KETIK, SITUBONDO – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank BTN bersama Pemerintah Kabupaten Situbondo meresmikan program Waste Station sebagai bentuk komitmen menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Rabu, 2 September 2026.

Fasilitas pengelolaan sampah tersebut menjadi Waste Station pertama yang dihadirkan Bank BTN sekaligus yang pertama diresmikan di Kabupaten Situbondo.

Program ini diharapkan tidak hanya membantu pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Kepala Kantor Wilayah Jatim, Bali dan Nusra Bank BTN Bagus Hendri Setiawan mengatakan, program tersebut merupakan wujud nyata peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang tidak hanya bergerak di sektor perbankan dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, BUMN juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Baca Juga:
Bupati Situbondo Minta Distribusi Air Bersih Ditambah dan Pemkab Siapkan Sumur Bor

“Melalui program ini, Bank BTN berharap dapat membangun kesadaran serta budaya pengelolaan sampah yang lebih baik, khususnya dalam memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” kata Bagus Hendri Setiawan.

Bagus juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Situbondo atas kolaborasi yang memungkinkan program Waste Station tersebut terealisasi.

Ia berharap fasilitas itu menjadi titik awal kerja sama yang lebih luas antara Bank BTN, Pemkab Situbondo, pemangku kepentingan, dan masyarakat.

Selain penyediaan fasilitas, program tersebut dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang dalam sektor lingkungan, pemberdayaan masyarakat hingga pendidikan.

Baca Juga:
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Situbondo, OJK Paparkan Tiga Gagasan Strategis

“Bank BTN juga berharap fasilitas Waste Station ini dapat dirawat, dimanfaatkan, dan dikembangkan secara berkesinambungan oleh masyarakat Situbondo demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Situbondo Rio Wahyu Prayogo mengatakan, pengelolaan sampah sebenarnya telah memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satunya melalui pengolahan sampah dapur menjadi pupuk organik.

Menurut Rio, penggunaan pupuk organik dari sampah dapur menunjukkan hasil positif terhadap produktivitas pertanian.

Ia mencontohkan hasil panen yang sebelumnya mencapai enam ton per hektare meningkat menjadi 9,1 ton per hektare setelah menggunakan pupuk tersebut.

“Setelah menggunakan pupuk organik yang terbuat dari sampah dapur, dalam satu hektar yang tadinya panen 6 ton dalam 1 hektar, tapi setelah pakai pupuk sampah panennya menjadi 9,1 ton,” kata Rio.

Namun, Rio menilai persoalan sampah di Situbondo masih menjadi tantangan besar.

Volume sampah yang terus meningkat membuat kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Apalagi kita punya TPA yang kondisinya di tahun 2027 mendatang sudah semakin padat,” ujarnya.

Menurut Rio, sampah dari wilayah barat hingga timur Situbondo saat ini bertemu di satu lokasi TPA. Kondisi tersebut membuat timbunan sampah di TPA semakin menggunung.

Untuk mengurangi beban TPA, Pemkab Situbondo telah menginisiasi pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di tiga titik.

Pemerintah daerah juga menganggarkan pengadaan mobil sampah untuk mendukung pengelolaan sampah.

Meski demikian, Rio menegaskan bahwa pembangunan fasilitas pengelolaan sampah tidak akan cukup tanpa perubahan perilaku masyarakat.

“Waste Station jika dibikin 1.000, tidak cukup kalau mentalnya masih buang sampah sembarangan,” tegasnya.

Menurut Rio, persoalan sampah bukan hanya menyangkut seberapa besar kinerja pemerintah atau banyaknya relawan yang peduli terhadap lingkungan.

Persoalan tersebut juga berkaitan erat dengan mentalitas masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Ia mendorong masyarakat Situbondo mengubah pola pikir lama dan mulai membangun kebiasaan baru, termasuk dalam menjaga lingkungan.

“Tidak hanya soal sampah yang diurusi Pemkab Situbondo, tapi kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan lain-lain. Makanya kalau mau naik kelas, ya harus merubah mindset-nya. Mindset yang lama, yang lampau harus ditinggalkan. Kita bergeser mindset yang baru,” pungkas Rio.(*)