KETIK, PACITAN – Komentar miring masyarakat terkait penyelenggaraan Festival Rontek Pacitan (FRP) 2026 di tengah masih banyaknya jalan rusak mendapat tanggapan dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Pacitan.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparbudpora Pacitan, Adetiya Wicaksana Putra, menjelaskan anggaran penyelenggaraan Festival Rontek Pacitan 2026 telah direncanakan sejak awal melalui APBD 2026 dengan nilai sekitar Rp200 juta.
Ia menyebut anggaran festival tidak diambil dari pos pembangunan maupun pemeliharaan jalan, sehingga tidak mengurangi alokasi perbaikan infrastruktur.
"Kalau terkait dengan anggaran, memang teknis pelaksanaan Festival Rontek Pacitan 2026 sudah masuk dalam Anggaran Induk APBD 2026 yang ada di Dinas Pariwisata, kisaran Rp200 juta untuk keseluruhan persiapan," kata Adetiya, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurutnya, anggaran tersebut digunakan untuk mendukung seluruh kebutuhan penyelenggaraan festival, mulai dari penyediaan panggung, sistem suara, pembatas (barrier), konsumsi, hingga kebutuhan sarana dan prasarana lainnya melalui sejumlah vendor sesuai bidang masing-masing.
Baca Juga:
Sasar Pasar dan Pertokoan, 3.440 Batang Rokok Ilegal di Pacitan Disita Petugas"Anggaran itu akan tersebar ke vendor-vendor sesuai segmen yang dibutuhkan untuk keseluruhan penyelenggaraan Festival Rontek Pacitan," ujarnya.
Adetiya menegaskan anggaran tersebut berasal dari pos penyelenggaraan kegiatan di Disparbudpora dan tidak memiliki keterkaitan dengan anggaran pembangunan jalan.
"Pos anggaran yang kami pasang tentunya sesuai perencanaan. Dari awal sampai penetapan APBD memang ditempatkan pada pos penyelenggaraan acara. Jadi tidak mengganggu atau mengurangi pos-pos yang terkait dengan infrastruktur. Di bidang kebudayaan memang tidak ada pos belanja infrastruktur," tegasnya.
Pernyataan itu disampaikan menyusul banyaknya komentar masyarakat di media sosial yang mempertanyakan prioritas pemerintah daerah.
Baca Juga:
Lima Pendamping BSPS di Kabupaten Pacitan Sempat Mau Mengundurkan DiriSejumlah warga menilai anggaran festival seharusnya dialihkan untuk memperbaiki ruas-ruas jalan yang rusak di berbagai wilayah Kabupaten Pacitan.
Menanggapi kritik tersebut, Adetiya meminta masyarakat melihat Festival Rontek Pacitan secara lebih luas, bukan sekadar sebagai kegiatan hiburan tahunan.
"Festival Rontek ini bukan sekadar event tahunan. Dari sini masyarakat bisa terus menggali seni dan budaya rontek. Bahkan saat ini Rontek juga sedang berproses menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2026," katanya.
Ia menilai festival tersebut memiliki fungsi pelestarian budaya sekaligus edukasi bagi generasi muda agar kesenian khas Pacitan tetap terjaga.
"Kami berharap Festival Rontek bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan dan edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda," ujarnya.
Selain aspek budaya, Disparbudpora juga menilai penyelenggaraan festival akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Adetiya, selama tiga hari pelaksanaan pada 17–19 Juli 2026, pemerintah menargetkan meningkatnya kunjungan wisatawan yang berdampak terhadap okupansi hotel, penginapan, hingga omzet pelaku UMKM.
"Kami berharap selama tiga hari pelaksanaan nanti roda perekonomian Kabupaten Pacitan ikut bergerak. Okupansi penginapan meningkat dan UMKM juga mendapatkan dampak positif," jelasnya.
Untuk mengurangi beban APBD, Disparbudpora juga berupaya menggandeng berbagai pihak dalam mendukung pelaksanaan festival.
Salah satunya melalui kerja sama dengan Bank Indonesia untuk mendukung pelaksanaan Pasar Krempyeng yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Rontek.
Selain itu, Festival Rontek Pacitan kembali masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, sehingga dinilai menjadi ajang promosi daerah di tingkat nasional.
"Festival Rontek bukan hanya menghabiskan anggaran. Ini menjadi identitas Kabupaten Pacitan di tingkat nasional karena kembali masuk Karisma Event Nusantara. Harusnya ini menjadi kebanggaan bersama dan mendapat dukungan seluruh elemen masyarakat," ucapnya.
Saat ini panitia juga terus mematangkan persiapan penyelenggaraan.
Disparbudpora telah melakukan monitoring kepada seluruh peserta, baik kategori umum maupun pelajar, menyiapkan kebutuhan sarana dan prasarana, berkoordinasi dengan dewan juri, hingga menggelar rapat lintas instansi bersama unsur keamanan dan organisasi perangkat daerah.
Adetiya berharap masyarakat turut mendukung pelaksanaan Festival Rontek Pacitan 2026 karena selain menjadi ruang pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal.
"Kami berharap masyarakat hadir, menyaksikan festival, sekaligus berbelanja di UMKM yang ikut meramaikan acara. Semoga Festival Rontek 2026 tetap eksis, semakin berkembang, dan memberi manfaat bagi masyarakat Pacitan," pungkasnya.(*)