KETIK, BATAM – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, memulai penataan wajah Kota Batam dengan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V, Jumat, 10 Juli 2026.
Prosesi peletakan batu pertama tersebut turut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, jajaran Anggota dan Deputi BP Batam, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batam, serta pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam.
Bundaran yang berada di ruas jalan menuju Bandara Internasional Hang Nadim itu menjadi bagian dari program penataan ruang yang bertujuan menghadirkan wajah Kota Batam yang lebih indah, bersih, dan tertata. Ke depan, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu ikon baru yang menyambut wisatawan maupun investor yang datang ke Batam.
Amsakar Achmad mengatakan, penataan kawasan perkotaan merupakan agenda penting yang terus didorong pemerintah untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat identitas daerah.
Menurutnya, Presiden Republik Indonesia berulang kali mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, dan keteraturan kota sebagai cerminan kemajuan suatu daerah.
Baca Juga:
Sampaikan Rancangan KUA/PPAS APBD 2027, Wali Kota Proyeksikan Anggaran Belanja Rp4,6 T"Presiden berulang kali mengingatkan agar kabupaten dan kota dirawat dengan baik. Jangan sampai kumuh, semrawut, dipenuhi reklame yang tidak tertata ataupun kabel yang mengganggu estetika kota. Karena itu, kemarin ada gerakan Indonesia Asri dan di Batam kita laksanakan melalui gerakan Batam Asri," ujar Amsakar.
Ia menjelaskan, pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan menjadi langkah awal penataan taman dan bundaran di sejumlah titik strategis Kota Batam.
"Untuk menjadikan kota ini indah dan bagus, salah satu ikhtiar kita adalah menata taman dan bundaran yang ada di Batam agar memiliki desain yang mencerminkan identitas daerah. Hari ini kita sedang membangun sejarah baru bagi Kota Batam," katanya.
Menariknya, pembangunan bundaran tersebut tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun anggaran BP Batam. Proyek itu direalisasikan melalui kolaborasi dengan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Uma Graha Berkah.
Baca Juga:
DPRD Kota Batam Sahkan Perda Pertanggungjawaban APBD 2025, Banggar Soroti Retribusi dan Belanja PegawaiAmsakar mengapresiasi dukungan kalangan dunia usaha yang turut berpartisipasi dalam mempercantik wajah Kota Batam melalui skema kolaborasi tersebut.
Selain itu, BP Batam juga melibatkan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam dalam penyusunan konsep pembangunan, mulai dari penamaan hingga penyempurnaan desain arsitektur.
Melalui proses tersebut, nama bundaran yang semula direncanakan sebagai Bundaran Hang Nadim akhirnya disepakati menjadi Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh penting dalam sejarah Kepulauan Riau.
Menurut Amsakar, penamaan tersebut menjadi simbol komitmen pemerintah dalam memadukan pembangunan modern dengan pelestarian sejarah dan budaya Melayu.
Dari sisi desain, tugu bundaran mengadopsi bentuk tanjak, penutup kepala tradisional Melayu yang melambangkan kehormatan, kewibawaan, dan jati diri masyarakat Melayu. Sementara ornamen tepak sirih turut dihadirkan sebagai simbol penyambutan tamu yang mencerminkan keramahan budaya Melayu.
"Kita ingin semangat historis tetap hidup, namun pada saat yang sama Batam harus terus melangkah menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan jati diri negerinya. Inilah yang ingin kita hadirkan melalui Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan," jelasnya.
Melalui program penataan tersebut, BP Batam berharap Kota Batam semakin memperkuat posisinya sebagai bandar madani yang inovatif, berkelanjutan, dan berbudaya, sekaligus menjadi destinasi unggulan bagi investasi, perdagangan, dan pariwisata di Indonesia.(*)