. Relasi yang terjadi seperti hubungan bisnis: kalau aku melakukan ini kepadamu, aku akan dapat apa darimu? Hubungan yang dilakukan seperti hubungan antara kreditur dan debitur.

Kebaikan semacam di atas bukanlah kebaikan yang membebaskan. Bukanlah kebaikan yang memberikan kemerdekaan kepada yang lain. Justru ia menciptakan keterikatan yang menyiksa. Saya berpendapat, bahwa kebaikan yang sejati seharusnya membuat yang lain dapat kokoh berdiri tegak kembali. Ia dapat berdikari, berdiri di atas kakinya sendiri dan dapat menatap masa depannya dengan penuh keyakinan serta harapan.

Baca Juga:
Memutus Rantai Kecelakaan Kapal

Kebaikan akan kehilangan maknanya, jika tujuan utamanya bukan lagi atas nama kemanusiaan. Kebaikan akan kehilangan kesuciannya ketika tujuan utamanya bukan lagi untuk menolong melainkan hanya untuk mendapatkan pengakuan dari yang lain. Berbuat baik tanpa “tapi” berarti mengembalikan kebaikan kepada hakikatnya: memberi tanpa menjadikan pemberian sebagai alat untuk menguasai dan memanfaatkan orang lain.

Dunia ini sebenarnya tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas dan pintar. Namun, dunia juga sangat membutuhkan manusia yang mau berbuat kebaikan. Kebaikan mungkin tidak dapat menyelesaikan semua persoalan, namun jika tidak ada kebaikan maka akan terjadi kecarut-marutan. Persoalan yang sebetulnya bisa dengan sangat mudah diselesaikan, akan memuncak dan menjadi sebuah konflik. Yang pada akhirnya darah akan tertumpah.

Kita mungkin tidak dapat mengubah dunia. Yang kita mampu adalah kita dapat mengubah suatu keadaan menjadi sedikit lebih baik. Ketika ada kesempatan untuk berbuat baik, segeralah lakukan. Jangan disalip oleh yang lain. Jangan pernah bertanya: nanti aku dapat apa? Jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berbuat kebaikan. Dan terakhir, jangan selalu menambahkan kata “TAPI”

“Majulah bangsaku, Jayalah negeriku!”

*) Erry Himawan merupakan “Pak Guru” di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya untuk Program Studi Manajemen dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). 

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat pada redaksi.