KETIK, GRESIK – Sebanyak 34 persen wisudawan Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Ke-10 Gresik telah bekerja sebelum resmi menyandang gelar kelulusan.
Capaian ini menjadi bukti bahwa kurikulum berbasis praktik, sertifikasi profesi, dan pengalaman magang yang diterapkan kampus mampu membekali mahasiswa menghadapi kebutuhan dunia industri.
Hal tersebut terungkap dalam prosesi wisuda UISI ke-10 yang digelar di Hotel Aston Gresik, Sabtu, 3 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, UISI meluluskan 346 mahasiswa, terdiri dari 331 wisudawan program Sarjana (S1) dan 15 wisudawan Magister (S2).
Dari total wisudawan tersebut, sebanyak 259 mahasiswa berhasil meraih predikat cumlaude. Selain itu, 191 lulusan telah mengantongi sertifikasi profesi sebagai bukti kompetensi yang dimiliki selama menjalani perkuliahan.
Rektor UISI, Dr. Eka Ananta Sidharta, mengatakan, wisuda kali ini menjadi momentum penting dalam perkembangan kampus karena untuk pertama kalinya UISI meluluskan mahasiswa program Magister.
Baca Juga:
Dugaan Pembunuhan di Toko Bangunan Menganti Gresik, Polisi Amankan Seorang Perempuan“Wisuda kali ini kami mewisuda mahasiswa Magister, ini menjadi salah satu capaian penting dalam perkembangan UISI,” kata Eka.
Ia menjelaskan, keberhasilan mahasiswa mendapatkan pekerjaan sebelum wisuda tidak lepas dari pembekalan kompetensi selama menjalani perkuliahan.
Selain ilmu akademik, mahasiswa juga diwajibkan mengikuti sertifikasi profesi dan sertifikasi bahasa asing agar keahliannya diakui serta relevan dengan kebutuhan industri.
Baca Juga:
Hari Batik Nasional 2026, Gressmall Gresik Ajak Masyarakat Membatik Bersama“Ini menjadi bekal bagi lulusan agar lebih mudah masuk ke dunia kerja. Kami tidak hanya melihat IPK, tetapi juga kompetensi yang dimiliki mahasiswa,” ujarnya.
Eka menambahkan, pengetahuan yang diperoleh selama kuliah juga berperan dalam membentuk karakter, kemampuan berinovasi, serta kesiapan mahasiswa menghadapi persaingan kerja.
Hal itu didukung oleh tenaga pengajar UISI yang mayoritas telah bergelar doktor, baik lulusan perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.
“Sebagian besar lulusan UISI yang baru wisuda sudah bekerja dan ada yang sebelum lulus sudah bekerja dengan menerapkan pengetahuannya di S2 maupun S1. Selain itu, ada program sertifikasi profesi yang diraih selama kuliah, sehingga membuat keahliannya diakui di dunia kerja,” kata Eka.
Sementara itu, Wakil Rektor III UISI, Halim Alfatah, mengungkapkan bahwa kerja sama kampus dengan berbagai lembaga dan perusahaan mengalami peningkatan hingga 221 persen.
Perluasan kemitraan tersebut membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program magang dan memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja.
Para mahasiswa telah menjalani program magang di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, anak perusahaan Semen Indonesia Group, hingga sejumlah perusahaan swasta yang menjadi mitra kampus.
“Kenaikan lembaga yang bekerja sama 221 persen. Sehingga, para mahasiswa bisa magang dan meningkatkan pengetahuan di dunia kerja. Termasuk ada yang sudah bekerja di Semen Indonesia dan anak usaha Semen Indonesia Grup,” ujar Halim.
Ke depan, UISI juga berencana memperkuat sarana dan prasarana perkuliahan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa sekaligus menunjang kegiatan praktikum.
Eka menyebut sekitar 60 persen proses pendidikan di UISI berbasis praktik. Karena itu, penambahan fasilitas menjadi salah satu prioritas kampus untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih optimal dan sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kita akan menambah sarana prasarana agar bisa menambah mahasiswa dan bisa menambah tempat untuk praktik bagi mahasiswa. Karena 60 persen pendidikan berbasis praktik,” jelasnya.
Selain penguatan fasilitas, UISI juga menyiapkan pengembangan pembelajaran bahasa asing, khususnya Bahasa Mandarin. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab perkembangan industri dan kebutuhan komunikasi lintas negara.
Eka mengungkapkan, rencana tersebut muncul setelah berdiskusi dengan Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, selaku Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurutnya, penguasaan Bahasa Mandarin diharapkan menjadi bekal tambahan bagi mahasiswa untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan tenaga kerja asing di lingkungan industri.
Melalui penguatan kompetensi akademik, sertifikasi profesi, pengalaman magang, serta penguasaan bahasa asing, UISI berharap mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga siap bersaing dan menjawab kebutuhan industri.
Prosesi wisuda tersebut turut dihadiri Wakil Rektor I Dr. Eng. Ufafa Anggarini dan Wakil Rektor II Dr. Winda Narulidea, bersama jajaran pimpinan UISI lainnya.(*)