KETIK, MALANG – Perjalanan Ahmad Badrus Sholikhin, menekuni dunia pijat berawal dari pengalaman pribadi. Pria asal Perum Graha Bahagia, Klaster 1 Nomor 14, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, itu mengaku bermula dari anaknya yang mengalami gangguan kesehatan.

Anaknya diketahui mengalami cerebral palsy dan microcephaly sejak lahir. Kondisi tersebut membuat pria 41 tahun itu harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan.

"Tapi perkembangan kondisi anak saya lambat meski sudah mendapatkan penanganan medis," kata dia, Kamis, 5 November 2026.

Sehingga Badrus kemudian mencari ikhtiar lain dengan mencoba terapi fisik dan pijat melalui bantuan sejumlah terapis. Pengalaman tersebut menjadi awal ketertarikannya mempelajari teknik pijat.

Pada tahun 2020, saat pandemi Covid-19, Badrus mulai belajar dari para terapis yang ditemuinya.

Baca Juga:
Soroti Kasus SMKN 4 Malang, Ketua DPRD Desak Perketat SOP Pengawasan

Dari situ, ia mencoba menerapkan ilmu yang didapat untuk melakukan terapi mandiri kepada anaknya di rumah. Seiring berjalannya waktu, terapi pijat tersebut membuat frekuensi kejang atau epilepsi yang dialami anaknya mulai berkurang.

"Awalnya dalam sehari bisa sampai 50 kali kejang. Kemudian berkurang, dari 20 kali terus menurun sampai akhirnya setelah sekitar setahun tidak mengalami epilepsi lagi," ungkap Badrus.

Pengalaman itu semakin mendorong Badrus untuk mendalami dunia pijat. Ia kemudian mengembangkan layanan pijat tradisional dengan sebuah layanan terapi yang berupaya dengan tindakan terapi manual dalam memanipulasi struktur tulang belakang dan sendi beserta penguraian pada otot, tendon ligament syaraf kelenjar hormonal tiroid dan thimus.

Seiring berjalannya waktu, Badrus mulai mengembangkan layanan ke bidang reposisi tulang dan sendi atau yang dikenal dengan istilah kretek. Sebelum mengikuti pelatihan resmi, ia terlebih dahulu membangun usaha dengan merek Kretek Malang.

Baca Juga:
FISIP UB Petakan 14 Langkah Strategis Selamatkan Sentra Apel Pasuruan

Dalam proses belajar, Badrus mengajak gurunya untuk bergabung sebagai terapis. Ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengamati berbagai kasus dan mempelajari teknik penanganan secara langsung.

Kretek Malang dalam layanannya menggunakan terapi yang komprehensif dan menyeluruh didukung dengan tehnik pemijatan khusus, yang mampu menjawab tantangan akan kebutuhan terapi di dunia kesehatan dan terapi holistik komplementer.

Dengan modalitas dan konsentrasi teknik manual, terapi ini menggunakan metode empat langkah, yaitu pelenturan, reposisi, penguraian dan penyelarasan

Setelah sekitar dua bulan belajar dan berlatih, Badrus mengikuti pelatihan resmi Reposisi Tulang Sendi (RTS) yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Kesehatan Swasta Reposisi Tulang Sendi.

Kini, layanan yang dikembangkannya mengombinasikan pijat untuk membantu merilekskan otot dengan teknik reposisi sendi sesuai hasil pemeriksaan.

"Kalau masalahnya di otot, kita rilis ototnya dulu dengan sport massage. Setelah itu baru dilakukan reposisi jika memang diperlukan," jelasnya.

Selain pijat, Badrus juga menggunakan bekam kering untuk membantu merilekskan otot apabila teknik pijat dinilai belum cukup.

Perjalanan Badrus di dunia pijat semakin berkembang ketika pada 2024. Ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Perkumpulan Para Pemijat Penyehatan Indonesia wilayah Kota Malang.

Melalui organisasi tersebut, Badrus ikut menaungi para pemijat dengan berbagai keahlian. Mulai dari pijat tradisional, pijat bayi, hingga teknik pijat dari berbagai negara, seperti Thai massage dari Thailand dan Lomi-lomi dari Hawaii.

"Saat ini jumlah anggota asosiasi pemijat di wilayah Malang mencapai lebih dari 200 orang. Dan organisasi ini merupakan salah satu mitra Kementerian Kesehatan yang berperan dalam mendukung pembinaan dan pengembangan profesi pemijat tradisional," pungkasnya. (*)