KETIK, SIDOARJO – Sudah 20 tahun lumpur panas Sidoarjo menjadi tragedi panjang. Sejak Kamis, 29 Mei 2006, hingga Jumat, 29 Mei 2026, hari ini. Puluhan ribu jiwa menderita. Belasan ribu rumah tenggelam. Ribuan duka juga masih membekas. Salah satunya tragedi ledakan pipa gas di jalan tol. Korban berjatuhan.

Rabu malam nan kelam (22 November 2006). Sekitar pukul 20.00 malam itu, ketenangan warga Sidoarjo terkoyak-koyak. Suara ledakan bak rudal menghentak kawasan semburan lumpur. Lokasi ledakan dahsyat itu terlacak dari pancaran apinya yang menjulang ke angkasa. Api berkobar. Terlihat sampai dari Kota Surabaya.

Kobaran api yang meninggi itu berasal dari Jalan Tol Porong--Gempol. Tepatnya, sekitar Kilometer (KM) 38.200 jalur Gempol—Porong. Pipa gas Pertamina meledak akibat subsiden (penurunan tanah). Pipa gas itu ternyata tertanam di bawah tanggul lumpur.

Malam itu saya sedang mengetik berita di Graha Pena, Surabaya. Tanpa dikomando siapa pun, langsung saja saya bergegas menuju lokasi. Toyota Starlet Putih Tahun 1991 melesat dari pintu tol Waru. Harus sampai secepatnya. Sekitar 30-an menit.

Tim search and rescue (SAR) menyiapkan pencarian korban ledakan pipa gas di jalan tol Porong--Gempol pada Rabu malam (22 November 2026). (Foto: Dokumen Fathur Roziq)

Baca Juga:
20 Tahun Lumpur Panas Sidoarjo; Pernah Jadi Fobia sampai Properti pun Tak Berharga (2)

Sayangnya tidak beruntung. Saya cuma sampai di barat Jembatan Tol Porong (sekarang disebut tol buntung karena tingginya sisa separo). Keadaan masih kacau. Banyak mobil maupun kedaraan lain berbalik arah. Sopirnya ketakutan.

Saya pilih berhenti. Kemudian berlari mendekati lokasi ledakan. Tapi, saya dihentikan oleh petugas polisi dan tentara. Suasana gelap gulita. Sulit mengukur mana titik yang berbahaya atau yang aman. Seingat saya, di sana ada Kapolres Sidoarjo (waktu itu) AKBP Utomo Heru Cahyono.

”Jangan masuk dulu, Mas. Kondisinya tidak pasti,” tutur seorang petugas polisi di lokasi. Sudah 20 tahun lumpur panas Sidoarjo ini terjadi. Saya mengingatnya.

Dari Ketua Pelaksana Harian Timnas Penanggulangan Lumpur Basuki Hadimulyono, informasi untuk tulisan bisa segera saya peroleh. Informsi saya sampaikan melalui telepon untuk diketik menjadi berita di Graha Pena.

Baca Juga:
20 Tahun Lumpur Panas Sidoarjo, Pelajaran tentang Pentingnya Terbuka kepada Rakyat (1)

Apa saja? Jebolan tanggul begitu dalam, sampai 2 meter di bawah tanah. Tanggul itu terangkat dan hancur. Panjangnya 1 meter dengan lebar 6 meteran. Dampak ledakan luar biasa. Semburan api dari pipas gas membakar apa saja di sekelilingnya. Berikutnya, lumpur panas dengan tekanan kuat meluap ke wilayah Kedungbendo, Kecamatan Tanggulanggin. Posisinya di seberang jalan tol.

Yang mengerikan, 7 orang ditemukan meninggal, 11 orang luka berat, 3 luka ringan, dan 7 lainnya masih dinyatakan hilang. Mereka adalah perwira TNI, bintara polisi, pekerja proyek, pegawai Jasa Marga, maupun PT Adi Karya. Salah satunya, Bripka Slamet, yang sering jadi teman saya mengobrol di jalan tol selama terjadinya semburan lumpur ini. Dia anggota PJR Tol Jatim 1. Kasihan sekali.

Selain itu, Kapten Afandi (Danramil Balongbendo) dan Kapten Hendro (Danramil Taman) juga dikabarkan meninggal di lokasi.  Informasi tersebut saya dengar langsung dari seksi intelijen TNI. Kodim 0816/Sidoarjo pun mengibarkan bendera setengah tiang. Sejak saat itu hingga 20 tahun lumpur panas Sidoarjo, Jalan Tol Porong-Gempol tidak dibuka lagi.

Sekitar pukul 22.00, datanglah Wakil Bupati Sidoarjo Saiful Ilah (Abah Ipul). Bersama beberapa kepala dinas, orang Timnas Lumpur, dan Lapindo. Mereka mendekat ke lokasi ledakan dengan penerangan terbatas.

Satu per satu korban dievakuasi ke beberapa rumah sakit. RS Bhayangkara Porong, RSUD Sidoarjo, dan beberapa rumah sakit lain. Abah Ipul menyaksikan evakuasi itu dengan sedih. Semua kepala tertunduk. Hingga tengah malam saya berada tak jauh dari lokasi ledakan.

Esok hari pun saya kembali lagi ke lokasi. Saya ditelepon bahwa ada beberapa pemuda pencinta alam mendatangi lokasi ledakan. Untuk apa? Ternyata mereka mencari jenazah. Caranya yang tidak lazim. Dua atau tiga orang duduk-duduk, diam, sambil merokok. Rambut gondrong-gondrong.

”Di situ. Coba di sana,” ujar salah satu di antaranya.

Benar saja. Rekan mereka mendayung rakit dan menemukan sesosok mayat dalam kubangan lumpur. Diangkatlah jenazah itu. Entah berapa jenazah yang berhasil mereka dapatkan dengan metode unik ini.

Informasinya, masih ada korban yang hingga kini belum ditemukan pasca ledakan pipa gas itu. Konon, pekerja proyek urukan, sopir eksavator, dan lain-lain tenggelam bersama peralatan kerja mereka.

Kondisi ruas Jalan Tol Porong--Gempol sebelum ledakan pipa gas. Setelah ledakan, ruas jalan tol itu tenggelam. (Foto: Dokumen Fathur Roziq)

Saya sendiri tidak berhenti bersyukur. Sudah 20 tahun lumpur panas Sidoarjo terjadi, saya dijaga dan diberi keselamatan oleh Allah SWT selama melakukan liputan. Termasuk, terhindar dari bencana ledakan itu.

Mengapa? Beberapa jam sebelum ledakan, saya mengantar seorang jenderal dan ajudannya dari Jakarta mendekati pusat semburan. Berseragam dan bertopi. Mobil sedan hitam diparkir di sekitar lokasi ledakan pipa.

Posisinya di dalam jalan tol. Arah timur flyover penghubung Kelurahan Siring di Porong dan Desa Kedungbendo di Tanggulangin. Saya dan jenderal itu turun menjelang Maghrib. Waktu itu saya belum sempat bertanya banyak. Ditelepon, disuruh menemani, lalu dipamiti pulang. 

Dari mana mereka dapat nomor telepon saya? Entah dari mana mereka tahu nama dan nomor telepon saya. Banyak sekali yang mengontak selama meliputi tragedi lumpur ini. Ada ahli geologi, wartawan Jepang, dan akademisi dari Belgia, bahkan dukun serta paranormal tidak jelas. Salah satunya paranormal dari Gresik yang bilang seperti ini.

”Insya Allah Mas Rozi. Semburan lumpur cepat mandek. Saya sudah masukkan kepala sapi di situ buat sesajen.”

Sekarang sudah 20 tahun lumpur panas Sidoarjo menyembur. Faktanya semburan lumpur panas belum berhenti. (bersambung)