KETIK, JAKARTA – Setelah operasional haji secara resmi dinyatakan rampung, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) langsung menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M.
Hal ini dilakukan sebagai momentum krusial untuk mengonsolidasikan strategi pelayanan yang semakin berkualitas.
Rakernas bertema "Berbenah tanpa Henti, Menghadirkan Layanan Haji yang Humanis, Profesional, dan Adaptif" ini dibuka di Lapangan Galaxy Makodam Jaya, Halim, Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026.
Sebanyak 967 peserta yang merupakan ujung tombak petugas haji dari tingkat pusat hingga daerah menghadiri evaluasi akbar tersebut.
Dalam acara tersebut, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy, mengapresiasi tinggi kinerja Kemenhaj dalam mengawal masa transisi penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Baca Juga:
Gubernur Khofifah: Embarkasi Baru di Bandara Dhoho Dioperasikan Mulai 2027, Layani Jemaah Haji asal 15 Daerah di JatimMenurut Muhadjir, tahun pertama masa transisi ini telah menunjukkan langkah-langkah kebijakan yang tepat dan menjadi fondasi penting bagi penguatan tata kelola haji nasional ke depan.
"Ini adalah tahun pertama proses transisi. Saya kira kita semua dapat menyaksikan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil sudah berada di jalur yang tepat. Lompatan yang dilakukan pada masa transisi ini juga sudah sangat baik, termasuk upaya membangun ekosistem penyelenggaraan haji yang lebih terintegrasi," ujar Muhadjir di Jakarta, Sabtu.
Selain itu, Muhadjir menegaskan bahwa pembangunan ekosistem haji menjadi langkah strategis agar pengelolaan ibadah tahunan ini memiliki sistem yang kuat, berkelanjutan, dan adaptif.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas kepemimpinan serta sinergi kokoh yang dibangun oleh Menteri Haji dan Umrah serta Wakil Menteri Haji dan Umrah bersama seluruh jajaran.
Baca Juga:
Sambut Kepulangan Haji Kloter Terakhir Debarkasi Surabaya, Gubernur Khofifah Sapa Jemaah Tertua dan Apresiasi Keteguhan Ibadah Nenek Raminten"Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Haji dan Umrah beserta Wakil Menteri Haji dan Umrah atas kerja sama yang luar biasa. Kolaborasi yang dibangun telah menjadi modal penting dalam mengawal proses transisi sekaligus meningkatkan kualitas layanan haji bagi masyarakat," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemenhaj, Teguh Dwi Nugroho, menegaskan bahwa seluruh hasil evaluasi musim haji tahun ini akan menjadi pijakan utama bagi perbaikan layanan pada masa mendatang.
"Rakernas ini bukan sekadar forum evaluasi, tetapi ruang bersama untuk membangun ekosistem penyelenggaraan ibadah haji yang semakin kuat. Setiap tantangan yang kita temui, mulai dari tahap persiapan, operasional di Arab Saudi, hingga proses pemulangan jemaah, harus kita jadikan pelajaran untuk menghadirkan layanan yang semakin profesional, cepat, adaptif, dan humanis," ujar Teguh saat membuka acara.
Penguatan pembinaan jemaah, peningkatan kompetensi petugas, serta mitigasi pada setiap tahapan penyelenggaraan menjadi fokus utama evaluasi ibadah haji 1447 H/2026 M.
Hal itu merupakan bagian dari transformasi penyelenggaraan haji yang tengah dijalankan Kemenhaj untuk menghadirkan layanan yang semakin humanis, profesional, adaptif, dan berorientasi pada kepuasan jemaah.
Pada acara yang sama, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, mengatakan evaluasi dilakukan secara komprehensif agar setiap perbaikan yang dilakukan mampu menjawab kebutuhan jemaah sekaligus memperkuat kualitas penyelenggaraan haji pada tahun-tahun mendatang.
"Setiap tahapan penyelenggaraan haji kami evaluasi secara komprehensif. Pengalaman di lapangan dan data yang terkumpul menjadi landasan utama dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan kualitas layanan kepada jemaah," ujar Puji.
Sebagai tindak lanjut hasil evaluasi, Ditjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) menyiapkan sejumlah strategi mitigasi, di antaranya penguatan pembinaan manasik yang lebih terintegrasi, peningkatan kompetensi petugas, penyempurnaan layanan pada fase Armuzna, perbaikan tata kelola logistik, serta penguatan pelayanan bagi jemaah berkebutuhan khusus, termasuk pelaksanaan safari wukuf dan badal haji. Seluruh langkah tersebut dirancang untuk menghadirkan pelayanan yang lebih efektif, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan jemaah.
Bagi Kemenhaj, evaluasi bukan sekadar mengukur capaian penyelenggaraan, tetapi menjadi fondasi dalam membangun tata kelola haji yang modern, adaptif, dan berkelanjutan. Seluruh rekomendasi yang dihasilkan dalam Rakernas akan ditindaklanjuti menjadi rencana aksi yang implementatif sebagai bagian dari penguatan sistem penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.
"Kesempurnaan pelayanan jemaah tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari mitigasi sistemik yang terencana dan tepat. Seluruh rekomendasi yang dihasilkan akan menjadi pijakan dalam menyusun kebijakan dan langkah strategis menuju penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M yang semakin berkualitas, efektif, dan berorientasi pada kepuasan jemaah," pungkasnya.